Home » Berita

Perguruan Tinggi dan IT; Berbenah Menapak Era Digital

29 November 2006 1,329 views No Comment

Semilir angin berembus. Sejumlah mahasiswa duduk berjejer di bangku taman halaman kampus. Kaki mereka dibiarkan berselonjor di atas meja yang penuh dengan tumpukan buku.

Pemandangan seperti ini sepertinya sudah jarang ditemukan di kampus-kampus perguruan tinggi wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sudah bukan zamannya mahasiswa sibuk memelototi dan membolak-balik lembaran-lembaran buku teks. Mungkin juga sudah tak mudah untuk menemukan mahasiswa ke kampus dengan memanggul ransel yang sarat dengan buku. Kini, isi ransel sudah berganti dengan laptop, komputer personal setipis diary yang bisa dikepit dan ditenteng ke mana-mana.

Karena bisa terakses ke jaringan informasi melalui hotspot yang tersebar dalam radius kampus, laptop pun sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mahasiswa. Tak hanya di ruang kuliah atau perpustakaan, di halaman kampus pun mahasiswa dalam suasana senda gurau lekat dengan perangkat ini.

Jika era globalisasi ditandai dengan seliweran informasi tanpa dihalangi ruang dan waktu, maka boleh jadi kampus-kampus perguruan tinggi di Tanah Air sudah menapak era itu, information technology (IT). Setidaknya itu tampak pada sejumlah perguruan tinggi yang mengusung misi untuk menghasilkan lulusan berkompetensi skala global.

Hebatnya, dari sisi usia, perguruan-perguruan tinggi yang menampakkan geliat yang demikian pesat itu masih tergolong belia. Sebutlah misalnya, Universitas Pelita Harapan (UPH) yang berdiri tahun 1994, Universitas Bina Nusantara (Ubinus) yang berdiri tahun 1998, dan President University (PU) tahun 2002. Tanpa harus menunggu usia belasan tahun, perguruan-perguruan tinggi tersebut sudah menampakkan eksistensinya sebagai agen transformasi; pembawa perubahan peradaban.

Kampus digital

Cobalah jalan-jalan ke Kampus UPH yang terletak di kawasan Lippo Karawaci, Tangerang, Banten. Di bawah pohon yang rindang atau di hamparan rerumputan hijau, mahasiswa dan dosen demikian akrabnya memainkan jemari di atas tuts-tuts laptop.

Sejak awal, kampus itu memang dirancang untuk mengikuti perkembangan global dengan mengandalkan teknologi mutakhir. Di kalangan mahasiswa dan dosen, teknologi digital sudah merupakan keniscayaan untuk menunjang aktivitas pembelajaran.

Dalam kawasan kampus yang luasnya tak kurang dari 10 hektar sudah tersedia hotspot yang bisa mengantar mahasiswa ke dunia maya setiap waktu. Dialog antara mahasiswa dan dosen menyangkut pengayaan materi kuliah tak hanya berlangsung secara lisan, tapi juga melalui internet. “Dibandingkan dengan fasilitas kampus terkemuka di Singapura, Korea, dan China, maka warga kampus ini tidak perlu minder. Apa yang mereka punya, kita juga punya,” ujar John E Batubara, Wakil Rektor Bidang Akademik UPH, seraya menekankan misi keseimbangan antara kecerdasan akademik dan kecerdasan iman dan budi pekerti bagi lulusannya.

Tekad UPH untuk mewujudkan kampus berbasis digital memang tidak main-main. Demi menunjang pembelajaran yang menyerap informasi terbaru, buku-buku dan jurnal di perpustakaan pun bisa diakses melalui internet. Gedung The Johannes Oentoro Library (perpustakaan yang mengabadikan nama Rektor UPH yang pertama), terdiri atas tiga lantai, secara perlahan tak lagi disesaki dengan rak dan tumpukan buku. Tak kurang dari 40.000 eksemplar buku dan jurnal-jurnal ilmiah yang merupakan bahan-bahan kepustakaan sudah bisa diakses melalui internet. “Semua itu diadakan untuk menunjang pembelajaran pada program-program studi yang ada di sini,” kata Johanes Parapak, Rektor UPH, pengganti Johanes Oentoro.

Program studi yang dimaksud terbagi pada kelompok teknik dan nonteknik. Kelompok teknik mencakup fakultas desain dan teknik perencanaan, teknologi industri, sains dan matemtika, serta ilmu komputer. Adapun nonteknik mencakup fakultas ilmu pendidikan, manajemen/ekonomi, ilmu sosial dan politik, seni, hukum, serta psikologi.

Bahkan untuk keperluan administrasi bagi sekitar 9.000 mahasiswa UPH, layanan melalui internet pun bisa dilakukan. Jangan heran jika salah satu syarat menjadi mahasiswa UPH adalah memiliki laptop.

Apa yang terjadi Universitas Bina Nusantara jauh lebih spektakuler. Untuk mengukuhkan dirinya sebagai salah satu kampus yang berfokus pada teknologi komunikasi informasi (information technology communication/ICT), universitas ini pun terus menggeliat mengikuti perkembangan zaman.

Layanan pembelajaran melalui internet ICT tak hanya di halaman kampus yang terletak di Kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat, tetapi juga bisa terhubungkan ke rumah-rumah kos mahasiswa. Dalam radius tertentu, mahasiswa yang masih malas-malasan keluar kamar apalagi ke kampus, bisa mengorek informasi tentang materi perkuliahan. Hotspot internet sudah disiapkan untuk menjangkau kawasan permukiman sekitar kampus. “Tentu saja kemudahan itu tak berarti meniadakan kewajiban tatap muka dengan dosen. Fasilitas itu hanya penunjang,” papar Bahtiar S Abbas, Wakil Rektor Ubinus Bidang Akademik.

Multikultural

Guna menunjang proses pembelajaran yang berbasis digital, kemampuan bahasa Inggris bagi warga kampus tentulah sebuah keniscayaan. Itu sebabnya, pengantar perkuliahan di kampus- kampus tersebut menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Kebiasaan menggunakan bahasa Inggris relevan dengan semangat multikulturalisme.

Berada di lingkungan kampus President University (PU), rasanya seperti berada di kawasan global di suatu negara di Asia. Wajah-wajah Asia dan Melayu menjadi pemandangan khas di universitas yang berada di kompleks industri Jababeka di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, ini.

Kampus PU berdiri di atas lahan yang diperuntukkan sebagai kawasan pendidikan di kota Jababeka dengan nama Jababeka Education Park dengan luas total 200 hektar. Berbagai fasilitas yang cukup lengkap ditawarkan untuk mahasiswa seperti asrama, perpustakaan, laboratorium, kafe, dan sarana olahraga. Fasilitas asrama atau dormitory seluas 5,5 hektar berbentuk layaknya kompleks perumahan, diperuntukkan wajib bagi seluruh mahasiswa di tahun pertama.

Perpustakaan di PU dinamai Adam Kurniawan Library, diambil dari nama salah satu pendiri kampus. Fasilitas ini berdiri di atas bangunan dengan luas kurang lebih 400 meter persegi. Di sini terdapat 4.984 koleksi buku terbitan dalam dan luar negeri. Manajemen PU pun tengah membenahi akses untuk perpustakaan digital library.

Perguruan Tinggi dan iT (2-habis)
Membangun Citra Berkelas Dunia

Nasrullah Nara dan Palupi Panca Astuti

Kompas, 30 November 2006-“Dengan bekal satu ijazah atau dua ijazah, ya, tentu lain dong posisi tawarnya dalam melamar pekerjaan. Apalagi, kalau salah satunya berlabel luar negeri,” ujar Aditya Pranandra, mahasiswa Universitas Bina Nusantara Internasional, suatu siang awal November lalu.

Kala itu, remaja yang akrab dipanggil Andra ini baru saja usai mengikuti perkuliahan di Gedung The Joseph Wibowo Center for Learning (JWC), Jalan Hang Lekir, Senayan, Jakarta Selatan. Di sanalah, di pojok jalan yang terdesak oleh mal, Andra setiap hari mengikuti aktivitas perkuliahan dan ekstrakurikuler. Supaya tidak jenuh menunggu jadwal perkuliahan berikutnya, Andra menghabiskan waktu di pelataran lantai tiga gedung tersebut untuk mengobrol dengan rekan-rekannya sesama mahasiswa Program Sistem Informasi.

Sembari mengobrol, satu per satu mahasiswa itu membuka ransel dan kemudian meletakkan laptop di atas sebuah meja. Di tengah keasyikan mereka menekan tuts-tuts dan memelototi layar monitor laptop, mahasiswa dari program studi lainnya pun ikut nimbrung. Ketika ditemui oleh Kompas, mereka terenyak. “Wah, ketahuan nih, kalau kita ini suka main game di kampus,” ujar salah satu di antara mereka.

Rupanya, kesibukan mahasiswa mengutak-atik laptop tidak selamanya merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran, semisal menggali bahan-bahan untuk memperkaya perkuliahan. “Ini hanya selingan untuk mengurangi kesuntukan belajar,” ujar Malik, mahasiswa Program Akuntansi yang nimbrung belakangan.

Beberapa di antara mereka bergegas meraba-raba tetikus laptop untuk menyembunyikan tampilan program yang semula menghiasi monitor laptop. Namun beberapa lainnya tenang-tenang saja karena mereka memang serius mengamati bahan-bahan ajar yang terakses melalui internet.

Suasana serius maupun santai dengan perangkat teknologi informasi adalah pemandangan yang lazim mewarnai aktivitas sekitar 200 mahasiswa penghuni Universitas Bina Nusantara (Ubinus) Internasional.

Didukung dengan panduan pembelajaran konvensional tatap muka dan multimedia, mereka bisa menyerap transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutakhir. Tak kalah strategisnya, kuliah di perguruan tinggi tersebut menjanjikan peluang untuk dua ijazah sekaligus. Satu ijazah dari Ubinus, yang satunya lagi dari perguruan tingi asing.

Sesuai dengan label “international” yang disandangnya, universitas ini memang mengusung bendera perguruan tinggi asing. Sejumlah perguruan tinggi Australia bersinergi dengan Ubinus Internasional untuk menawarkan alternatif belajar ke luar negeri.

Perguruan tinggi dari negeri Kangguru yang digandengnya sejak beroperasi tahun 2004 antara lain adalah Curtin University of Technology, Macquarie University, dan Murdoch University. Ketiga perguruan tinggi tersebut tak hanya mendatangkan dosen-dosennya untuk bertatap muka dengan mahasiswa di Jakarta, tetapi juga akan memberikan layanan kuliah bagi mahasiswa Ubinus Internasional di Australia.

Bagi mahasiswa, separuh waktu studi, atau dua tahun, dihabiskan di Indonesia. Dua tahunnya lagi dilewati dengan mengenyam atmosfer pembelajaran di Australia.

Program studi yang ditawarkan tercakup dalam berbagai jurusan, yakni akuntansi dan keuangan, desain komunikasi visual, teknik informatika, sistem informasi, dan pemasaran. Dengan menghabiskan dana senilai Rp 225 juta-Rp 230 juta selama empat tahun studi, kelak mahasiswa bisa mengantongi dua ijazah. Misalnya, untuk Jurusan Sistem Informasi, gelar sarjana komunikasi diraih dari Ubinus. Gelar lainnya, bachelor of commerce (B Com), diraih dari Curtin University of Technology, Perth, Australia.

Bagi orang awam, biaya yang dipatok tadi tentu amat mahal. “Tapi itu bergantung cara memandang dan value yang dianut,” papar Wayah S Wiroto, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pemasaran Universitas Bina Nusantara.

Universitas Bina Nusantara Internasional yang berkampus di Gedung The Joseph Wibowo Center for Advanced Learning, Hang Lekir, merupakan pengembangan dari Ubinus yang berkampus di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat.

Sebelumnya, Ubinus sendiri, sejak lebih dari 20 tahun lalu, telah eksis di kampus Syahdan, Kijang, dan Anggrek. Kini di ketiga kampusnya yang berlokasi di Kemanggisan, Jakarta Barat, belajar sekitar 33.000 mahasiswa, dengan pembelajaran yang juga berbasis multimedia.

Keberadaan Ubinus yang berlabel international di Hang Lekir, diyakini sebagai perpaduan dari fleksibilitas program, fasilitas, reputasi, dan pengalaman lintas budaya untuk meraih keunggulan internasional.

Mekanisme kuliah separuh waktu di luar negeri hanya bersifat pilihan. Opsi double degree sangat bergantung pada kemampuan akademik, termasuk bahasa Inggris. Mahasiswa yang berkocek tebal tidak otomatis bisa kuliah separuh waktu di Australia. Selain indeks prestasinya harus rata-rata bagus, ia juga harus fasih berbahasa Inggris dan lulus TOEFL minimal 550.

Jika persyaratan itu tak dipenuhi, maka cukuplah baginya ikut single degree, atau menuntaskan studi di Jakarta. Namun, dengan jaringan internasional, mutu lulusan single degree pun dijamin tetap berkelas kelas dunia.

Perkembangan di Bina Nusantara seperti mewakili kecenderungan universitas lainnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya dalam menyikapi tuntutan peradaban dan globalisasi. Universitas Pelita Harapan (UPH) yang berkampus di Karawaci, Tangerang, Banten, juga menjalin kemitraan dengan perguruan-perguruan tinggi asing. Menurut Rektor UPH Jonathan Parapak, kemitraan itu tak hanya bertujuan untuk menyerap perkembangan ilmu dan teknologi, tetapi juga nilai-nilai dan kultur akademik.

“Termasuk untuk menjajal peluang kerja di luar negeri,” kata Parapak menegaskan misi UPH sebagai kampus global.

Sebagai contoh, 23 November lalu, UPH menjalin kesepahaman dengan Taipei Medical University. Cakupannya tak hanya dalam hal akademik dan riset, tapi juga pemagangan.

Kerja sama dengan kampus luar negeri juga tersebar di Amerika, Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Swiss, Jepang, Australia, China, dan Malaysia. Tujuannya tak hanya pada penajaman program studi, tapi juga pada upaya mengangkat tekad UPH mengembangkan nano-teknologi. Kelompok disiplin ilmu terkait menggalang para ahli dari mancanegara dan Tanah Air untuk berkolaborasi di Mochtar Riady Institute for Nanotechnology.

Tak mau ketinggalan kereta, President University (PU) yang berkampus di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, juga berbenah. Saat ini PU telah menjalin kesepahaman dengan beberapa universitas dalam maupun luar negeri. Misalnya dengan Institut Teknologi Bandung dalam hal teknologi informasi dan sistem informasi. Dua tahun kuliah di Cikarang, mahasiswa UP bisa lanjut ke Bandung.

Universitas Waseda, Jepang, juga menyediakan beasiswa S-2 bagi lulusan Program Studi Teknik Informatika PU. Satu lagi, William Angliss Institue, Australia, yang menyediakan tempat bagi mahasiswa PU untuk memperdalam Program Manajemen Hotel dan Turisme.

Bangsa ini berharap tekad mengglobal itu tak sekadar gombal….

Nasrullah Nara dan Palupi Astuti

Sumber: Kompas, 29 November 2006

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.