Home » Berita

Tangki untuk Meminimalkan Kebakaran

6 April 2011 844 views No Comment

Memadamkan Api Kilang Minyak

Dahsyatnya kebakaran tiga tangki di kilang minyak PT Pertamina Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, dapat dikurangi jika tangki yang digunakan beratap mengambang (floating roof). Namun, tangki yang lebih aman dari kebakaran ini harganya jauh lebih mahal dibandingkan yang saat ini digunakan Pertamina.

Untuk menyimpan bahan bakar hidrokarbon, model tangki beratap mengambang lebih disarankan daripada tangki beratap tetap (fixed roof). Dengan model ini, atap tangki akan naik turun mengikuti ketinggian bahan bakar yang tersimpan di dalamnya.

Dengan tangki atap mengambang, salah satu dari tiga unsur segitiga kebakaran, yaitu uap bahan bakar, dapat ditekan. Karena uap bahan bakar tidak ada, meski dua unsur lainnya ada, yaitu oksigen dan pemicu api, kebakaran tak akan terjadi.

Pada tangki dengan atap tetap, ruang kosong antara permukaan bahan bakar dan atap tangki akan terisi uap bahan bakar. Jika uap bersentuhan dengan udara, hanya menunggu ada pemicu untuk menimbulkan kebakaran.

Konsultan Kebakaran dan Keselamatan, A Yuliandi Bachtiar, saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (5/4), mengatakan, penggunaan tangki dengan atap mengambang menjadi acuan kilang minyak yang menggunakan standar Inggris.

Dari pengalaman Yuliandi, kebakaran yang terjadi pada tangki atap mengambang umumnya dipicu kebocoran sambungan (seal) pada atap. Namun, proses pemadamannya sangat sederhana karena sumber apinya kecil dan uap bahan bakar dapat dibatasi.

”Memang biayanya lebih mahal. Namun, kalau terjadi kebakaran, biaya untuk memadamkan api pada fixed roof dan biaya sosialnya jauh lebih besar,” kata Yuliandi.

Kesiapsiagaan

Guru Besar Teknik Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, Rudi Rubiandini, menyatakan, kebakaran di kilang Cilacap dapat dipicu oleh faktor alami karena petir atau kesalahan manusia yang tidak disengaja maupun disengaja. Apa pun penyebabnya, saat kebakaran terjadi, petugas dan sistem seharusnya sudah siap siaga.

”Prinsipnya, jika terjadi ledakan atau kebakaran pada salah satu tangki kilang minyak, tangki lain tidak boleh ikut terbakar,” katanya.

Namun, prinsip dasar itu ternyata tidak terjadi. Kebakaran yang terjadi pada tangki 31 T-2 pada Sabtu (2/4) merambat cepat ke dua tangki lain. Hal itu berarti terjadi kegagalan dalam menangani sumber kebakaran.

Saat kebakaran terjadi, ujar Rudi, busa seharusnya menyemprot otomatis dari wadahnya. Busa ini akan memisahkan bahan bakar dengan oksigen sehingga api dapat dikendalikan.

Pada saat bersamaan, temperatur tangki di sebelah tangki yang terbakar harus dijaga agar lebih dingin dibandingkan temperatur flash point (titik nyala), yaitu titik temperatur yang dapat membuat bahan bakar itu meledak atau terbakar sendiri. Jika temperatur tangki lebih tinggi dibandingkan flash point, tangki akan terbakar sendiri.

Melindungi tangki yang belum terbakar dapat dilakukan dengan menyiram air mulai dari bagian atas tangki atau yang disebut tirai air. Untuk mendinginkan, jumlah air harus mencukupi.

Namun, penyemprot busa otomatis bisa tidak bekerja jika ia terbakar lebih dulu. Selain itu, semprotan busa otomatis tidak akan bekerja optimal melapisi cairan bahan bakar yang ada jika kuantitas dan kualitasnya tidak terpelihara.

Penembakan busa (foam gun) hanya berfungsi sebagai penambah busa. Tembakan busa ini tidak bisa dijadikan cara utama karena saat tembakan dilakukan, api sudah menyebar.

Selain itu, Rudi mengatakan, dari pancaran air untuk mendinginkan tangki di Cilacap, terlihat semburan air tidak maksimal. Kondisi ini dapat terjadi jika kekuatan mesin pendorong air lemah. Bisa juga kekuatan mesin maksimal, tetapi tidak dioperasikan secara periodik hingga kinerjanya tidak optimal saat digunakan.

Penembakan busa dengan helikopter dinilai Yuliandi sebagai hal yang berisiko dan tidak pernah digunakan dalam pemadaman tangki kilang minyak sebelumnya. Helikopter memiliki batasan temperatur udara tertentu yang boleh dilewati.

Ketinggian helikopter juga dipastikan terbatas karena jilatan api dari tangki bisa mencapai 100 meter di atas tangki. Meski helikopter berada jauh dari sumber api, rambatan panasnya bisa membahayakan helikopter terkait.

Perbaikan implementasi

Koordinator Indonesia National Fire Protection Association (NFPA) Peter Placidus S Petrus menuturkan, standar NFPA sebenarnya sudah banyak diadopsi dalam Standar Nasional Indonesia, termasuk dalam sistem dan peralatan untuk memadamkan kebakaran kilang minyak. Namun, dalam tender peralatan industri minyak dan gas bumi, standar ini belum digunakan sepenuhnya.

Kondisi tersebut disebabkan keterbatasan pengetahuan dan wawasan pengguna. Padahal, peralatan tersebut memiliki fungsi penting saat kebakaran terjadi.

Yuliandi mengatakan, berdasarkan kejadian yang ada, Pertamina perlu membenahi penataan tangki di kilang minyak. Semakin jauh jarak antartangki, risiko rambatan kebakaran menjadi jauh lebih kecil.

Tangki untuk menampung minyak ringan, seperti komponen pemacu kenaikan gas oktan (HOMC) sebaiknya tidak didekatkan dengan minyak ringan lain, melainkan dengan minyak berat seperti premium dan solar. Jika sama ringan, flash point-nya sama sehingga memudahkan perambatan api.

Selain itu, kemampuan alat, air, maupun busa harus dipastikan selalu tersedia dalam jumlah mencukupi.

Menurut Rudi, Pertamina sebenarnya telah memiliki sistem, prosedur, dan petugas pemadam kebakaran kilang minyak. Namun, karena kurang perawatan, fungsi alat-alat tersebut menjadi tidak optimal dan kebakaran cepat merambat ke tangki lain. [M Zaid Wahyudi]

Sumber: Kompas, 6 April 2011

Share

Leave a comment!

You must be logged in to post a comment.