Home » Artikel

Program Pascasarjana dan Otonomi Daerah

6 January 2001 740 views No Comment

LEMBAGA penelitian dan pengembangan yang terpenting peranannya untuk pembangunan sains dan teknologi di Amerika Serikat adalah sistem pendidikan pascasarjana yang tersebar di negara itu. Karya tentang jagung berasal dari daerah sabuk-jagung seperti Nebraska, penelitian sosiologi pedesaan terbaik berasal dari daerah yang dicakup pegunungan Appalachia. Perkembangan ilmu dasar pun berkaitan dengan perkembangan penelitian yang ada di perguruan tinggi di negara bagian itu.

Adanya tenaga akademik yang juga bertugas memandu mahasiswa pascasarjana menyusun tesis dan disertasi, didampingi oleh hibah dana penelitian yang diperoleh dari berbagai sumber, memungkinkan program pascasarjana menghasilkan karya ilmiah yang sangat terkendalikan dan selesai tepat-waktu. Karena mahasiswa pascasarjana berusia muda, cara berpikirnya masih kurang terkekang oleh paradigma sehingga temuannya biasanya orisinal. Makalah ini disusun untuk melihat kemungkinan apa yang dapat dicapai oleh pendidikan pascasarjana yang diselenggarakan suatu universitas di suatu provinsi tertentu untuk mendukung roda otonomi daerah dalam mengelola sumber daya alam dan manusianya.

Sikap dasar
Kegiatan akademik program pascasarjana merupakan latihan untuk menjadi ilmuwan yang menemukan pengetahuan baru yang lebih besar, manajer yang menemukan teknik manajemen yang lebih efisien, dan teknologiwan yang menemukan cara-cara memanfaatkan pengetahuan yang lebih berguna.

Sikap dasar pertama yang diperlukan adalah kreativitas yang berpangkal pada perilaku yang selalu mempertanyakan sesuatu yang sudah dianggap mapan, sudah dianggap benar, dan sudah dianggap efisien. Sikap dasar kedua ialah pemilikan kemampuan dasar dalam bidang ilmu yang ditekuninya dengan cukup dalam dan menyeluruh, yang diperoleh melalui serangkaian kuliah yang mengikuti suatu struktur kurikulum tertentu.

Kemampuan dasar ini harus dapat dimanfaatkan dengan ketekunan yang tinggi, yaitu sikap dasar ketiga. Ketiga sikap dasar ini diperoleh mahasiswa melalui proses tatap muka dengan pengajarnya untuk menyadap kiat dasar pengajar itu sehingga ia akhirnya menunjukkan keberhasilan dalam bidangnya dalam bentuk suatu tesis atau disertasi.

Kalau tesis, disertasi, atau makalah ilmiah yang berasal dari tesis atau disertasi itu setelah diterbitkan banyak dirujuk karena ide yang terkandung di dalamnya sangat orisinal, maka hal itu adalah petunjuk bahwa ia berbakat menjadi pekerja ilmu yang ampuh. Hasil penelitiannya itu dengan kata lain disebut suatu pemikiran pembenihan atau seminal thought.

Suatu teladan dapat dikemukakan mengenai hal itu, yaitu kasus Tan Kim Hong di Fakultas Pertanian UI Bogor tahun 1956. Menggunakan disertasinya sebagai landasan, ia bekerja menangani Andosol dan membuatnya menjadi salah seorang ahli ternama mengenai Andosol karena makalahnya selalu dirujuk orang.

Di kalangan akademis dikatakan bahwa Tan Kim Hong telah menghasilkan suatu pemikiran pembenihan atau seminal thought. Tentu saja peran Jan van Schuykenborgh sebagai guru besar promotornya sangat besar dalam menempa sikap hidup Tan Kim Hong sebagai peneliti.

Mendapat gelar magister atau doktor adalah langkah pertama untuk menjadi akademik, di PT yang sudah mapan. Seseorang baru memenuhi syarat menjadi pengajar kalau telah memiliki sertifikat mengajar berupa gelar Magister (artinya “ahli”, yaitu seseorang yang menguasai suatu keahlian tertentu) atau lebih baik lagi gelar Doktor (artinya “yang memberi kuliah”), bukan Akta Lima, karena gelar itu adalah bukti bahwa pemegangnya memiliki kreativitas, pengetahuan dasar, dan ketekunan bekerja sebagai peneliti.

Pangkat awal tenaga akademik adalah assistant professor yang agaknya setara dengan lektor. Dalam empat-tujuh tahun ia harus mampu memenuhi syarat untuk diangkat sebagai associate professor dengan menunjukkan kemampuannya meneliti dan mengajar yang dicerminkan oleh kemampuannya menerbitkan makalah ilmiah dan buku-ajar yang sekaligus mencerminkan keahlian khusus yang dimilikinya di dalam bidang ilmu yang digelutinya. Kalau dalam enam tahun ia tidak mampu memenuhi persyaratan itu, biasanya ia akan diberi tahu bahwa kontrak kerjanya habis pada tahun berikutnya.

Persyaratan naik pangkat ini berupa bukti kemampuannya memberi kuliah secara mandiri, membimbing mahasiswa, dan mengadakan penelitian. Setelah mencapai pangkat associate professor barulah seorang tenaga akademik berstatus dosen tetap. Dikatakanlah bahwa ia telah mendapat status tenure. Dari associate professor tenaga akademik itu harus menghasilkan penelitian yang cukup banyak dirujuk orang karena merupakan hasil pemikiran pembenihan, serta pula telah cukup banyak membimbing mahasiswa program doktor yang disertasinya juga ternyata bermutu tinggi.

Proses interaksi
Pendidikan pascasarjana mutunya sangat ditentukan selain oleh mutu mahasiswa yang masuk, juga oleh mutu pembimbing mahasiswa itu. Sosiologiwati masyarakat lapisan atas Harriet A Zuckerman (Scientific Elite: Nobel Laureates in the United States New York: Free Press, 1977), misalnya, menemukan bahwa hampir semua pemenang hadiah Nobel dalam sains pada suatu ketika pernah dipandu seorang pemenang hadiah Nobel lain, walaupun ketika itu pembimbingnya itu belum mendapatkan hadiah Nobel.

Hal yang sama juga terjadi dengan anggota Akademi Sains Nasional Amerika Serikat. Maka komponen terpenting proses penuntutan ilmu di program pascasarjana adalah kesempatan berinteraksi seorang mahasiswa dengan tokoh ilmuwan, manajer, atau teknologiwan yang sudah mapan, sesuai dengan bidang yang diinginkan. Komponen ini pulalah yang menjadi kelemahan pembelajaran jarak-jauh, karena tidak adanya interaksi antara mahasiswa dan dosen.

Sumber gesekan
Kemampuan menemukan pertanyaan untuk pokok bahasan disertasi ditentukan kreativitas mahasiswa. Untuk kepentingan daerah, pertanyaan itu harus bersumber pada masalah yang dihadapi daerah, apakah itu sudah terasa oleh orang banyak ataupun baru terasa oleh mereka yang pandangannya jauh melompat dan menerawang ke masa depan. Pertanyaan penelitian yang bersifat rutin hanya masih pantas dilakukan oleh mahasiswa S-1.

Tersirat di sini bahwa permasalahan yang ditangani bentuknya harus dinamis sehingga tenaga akademik dan mahasiswa pascasarjana harus berani mempertanyakan apa kelemahan-kelemahan yang terdapat di daerahnya, baik dari segi pengelolaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia, serta menemukan penyelesaiannya. Inilah sumber gesekan yang mungkin muncul antara universitas pemerintah daerah, dan masyarakat. Karena itu berpikir melawan arus kelaziman ini harus dimasyarakatkan sehingga dapat dipahami oleh kalangan pemerintahan daerah dan masyarakat sebagai sesuatu yang wajar.

* Andi Hakim Nasoetion, guru besar Statistika Institut Pertanian Bogor.

tulisan diambil dari Kompas, Sabtu, 6 Januari 2001

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.