Home » Artikel

Ulat Daun Jambu Mete Penghasil Sutra Emas

8 June 2011 2,275 views No Comment

KITA umumnya lebih mengenal Bombyx mori sebagai penghasil benang sutra alam. Ini merupakan ulat sutra impor yang yang dibudidayakan di Indonesia. Tetapi sekarang, dari kekayaan sumber hayati kita, ada jenis ulat sutra alam, yaitu Cricula trinfenestrata.

Spisies ini sering dikategorikan sebagai ulat sutra liar atau wild silk. Kokonnya bisa dimanfaatkan untuk pembuatan benang sutra dengan warna keemasan. Itulah sebabnya, Cricula disebut pula ulat sutra emas. Selain itu, kokonnya merupakan bahan baku untuk pembuatan aneka aksesori yang indah dan eksotis.

Ulat sutra emas ini mudah ditemukan di Jatiroto dan Jatisrono, Wonogiri yang banyak memiliki tanaman jambu mete. Namun nilai ekonomi Cricula yang disebut juga ulat kipat, ulat kanari, atau ulat daun jambu, bagi masyarakat setempat baru sebatas mengambil kepompong  untuk dikonsumsi. Memang rasanya enak dan mengandung protein tinggi, yaitu 58,34%, serta mengandung lemak sekitar 0,7% pada berat kering. Kepompong disangrai atau digoreng, lalu dimakan sebagai lauk. Ada pula yang melubangi salah satu ujung kepompong untuk mengambil cairan seperti kuning telur untuk diolah seperti membuat telur dadar. Tetapi kulit kokon yang merupakan serat sutra, yang bernilai ekonomi tinggi, dibuang karena mereka belum mengetahui manfaatnya.

Hama atau Sumber Daya?

Ulat Cricula merupakan hama utama pada tanaman jambu mete. Munaan (1986), mengatakan bila jambu mete kehilangan daun sampai 50 % akibat serangan Cricula, jumlah putik jambu mete menurun 37 %, tetapi bila kehilangan daun sampai 100% atau gundul, tanaman tidak akan menghasilkan putik dan kondisinya baru akan pulih 18 bulan kemudian.

Tak heran bila ulat tersebut menjadi hama utama di perkebunan jambu mete. Pada tanaman jambu mete, ulat biasanya muncul pada awal musim hujan. Ketika populasi ulat sangat tinggi, mereka mampu memakan habis seluruh daun tanaman. Pohon menjadi gundul dan tersisa hanya ranting serta tulang-tulang daun, tetapi tanaman tidak mati.

Kokon itulah yang diambil untuk diproses lebih lanjut sebagai bahan baku pemintalan benang sutra emas. Kokon memiliki struktur yang terdiri atas serabut serat, kulit kokon yang menghasilkan benang sutra, dan kulit kepompong. Bagian yang diambil dan diolah lebih lanjut dalam pemintalan benang adalah kulit kokon.

Dengan demikian, Cricula pada fase kepompong yang membentuk kokon menjadi sumber daya yang bisa dimanfaatkan lebih lanjut untuk pembuatan benang sutra emas atau perhiasan/aksesori dengan bahan baku utama dari kokon tersebut.

Benang Sutra Emas

Kokon yang dipanen dari alam, sebaiknya yang sudah keluar ngengatnya, sehingga terjaga kelestariannya.  Jika ujung kokon terbuka, berarti ngengat sudah keluar. Jika ujung kokon rapat, berarti ngengat masih dalam kepompong. Kokon yang dipanen dibersihkan dari ranting, tulang daun, atau daun tersebut, sehingga kualitas benang sutra yang dihasilkan bagus.

Pekerjaan berikutnya adalah membuang cangkang kepompong yang berada di dalam kokon dengan menggunakan gunting atau cutter. Jangan menyobek dengan jari tangan karena akan lebih banyak merusak serat sutra.

Kokon yang sudah bersih, dikumpulkan dan diurai terlebih dahulu dengan cara direbus. Perebusan ini akan melarutkan serisin yang merupakan penyusun lapisan luar serat sutra. Serisin inilah yang berfungsi sebagai perekat, sehingga serat-serat sutra bisa menempel satu sama lain.

Kokon direbus dalam larutan air sabun. Sabun yang digunakan adalah sabun batangan. Satu sabun batangan dilarutkan dalam 6 liter air, kemudian dipanaskan. Setelah mendidih, kokon baru dimasukkan dan direbus kurang lebih selama 1 jam. Setelah itu, kokon diangkat, ditiriskan, dan dicuci dengan air. Pada saat dicuci, serat kokon ditarik-tarik sehingga membentuk gumpalan seperti kapas atau bulu domba. Gumpalan serat sutra ini kemudian dijemur hingga kering. Gumpalan serat sutra yang telah kering siap dipintal menjadi benang.

Pemintalan serat sutra emas Cricula dilakukan dengan menyejajarkan serat-serat sutra menjadi satu ukuran tertentu kemudian dipilin agar serat-seratnya tidak terlepas. Cara demikian dilakukan karena serat sutra emas Cricula tersusun dari serat-serat pendek.

Pemintalan serat sutra emas menjadi benang dikerjakan dengan menggunakan alat pemintal yang disebut jantra. Pada alat ini dipasang sebuah dinamo yang memutar streng, sehingga sumbu pemintal ikut berputar. Ujung serat dari gumpalan serat sutra emas dipilin dan diikat pada alat pintal. Kemudian, tangan kiri menarik perlahan-lahan pilinan tersebut menjauhi alat pemintal untuk mendapatkan ukuran benang yang dikehendaki. Dengan menarik serat-serat tersebut, akan didapatkan satu untaian pilinan benang yang bersambungan menjadi gulungan benang yang panjang. Inilah benang pintal sutra emas yang tersusun dari serat-serat sutra emas yang pendek. Dalam proses pemintalan tersebut, 6 kg kokon sutra emas bisa menghasilkan 1 kg benang. Nilai ekonomi benang sutera emas sangat tinggi bisa mencapai Rp 1 juta/kg. (24)

—Norbertus Kaleka, pemerhati lingkungan dan penulis buku Sutra Emas

Sumber: Suara Merdeka, 6 Juni 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.