Home » Berita, Penghargaan

Obat Bahan Alam Jadi Incaran

7 October 2016 91 views No Comment

Habibie Award Ke-18 untuk Empat Ilmuwan Berdedikasi
Sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Kongo, Indonesia punya peluang bersaing di dunia farmasi global memanfaatkan bahan alamnya. Syaratnya, keberpihakan pemerintah pada riset dan inovasi industri.

Saat ini, lebih dari 90 persen bahan baku obat masih diimpor. Padahal, beragam makhluk hidup di Indonesia berpotensi jadi bahan baku. “Dari 30.000 jenis tanaman obat di Indonesia, hanya 1.200 yang dimanfaatkan untuk pengobatan,” ucap Direktur Eksekutif Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Raymond R Tjandrawinata, penerima Habibie Award di bidang ilmu kedokteran dan bioteknologi, Rabu (5/10), di Pendopo Habibie Ainun, Jakarta.

Selain Raymond, ada tiga penerima Habibie Award Ke-18 dari Yayasan SDM Iptek, yaitu Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (ITB) Hendra Gunawan di bidang ilmu dasar; Guru Besar Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan ITB Tommy Firman untuk bidang ilmu rekayasa; serta ilmuwan sastra Sapardi Djoko Damono untuk bidang ilmu kebudayaan. Presiden ketiga RI BJ Habibie turut hadir.

Menurut Raymond, sejumlah perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris berinvestasi di Indonesia karena mencari bahan obat yang bisa dikembangkan di negara asal.

Di PT Dexa Medica, Raymond memimpin DLBS yang fokus mencari bahan baku obat dari Tanah Air. Ia dan tim menghasilkan 46 paten di dalam dan luar negeri selama 2008-2016 dari riset bahan alam Indonesia untuk obat. Sejumlah hasil riset mewujud produk komersial, di antaranya Inlacin dan Disolf yang dipasarkan sejak 2011.

Inlacin merupakan obat bahan alami penurun resistensi insulin, membantu penurunan gula darah. Obat itu diresepkan kepada lebih kurang 30.000 penyandang diabetes dan wanita dengan polycystic ovarian syndrome. Adapun Disolf berbahan baku protein cacing tanah membantu menghilangkan sumbatan dalam darah, bisa untuk pasien setelah stroke, setelah serangan jantung, dan sumbatan pembuluh darah di berbagai organ. Disolf diresepkan kepada 25.000-an pasien.

840b123a4bc94a8d8dde416b2dae7da620161005–Presiden ketiga RI BJ Habibie (kanan) memberikan ucapan selamat kepada para penerima Anugerah Habibie Award, yaitu Hendra Gunawan untuk bidang ilmu dasar, Raymond R Tjandrawinata bidang ilmu kedokteran dan bioteknologi, Tommy Firman bidang ilmu rekayasa, dan Sapardi Djoko Damono bidang ilmu kebudayaan (kiri ke kanan) di Jakarta, Rabu (5/10).

Namun, Raymond menyadari, aktivitas riset penuh risiko, termasuk gagal. Padahal, investasi waktu, tenaga, dan biaya sangat besar. Karena itu, kemandirian bahan baku obat berbasis bahan alam hanya bisa terwujud jika pemerintah berpihak, salah satunya insentif. “Dari 100-200 ekstrak tanaman, mungkin hanya satu yang cocok. Pengembangan butuh waktu. Inlacin butuh tujuh tahun,” ujarnya.

Belum memadai
Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kemenristek dan Dikti Ali Ghufron Mukti menegaskan, keberpihakan pemerintah belum memadai. Menggairahkan riset di industri tak bisa pada satu kementerian. Butuh komando Presiden.

Ghufron mencontohkan, bentuk dukungan bisa dengan memasukkan obat berbasis bahan alam ke Formularium Nasional Jaminan Kesehatan Nasional. Saat menjabat Ketua Kelompok Kerja Persiapan Implementasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, ia mengupayakan obat bahan alam dapat masuk sebagai obat JKN, tetapi gagal.

Sementara itu, penerima Habibie Award Hendra Gunawan adalah salah satu matematikawan produktif. Salah satu publikasinya berisi hasil riset yang merevisi rumus Risteski dan Trencevski terkait konsep sudut antara dua subruang. Temuan itu berpotensi diaplikasikan pada pengolahan data mencari kemiripan, seperti yang dilakukan mesin pencarian Google saat seseorang mencari gambar dengan kata kunci tertentu.

Adapun Tommy Firman aktif mengkaji peningkatan efektivitas penataan ruang untuk pengembangan wilayah dan kota di Indonesia. Hal itu dilakukan karena kewajiban membuat rencana tata ruang dan wilayah kerap dianggap beban. Padahal, itu panduan untuk pembangunan. Sementara Sapardi Djoko Damono terus berkarya untuk pengembangan keilmuan di ranah sastra.

Ketua Pengurus Yayasan SDM Iptek Wardiman Djojonegoro menyebut, para penerima Habibie Award berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang masing-masing sehingga berkontribusi pada pembangunan nasional. Setiap penerima mendapatkan hadiah 25.000 dollar AS. Penghargaan itu diharapkan membuat kian banyak peneliti terus berkarya di tengah lemahnya budaya meneliti dan keberpihakan pemerintah. (JOG/C01)
—————————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Oktober 2016, di halaman 14 dengan judul “Obat Bahan Alam Jadi Incaran”.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.