Home » Berita

SMU Binus Menangi LOreal Girls Science Camp

25 June 2010 1,446 views No Comment
Bangga bisa jadi Juara I,” begitu komentar Queen Sugih Ariyani, perwakilan dari tim SMU Bina Nusantara Serpong setelah memenangi kompetisi L’Oréal Girls Science Camp. SMU Binus menyingkirkan 14 finalis lainnya dari SMU.

”Kemenangan ini tentunya memotivasi kami untuk lebih mencintai sains dan menjadikannya sebagai bagian dari aktivitas keseharian,” lanjut Queen.

Queen bersama Caecilia Sherina dan Katiana Din Doeana membawakan tema penelitian berjudul ”Biogas Goes to School”. Juara I mendapatkan hadiah Rp 5 juta dan koleksi buku sains.

L’Oréal Girls Science Camp 2010 merupakan kompetisi sains bagi remaja putri SMU di seluruh Indonesia yang diselenggarakan setiap tahun oleh L’Oréal Indonesia bekerja sama dengan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO.

Final yang diikuti 15 sekolah ini digelar di Bella Campa, Gadog, Ciawi, Jawa Barat, 22-23 Juni 2010. Para juri merupakan fellow atau para peneliti perempuan Indonesia, pemenang penghargaan L’Oréal-UNESCO For Women in Science.

Jean-Christophe Letellier, Presiden Direktur L’Oréal Indonesia, mengatakan, ”Proposal pembuatan biogas sebagai alternatif sumber energi yang diolah dari sampah rumput, sampah organik, dan sampah kantin di sekolah ini orisinal, aplikatif dan mudah dilakukan oleh umum, tentunya juga relevan dengan tema kami, ’Playing Smart with Energy’.”

Juara 2 dari SMAN 1 Gunung Sindur, dengan proposal mengenai pembuatan briket wangi dari kotoran kerbau, mendapatkan hadiah Rp 4 juta. Juara 3, SMAN 2 Kandangan Kalimantan Selatan, dengan proyek mengenai pengolahan minyak goreng nonkolesterol alami dari limbah perut ikan tauman, mendapat hadiah Rp 3 juta.

L’Oréal Girls Science Camp ini program unik lho. Tampaknya ingin menyampaikan pesan cantik saja tak cukup. Anak muda harus punya visi dan terisi kemampuan dan asah otaknya.

Tiap tahun program ini mengangkat tema yang berbeda-beda seputar sains dan konservasi lingkungan. Tahun ini mengangkat tema ”Playing Smart with Energy”.

L’Oréal Girls Science Camp juga menghadirkan berbagai kegiatan workshop dan pelatihan dengan berbagai topik menarik. Seperti workshop menulis dari Kompas MuDA, Workshop Make Up & Make Over oleh Maybelline, dan Workshop Presentation Skill oleh Nicolas Saputra. (amr)

Presiden Direktur PT LOreal Indonesia Jean-Christophe Letellier berfoto bersama Queen Sugih Ariyani, Katiana Din Doeana, dan Caecilia Sherina dari SMU Bina Nusantara Serpong.

Sumber: Kompas, Jumat, 25 Juni 2010 | 03:52 WIB

—————–
Tiga Siswa SMA Binus Serpong Juara Lomba Peneliti Muda Se-Indonesia

Sulap Sampah Rumput di Sekolah Jadi Biogas

Terinspirasi sampah yang menggunung di sekolah, tiga siswa SMA Bina Nusantara (Binus), Serpong, Banten, menjuarai L’oreal Girls Science Camp (LGSC) 2010. Dalam kompetisi itu, mereka membuat energi alternatif dari sampah rumput. Meski sederhana, penelitiannya membawa banyak manfaat.

NUNGKI KARTIKASARI, Bogor

SAAT panitia menyebut nama SMA Binus sebagai pemenang pertama LGSC 2010, Queen Sugih Ariyani, Katiana Din Doeana, dan Caecilia Sherina, spontan teriak bersamaan. ”Yes!” ujar ketiga siswi kelas XI SMA Binus itu sambil melompat kegirangan.

Mereka benar-benar tak menyangka. Sebab, dalam lomba yang diadakan di Bella Campa, Ciawi, Bogor, pada 22-23 Juni itu, mereka harus bersaing dengan 14 tim peneliti muda dari Kalimantan Selatan, Jogjakarta, dan Jakarta yang menjadi finalis kompetisi tersebut. ”Kami benar-benar tidak menyangka dengan hasil ini,” ujar Queen.

Dalam penelitian berjudul Biogas Goes to School itu, Queen cs sebenarnya hanya melakukan penelitian sederhana. Yakni, mengubah sampah rumput yang menumpuk di belakang sekolah menjadi biogas. Sekolah dengan luas empat hektare itu, kata Queen, memiliki lebih dari satu hektare halaman untuk taman dan lapangan olahraga. Dalam kurun waktu dua minggu, sampah rumput yang dirapikan petugas kebersihan sekolah bisa mencapai 700 kilogram.

”Sebelumnya kami tidak berpikir sejauh itu. Tapi, melihat tumpukan sampah rumput yang menggunung di sekolah, rasanya jadi tergelitik untuk melakukan sesuatu,” terang Queen yang ditunjuk menjadi juru bicara tim Binus.

Dari keprihatinan akan tumpukan sampah dan rasa ingin berbuat sesuatu itulah, Queen, Katiana, dan Caecilia yang sedang mencari objek penelitian mendapatkan ide. Mereka lalu mengumpulkan sampah-sampah organik tersebut.

”Kami mencoba memanfaatkan barang-barang bekas di sekolah. Termasuk pot untuk mengumpulkan sampah rumput yang akan kami jadikan bahan penelitian,” ujar gadis yang bercita-cita menjadi dokter spesialis saraf itu.

Hampir tiga minggu mereka tenggelam dalam penelitian sederhana itu. Awalnya, sampah rumput disiram air tape yang dicampur gula pasir. Komposisinya, 25 liter air bersih, 2,5 kg tape, dan 1 kg gula pasir. ”Setelah itu, sampah yang sudah diberi air tape dan gula pasir kami tutup rapat-rapat dengan plastik hitam. Kami usahakan tidak ada celah untuk udara dan matahari masuk saat proses fermentasi,” tutur siswa yang menyenangi pelajaran matematika dan sains itu.

Katiana menambahkan, proses fermentasi itu berlangsung dua minggu. Selama itu mereka tidak mengutak-utik lagi pot berisi sampah rumput tersebut. ”Yang kami khawatirkan cuma kalau ada tikus atau kucing yang mengoyak tutup pot itu hingga terbuka. Kalau itu sampai terjadi, wah gagal deh penelitian kami,” papar gadis penyuka olahraga basket itu.

Dia menjelaskan, untuk mendapatkan hasil yang representatif, mereka juga melakukan penelitian pembanding. Yakni, menggunakan kompos (sampah nonrumput) yang dicampur air, gula, dan tape dengan takaran yang sama dengan penelitian utama.

”Kami ingin melihat seberapa besar keberhasilan penelitian biogas dari sampah rumput yang kami lakukan. Dengan pembanding itu, kami menjadi tahu apa yang perlu diperbaiki selanjutnya,” tandas gadis yang bercita-cita menjadi ahli geologi itu.

Menurut Katiana, setelah proses fermentasi selesai, mereka mengetes kadar biogas dengan menggunakan pipa yang dimasukkan ke pot penelitian. Baik pot sampah rumput maupun pot kompos. Dari kedua pipa itulah, mereka memantikkan api untuk mengetahui kadar biogas yang dihasilkan.

Hasilnya, jumlah biogas yang dihasilkan dari kompos lebih banyak daripada biogas dari sampah rumput. Hal itu, kata Katiana, terlihat dari besarnya api di ujung pipa. ”Tapi, penelitian dengan kompos pernah dilakukan orang lain. Kalau yang menggunakan sampah rumput, setahu kami belum ada yang meneliti,” ujar Katiana.

Caecilia menambahkan, biogas yang dihasilkan dari 700 kilogram sampah rumput itu bisa mencapai 35 kilogram. ”Hasil pengukuran itu memang masih asumsi kami berdasar literatur yang kami gunakan. Kami belum mengukur dengan rinci berat kilogramnya. Tapi, yang jelas, hasilnya konkret,” papar remaja 16 tahun itu.

Dia berharap, penelitian tersebut dapat dilanjutkan dengan mengukur berat biogas yang dihasilkan dari olahan 700 kilogram sampah rumput. Bila hasilnya 35 kg biogas, Caecilia bersama dua rekannya berencana mengujicobakan biogas tersebut di kantin sekolah mereka. ”Lebih mengirit biaya dan akan memberikan manfaat buat sekolah,” katanya.

Bayangkan, 35 kg biogas itu dama dengan tiga kali elpiji tabung ukuran 12 kg. Bila satu tabung elpiji 12 kg seharga Rp 70 ribu, tiga tabing elpiji berarti Rp 210 ribu. Sementara dalam membuat 35 kg biogas dari sampah rumput itu, mereka hanya mengeluarkan biaya tak lebih dari Rp 20 ribu. Uang itu digunakan untuk membeli gula pasir dan tape. ”Jadi, biogas ini bisa mengirit biaya hingga Rp 190 ribu,” tuturnya.

Caecilia menilai, meski penelitian yang mereka lakukan terbilang sederhana, manfaatnya sangat besar. Tidak hanya itu. Penelitian tersebut bisa dilakukan di setiap sekolah di seluruh Indonesia. Percobaan itu juga mampu menjadi solusi mengatasi tumpukan sampah.

”Jadi, banyak sekali manfaat penelitian yang sederhana ini. Barangkali itulah yang membuat juri memutuskan karya kami yang menang,” kata Caecilia.

Menurut guru pendamping Quenn cs, Maya Anggraeni, penelitian murid-muridnya itu bisa diaplikasikan oleh masyarakat luas. Khususnya bagi warga yang di sekitar rumahnya sering direpotkan dengan rumput liar yang gampang tumbuh.

Dia berharap, penelitian murid-muridnya tersebut dapat dilanjutkan dengan alat pengukuran lebih rinci. ”Semua dikerjakan para siswa. Mulai ide hingga praktiknya. Sekolah hanya memfasilitasi,” ucap guru 32 tahun itu. (*/c4/ari)

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.