Home » Artikel, Biologi, Ekonomi, Lingkungan

Rayap, Menyuapi Ratu Pakai Dubur

18 July 2017 332 views No Comment

Menyuapi pakai dubur memang tergolong kebiasaan aneh tetapi nyata. Namun hal itu bukanlah suatu tindakan gegabah yang menggndung arti penghinaan ataupun kekurangajaran, meIainkan suatu kebiasaan yang berlaku di dalam dunia rayap, yang dilakukannya demi kelangsungan hidup binatang yang mempunyai arti ekonomi sangat penting ini.

Keanehan itu perlu dikaji, karena berguna sebagai landasan untuk mengatur cara-cara yang efisien guna mengatasi serangan rayap.

Karena walaupun telah berhasil diciptakan insektisida-insektisida yang dapat melindungi rumah atau bangunan, namun serangan rayap masih mampu menimbulkan kerugian-kerugian besar, Di Indonesia kerugian akibat serangan rayap pada bangunan-bangunan pemerintah tidak kurang dari 100 milyar per tahun (Kompas, 17 Desember 1987). Di dunia kerugian itu pernah ditaksir olah N.E. Hickin sebesar 500 juta poundsterling atau satu setengah trilyun rupiah setiap tahun.

Menakjubkan
Yang paling menakjubkan adaIah kemampuan binatang yang bertubuh sangat lunak dan besarnya hanya beberapa milimeter ini untuk melangsungkan hidup, walaupun mendapat serangan dari musuh-musuhnya. Padahal musuh rayap berada di mana-mana, dan umumnya berbadan lebih besar dari badannya, bahkan manusia yang merupakan salah satu musuhnya mempunyai otak dan teknologi yang serba canggih untuk memusnahkannya. Namun kenyataannya rayap tetap survive, bahkan tetap menjadi topik berita maupun diskusi para ahli dalam seminar-seminar nasional maupun internasional. Apa lagi di musim hujan seperti sekarang ini, ketika serbuan rayap makin meningkat dan makin meluas.

Salah satu dasar ketahanan rayap terhadap musuh-musuhnya adalah adanya suatu sistem sosial yang cocok dan rapi di dalam masyarakat rayap. Tak ada penindasan di dalam masyarakat rayap. Yang ada adalah tolong-menolong serta pembagian tugas yang jelas. Sang ratu dan raja bertugas melakukan reproduksi, memperbesar anggota kelompok, dan memelihara anak-anaknya yang masih kecil. Rayap tentara tugasnya hanya berperang mengatasi musuh, sedangkan rayap pekerja berkewajiban mencari serta mencari serta membagikan makanan kepada seluruh anggota kelompok termasuk ratu dan tentara, serta membuat dan membersihkan sarang.

Alat-alat mereka pun sesuai dengan tugas yang ditanggunnya. Misalnya rayap tentara memiliki kepala yang besar, biasanya baerwana cokela tua, dengan sepasang mulut yang runcing mencuat ke depan ibarat sepasang pedang yang siap memangkas siapa saja yang berani mengancam kelompoknya. Sang ratu dilengkapi dengan perut yang relatif amat besar hingga lima sentimeter berwarna putih kecokelatan khusus untuk memproduksi telur. Sedang rayap pekerja yang barbadan paling kecil melengkapi dirinya dengan mulut yang mampu menggerus kayu yang cukup keras.

Hasil penelitian bertahun-tahun oleh beberapa peneliti menunjukkan bahwa kegiatan suap-menyuapi di kalangan rayap mempunyai tujuan-tujuan yang bersifat mempertahankan hidup. Misalnya dengan penggunaan makanan secara efisien. Sebagian besar rayap seumur hidupnya tinggal di dalam sarang yang dia hubungkan dengan jalur-jalur menuju tempat-tempat makanan. Tanpa adanya efisiensi penggunaan makanan yang tinggi, maka lingkungan hidup rayap akan cepat sekali penuh dengan kotoran yang dikeluarkan dari tubuhnya.

Tujuan lainnya adalah komunikasi antar individu di dalam kelompok yang jumlah anggotanya dapat mencapai puluhan ribu ekor. Selain itu kebiasaan suap menyuap itu juga bertujuan untuk mengatur distribusi pheromone, yaitu senyawa kimia yang berguna untuk mengatur besar kecilnya jumlah anggota fungsional (kasta) di dalam kelompok, sehingga jumlah ratu, raja, tentara dan pekerja dapat dijaga pada proporsinya yang paling cocok untuk setiap jenis rayap.

Umumnya rayap pekerjalah yang menyuapi rayap tentara, ratu dan raja, serta anggota-anggota kelompok yang masih kecil. Namun dalam keadaan-keadaan tertentu, misalnya dalam masa awal pembentukan kelompok sang ratulah yang menyuapi yang menyuapi anak-anaknya. Rayap tentara pun kadang-kadang menyuapi ratu. Sedang rayap pekerja di samping menyuapi ratu dan tentara juga saling menyuapi dengan rayap-rayap pekerja lainnya.

Cara penyuapan
Cara penyuapan ada dua, yaitu dari mulut ke mulut, dan dari dubur ke mulut. Kayu yang dimakan oleh rayap pekerja tidak seluruhnya tercerna, kemudian sebagian disuapkan kepada anggota kelompok yang lain. Cara-cara penyuapan itu mula-mula diamati oleh P.P. Grasse dan C. Noirot.

Dalam proses penyuapan dari mulut ke mulut, rayap yang ingin disuapi mula-mula mengelus kepala calon penyuapnya dengan antena (sungut), atau menyodok-nyodokkan mulutnya ke mulut calon penyuap itu.

Penyuapan dari dubur ke mulut juga dimulai dengan rabaan-rabaan dengan antena atau kaki depan pada bagian belakang calon penyuap, untuk merangsang keluarnya makanan dari dubur si penyuap. Bahan yang dikeluaran lewat dubur itu, menurut penelitian P.P. Grasse agak lain daripada tinja, karena mengandung protozoa, yaitu jasad renik yang hidup di dalam perut rayap.

photo_2016-06-18_13-52-37Penyuapan dari dubur ke mulut hanya terjadi pada rayap bertingkat rendah, yang memerlukan protozoa di dalam perutnya, yaitu yang tergabung dalam famili-famili Kalotermitidae, Mastotermitidae, Hodotermitidae, Rhinotermitndae, dan Serritermitidae. Protozoa mendapat perlindungan serta lingkungan hidup yang cocok di dalam perut rayap, sedangkan rayap tergantung hidupnya pada kemampuan protozoa menghasilkan ensim selulase yang berguna untuk merombak selulosa menjadi glukosa dan xylosa yang lebih mudah dicerna oleh rayap.

Pengontrolan
Pengetahuan tentang kebiasaan suap menyuapi di antara anggota kelompok rayap sangat penting untuk dasar strategi pengontrolan serangannya, karena rayap memiliki keterampilan untuk melindungi dirinya dari serangan musuhnya, maupun untuk menghindarkan kelompoknya dari bahaya kepunahan. Dengan keterampilan melindungi diri itu maka rayap dapat menghabiskan kayu-kayu bangunan tanpa dapat terlihat sedikitpun oleh penghuninya. Kusen, reng, maupun tiang dapat keropos di bagian dalam sementara bagian luarnya masih terlihat mulus.

Bayangkan suatu serangan rayap yang terjadi di dalam sebuah ruang gedung di tingkat enam. Apabila serangan itu dilakukan oleh rayap kayu kering yang hidupnya tidak perlu berhubungan dengan tanah, maka penanggulangannya relatif mudah, yaitu dengan fumigasi yang dilakukan oleh pekerja-pekerja yang terlatih khusus. Tetapi bila dilakukan oleh rayap tanah, maka serangan tersebut akan susah di tanggulangi karena rayap pekerja yang melakukan serangan dilantai enam tersebut mempunyai markas besar jauh di bawah, di dalam tanah. Sehingga pembasmian rayap di dalam ruang di lantai enam tersebut tidak banyak mengurangi daya serang rayap, karena rayap-rayap yang ada di dalam sarang tidak terjangkau oleh usaha pembasmian. Apa lagi jalan dari sarang menuju lantai enam tersebut sering kali hanya terdiri dari celah-celah selebar beberapa millimeter.

Di dalam sarang itulah sang ratu terlindung dengan aman. Dan di dalam sarang itu pulalah produksi rayap baru pengganti rayap yang mati terus berlangsung, sehingga ancaman serangannya tetap ada.

Untuk mencapai sasaran rayap yang berada jauh di dalam sarang dapat digunakan beberapa cara. Misalnya dengan menggunakan insektisida berbentuk tepung yang dihembuskan ke dalam ’jalan’ rayap dengan berhati-hati agar tidak menutup ‘jalan’ tersebut. Rayap yang menyinggung bubuk insektisida itu akan membawanya ke dalam sarang, dan dalam proses suap menyuapi rayap-rayap akan bersinggungan sehingga dengan demikian akan memberikan insektisidanya ke bagian badan rayap yang lain.

Cara lain, dengan mematikan rayap secara tidak langsung, yaitu dengan membunuh protozoa yang ada di dalam perutnya. Serbuk kayu yang diberi insektisida yang mengandung Boron dengan konsentrasi rendah, sengaja digunakan untuk tidak segera mematikan rayap tetapi cukup untuk membunuh protozoa di dalam perutnya. Insetisida di dalam perut tersebut akan ikut disuapkan kepada anggota rayap yang lain termasuk sang ratu, sehingga pembasmian rayap dapat lebih efektif. Namun cara terakhir ini tidak dapat diterapkan pada rayap yang telah tinggi tingkat evolusinya yaitu yang tergabung dalam famili Termitidae, famili ini tidak memerlukan protozoa untuk hidupnya. Itulah sebabnya identitikasi yang benar terhadap jenis rayap yang akan dibasmi sangat perlu, untuk menentukan langkah pembasmian yang tepat.

Walaupun demikian, cara-cara penangkalan serangan rayap tersebut yang sepintas lintas terlihat gampang, ternyata cukup sulit dalam pelaksanaannya. Nyatanya kerugian milyaran rupiah per tahun masih ditimbulkan oleh ulah binatang yang punya kebiasaan menyuapi ratunya pakai dubur ini.

Suhirman, staf penelitian, Puslitbang Biologi, LIPI, Bogor

Sumber: Kompas, 2 Maret 1988

Share

Leave a comment!

You must be logged in to post a comment.