Home » Berita, Biologi, konservasi

Sidat, Ikan Panjang Incaran Bangsa Asing

5 June 2016 183 views No Comment

Ikan sidat di Indonesia adalah incaran negara-negara di kawasan Asia Timur. Di sana, kuliner daging ikan bertubuh mirip ular itu populer. Di Indonesia, sidat relatif belum banyak dikenal. Soal data? Minim.

Sejauh ini, riset dan pendataan sidat, termasuk data ekspor-impor dan kelimpahannya di alam, masih minim. Padahal, lebih dari separuh jenis sidat di dunia ada di Indonesia.

Dokumen International Symposium on the Tropical Eel Genus Anguilla: Its Science, Conservation, and Management for Sustainable Use di Aceh, Desember 2015, Indonesia disebut memiliki 12 dari 19 spesies dan subspesies sidat global.

Jenis-jenis di Indonesia, yaitu Anguilla marmorata, A. celebesensis, A. interioris, A. borneensis, A. obscura, A. megastoma, A. reinhardtii, A. luzonensis, A. bicolor bicolor, A. bicolor pacifica, A. nebulosa nebulosa,dan A. nebulosa labiata. Jenis lainnya di dunia adalah A. australis australis, A. australis scmidtii, A. dieffenbachii, A. mossambica, A. anguilla, A. rostrata,dan A. japonica.

Sidat Jepang, A. japonica, sudah terancam punah (endangered) dalam Daftar Merah Spesies Terancam Lembaga Konservasi Dunia (IUCN), dua tahap sebelum berstatus punah di alam liar. Di Eropa, sidat eropa (A. anguilla) berstatus kritis (critically endangered), atau satu tahap sebelum punah di alam liar.

Jadilah sidat-sidat Indonesia yang diyakini masih melimpah, jadi sumber stok pemuas hasrat kuliner asing, terutama Jepang, Korea, dan Tiongkok. “Sejumlah perusahaan asing, dari Korea Selatan dan Jepang, berinvestasi di Indonesia untuk budidaya sidat,” kata peneliti pada Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hagi Yulia Sugeha, Kamis (19/5), di Jakarta.

Ada tiga jenis sidat komersial, yaitu A. bicolor bicolor dari barat Indonesia, A. bicolor pacifica dari timur Indonesia, dan A. marmorata dominan di Indonesia tengah. A. bicolor pacifica digemari orang Jepang karena mirip A. japonica. Adapun A. marmorata disukai negara di Asia Timur karena organ dalam tubuhnya diyakini “obat kuat” dan bisa membuat panjang umur.

Peneliti bidang zoologi LIPI, Haryono, menambahkan, Jepang negara paling memfavoritkan daging sidat ketimbang negara lain. Sekitar 60 persen sidat yang diekspor ke “Negeri Sakura” itu.

Sidat tropis
Yulia yang meneliti sidat sejak 1997 menjelaskan, jenis-jenis sidat di perairan Indonesia tergolong sidat tropis. Jenisnya beda dengan sidat lintang tinggi dan subtropis di daerah lebih dingin, seperti A. anguilla, A. rostrata, dan A. japonica.

Dari tampilan luar, sidat lintang tinggi dan subtropis umumnya biru keabu-abuan dan polos, sedangkan sidat tropis beragam, ada yang polos atau bercorak. Dari ukuran, sidat tropis relatif lebih besar dibandingkan dengan sidat subtropis. Suhu yang relatif stabil membuat nutrisi sidat tropis tersedia sepanjang waktu.

Meski mirip ular, “keikanan” sidat tak diragukan. Bernapas dengan insang atau kulit beberapa saat, seperti saat bersembunyi di celah batu. Siripnya lengkap, tetapi sirip punggung, ekor, hingga sirip dubur bersambung.

e727206d59c148208ebe1415c00cbf54ARSIP HAGI YULIA SUGEHA–Ragam ikan sidat tropis di Indonesia. Lebih dari separuh jenis sidat dunia ada di Indonesia.

Ukuran bervariasi sesuai spesies. Untuk A. marmorata,panjang tubuh rata-rata 1 meter dengan berat 10-12 kilogram. Bahkan, Yulia pernah mendapatkan A. marmorata seberat 14,7 kg. Ada pula sidat berukuran kecil, dengan panjang rata-rata 50 sentimeter seperti A. bicolor.

Sidat dewasa bisa ditemukan di sungai atau danau. Satwa itu bergigi untuk memangsa hewan air tawar, seperti ikan dan udang. Saking rakusnya, sidat bisa memangsa sidat jenis lain jika terpaksa. Umumnya bersifat nokturnal, aktif di malam hari.

Salah satu keunikan sidat adalah memijah di laut. Sidat menghabiskan banyak waktu hidupnya di sungai. Berkebalikan siklus hidup ikan salmon.

Yulia menuturkan, untuk sidat di wilayah tropis, lama tinggal di laut dan sungai bergantung spesies. Rata-rata di laut 3-6 bulan pertama, setelah itu hidup di sungai 9-10 tahun. Namun, pengamatan rinci baru pada sidat jenis A. marmorata dan A. bicolor.

Sidat dewasa menuju laut saat siap bereproduksi. Studi peneliti sidat asal Jepang, sidat dewasa mati di laut usai memijah. Sidat hanya sekali bereproduksi, setelah 9-10 tahun.

Sidat binatang hermafrodit. Awal pertumbuhan, umumnya jantan. Untuk jenis A. bicolor dan A. marmorata,yang bermukim di perairan kurang dari 200 meter di atas permukaan laut (mdpl) biasanya jantan, sedangkan pada daerah setinggi lebih dari 200 mdpl, banyak yang betina.

Sidat tropis menjelajah laut 3.000-5.000 km untuk pemijahan. A. marmorata memijah di Samudra Hindia dan Pasifik, sedangkan tempat pemijahan spesies lain belum diketahui. Namun, sidat endemis seperti A. celebesensis dan A. borneensis menjelajah kurang dari 1.000 km, tak jauh dari muara sungai asal.

Yulia memperkirakan, perjalanan sidat tropis dari air tawar menuju pemijahan di laut 0,5-1 tahun, tergantung spesies. Setiba di lokasi pemijahan, sidat melakukan pembuahan eksternal: betina mengeluarkan sel telur, jantan mengeluarkan sel sperma untuk membuahi sel telur. Pada A. marmorata, lokasi pemijahan pada kedalaman 150-200 meter di bawah permukaan laut.

Sidat bermetamorfosis. Saat telur menetas, sidat dalam tahap pra-larva, bermigrasi ke arah permukaan laut dan hanya memakan kuning telur yang dibawanya. Lalu, masuk tahap larva (leptocephalus), menyerupai daun. Leptocephalus bersifat planktonis, yang berarti tak bergerak sendiri, mengandalkan arus bergerak horizontal menuju daratan. Tahap itu, makanannya partikel organik terlarut di laut.

Berikutnya menjadi glass eel atau benih sidat setelah masuk ke muara, berbentuk gilig dan transparan, seperti korek api dengan bintik mata. Dari glass eel,ia berkembang jadi sidat dewasa. Proses adaptasinya terhitung luar biasa, dari makhluk lautan dengan kadar asin 30 per mil (30 gram garam per liter larutan) menjadi makhluk air tawar berkadar garam 0 per mil. Sidat juga menyesuaikan diri dari lingkungan dingin ke lebih hangat.

Upaya budidaya
Seiring permintaan, upaya budidaya berjalan, termasuk investasi asing. Sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18 Tahun 2009 tentang Larangan Pengeluaran Benih Sidat (Anguilla spp) dari Wilayah Negara Republik Indonesia ke Luar Wilayah Negara Republik Indonesia, sidat hanya bisa keluar jika ukurannya layak konsumsi.

Haryono mengatakan, upaya budidaya di Tanah Air muncul tahun 1997. Namun, pertumbuhan sentra budidaya sidat lambat karena sulit dan mahal. Pemijahan mensyaratkan kondisi mirip laut. Maka, pengambilan benih sidat dari alam, yaitu muara sungai, jadi jalan satu-satunya.

Penanganan benih sidat jadi kunci sukses budidaya. Menurut Haryono, nelayan kerap tak sabar saat menyaring benih yang masih rapuh untuk memisahkan dari sampah sehingga menimbulkan luka. Jika begitu, benih sidat mudah terserang jamur dan akhirnya mati. “Tingkat kematian benih budidaya masih lebih dari 50 persen. Boros benih,” katanya.

Pada sisi lain, sidat butuh pakan dengan protein di atas 40 persen sehingga pakan sidat mahal. Bisa lebih dari Rp 30.000 per kg, yang mayoritas impor.

Demi menjaga keberlangsungan populasi, kata Yulia, sebaiknya hanya menangkap sidat pada periode puncak kedatangan benih di muara sungai.–J GALUH BIMANTARA
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Juni 2016, di halaman 6 dengan judul “Sidat, Ikan Panjang Incaran Bangsa Asing”.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.