Home » Artikel

Nasib Industri Elektronika

30 September 2011 978 views No Comment

Indonesia adalah negara dengan penduduk keempat terbesar dunia yang ekonominya sedangtumbuh.Hal itu membuat Indonesia menjadi pasar yang menarik untuk produk industri termasuk produk telepon seluler (ponsel).

Realisasi impor ponsel tahun lalu sebesar 40 juta unit,sedangkan untuk 2011 ini diperkirakan akan mencapai 60 juta unit. Pada Juli 2011 dikabarkan bahwa produsen ponsel Black- Berry, Research In Motion (RIM), lebih memilih Penang, Malaysia ketimbang Indonesia sebagai basis manufakturnya. Padahal Indonesia adalah tiga negara di dunia paling banyak pengguna BlackBerry setelah Amerika Serikat (AS) dan Kanada.

Berbagai reaksi negatif pun bermunculan.Umumnya tidak rela Indonesia hanya dijadikan sebagai pasar BlackBerry.Lalu, mencul pertanyaan, kenapa RIM memilih Penang? Berikut penjelasannya, yang dapat dijadikan contoh untuk kebijakanindustri elektronika nasional kita.

Keunggulan Malaysia

Michael Best (2001) di dalam “The New Competitive Advantage” memaparkan: Malaysia mempunyai tiga kluster industri elektronika yaitu Penang, Klang Valley, dan Johor.Ketiga kluster industri tersebut mempunyai model yang sama dengan Singapura, yaitu sebagai basis manufaktur multinational corporation (MNC). Dari ketiga kluster industri tersebut, yang paling besar adalah Penang, kurang lebih 87.000 orang bekerja di sektor industri elektronika, baik di industri komponen maupun di MNC seperti Intel,AMD, Dell, Motorola,Hitachi,Sony,Bosch, Seagate, dan lainnya.

MNC terus berada di Penang karena Penang memberikan kemampuan manufaktur yang sangat berkualitas dan standar kelas dunia. Sejak pertama berdiri industri semikonduktor pada 1972,industrinya terus tumbuh hingga mencapai lebih dari 850 perusahaan. Pada 2005, Penang berstatus sebagai cyber citysetelah Cyberjaya,sebagai bagian dari implementasi program Multimedia Super Corridor (MSC) yang diresmikan PM Mahathir Mohamad pada 1997. MSC adalah visi Malaysia menuju transformasi knowledge based economyyang didukung masyarakat yang berilmu pengetahuan.

Penang dijuluki Silicon Valley Malaysia, di samping itu merupakan kawasan industri bebas (free industrial zone) seperti Batam, yang mendapat insentif bebas bea dan PPN. Penang memiliki tenaga terampil yang banyak di industri elektronika, kolaborasi yang baik antara perguruan tinggi dan industri. Di sana juga terdapat pusat research & development (R&D) yang didirikan oleh MNC seperti Intel, Dell, dan Motorola. Dari sisi infrastruk- tur, Penang terhubung oleh Pelabuhan, Bandara, dan Jalan Tol Trans Malaysia sepanjang 900 KM dari perbatasan Thailand sebelah utara sampai perbatasan Singapura bagian selatan.

Ketatnya persaingan industri Information Communication Technology (ICT), para MNC termasuk Black- Berry akan memilih lokasi kluster industri yang produknya bisa kompetitif di pasar.

Industri Elektronika Nasional
Menurut catatan Gabel, industri elektronik merupakan primadona ekspor kedua, dengan nilai ekspor mencapai sekitar USD8 miliar pada 2010 (Keet, 2011). Akan tetapi, produk elektronika Indonesia masih memiliki kandungan impor 60–80%.Tingginya kandungan impor ini menunjukkan bahwa industri elektronika nasional masih berbasis tenaga kerja murah,bukan berbasis inovasi.

Hal ini juga menunjukkan bahwa industri semikonduktor, komponen presisi tinggi, dan industri pendukungnya masih lemah. Kita mempunyai kawasan industri elektronika di Batam di mana sebelumnya dibangun untuk menyaingi Singapura. Pada kenyataannya, Batam sebagai komplemen industri Singapura.Sebagai contoh,UIC Electronics merelokasi pabriknya ke Batam karena biaya tenaga kerja yang mahal di Singapura. Komponennya dikirim ke BatamuntukmembuatPCBdan produknya dikirim kembali ke Singapura untuk perakitan akhir dan pengepakan yang selanjutnya diekspor (ISEAS, 2005).

Hal ini menu n j u k k a n , Singapura yang menikmati nilai tambah. Usia industri elektronika nasional kita, khususnya semikonduktor, relatif sama dengan Singapura dan Malaysia.Industri semikonduktor yang pertama kali di Indonesia adalah Fairchild (1974) di Cibubur, Jakarta Timur, dan National Semiconductor (1975) di Bandung, Jawa Barat.Akan tetapi pada 1985/1986,kedua industri tersebut memindahkan pabriknya ke Malaysia. Kini kita ketinggalan jauh dengan Malaysia dan Singapura.

Science-Based Industrial Park
Jika kita ingin mengejar ketinggalan dengan Malaysia dan Singapura, Indonesia harus mencontoh apa yang telah dilakukan Taiwan dan Korea Selatan, sebagai negara industri baru Asia yang lebih maju. Beberapa langkahnya adalah: Pertama, membangun sciencebased industrial park yang merupakan kawasan khusus industri komponen elektronika sampai industri integratornya.

Kawasan tersebut harus ditunjang pusat (R&D) dan kolaborasi yang baik antara perguruan tinggi dan industri. Kluster industri tersebut didirikan oleh Korea,Taiwan,Singapura, dan Malaysia yang merupakan model yang telah diterapkan AS di Silicon Valley-Stanford California dan Boston Route 128,Massachusetts,AS. Kedua, membangun pusat R&D, sebagai contoh, pada 1973-1974 Taiwan mendirikan Industrial Technology Research Institute (ITRI) dan Electronics Research Service Organization (ERSO).

Korea Selatan dengan Electronics and Telecommunication Research Institute (ETRI) yang didirikan pada 1976 dan pusat R&D yang dimiliki para Chaebol. Ketiga,pemerintah melakukan inisiasi sebagai trigger, dengan mendirikan perusahaan industri komponen di kawasan tersebut. Contohnya seperti yang dilakukan Taiwan dengan mendirikan industri semikonduktor TSMC dan UMC yang merupakan perusahaan patungan antara pemerintah dan swasta.Begitu juga Singapura melalui peran Economic Development Board (EDB).

Indonesia bisa melakukan inisiasi ini melalui perusahaan patungan antara MNC dan BUMN elektronika/ telekomunikasi atau Pusat Investasi Pemerintah (PIP). Keempat, insentif untuk R&D. Negara-negara maju seperti Eropa,Jepang,Korea Selatan, dan Taiwan memberikan dana R&D baik kepada lembaga riset pemerintah maupun swasta,dan memberikan insentif pajak kepada swasta yang melakukan R&D.Sebagai contoh Jepang,pada 1970-an,MITI memberikan bantuan USD10 juta kepada industri elektronika untuk mengejar ketinggalan dari AS dalam teknologi integrated circuit (IC).

Kita pernah mempunyai rencana konsep Science-based industrial park,yaitu gagasan Prof SamaunSamadikun( 1970-an) yaitu Bandung Hi-tech Valley yang terintegrasi dengan National Semiconductor dan Puspitek Serpong yang didirikan oleh BJ Habibie (1976),yang sampai kini belum terwujud. Mari kita wujudkan gagasan beliau karena industri teknologi terbukti memberikan kemakmuran rakyat.

MUDI KASMUDI, Praktisi Energi dan Perindustrian

Sumber: Koran Sindo, 30 September 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.