Home » Artikel, Headline

Litbang Setelah Ekonomi Nomor 15 dan Inovasi Nomor 77

15 December 2010 833 views No Comment
Mengikuti paparan peneliti di Pusat Penelitian Perkembangan Iptek LIPI di Jakarta, Selasa (14/12), hadirin mendapatkan gambaran tentang berapa besar dana yang kini dicurahkan oleh pemerintah untuk penelitian, seberapa kuat tenaga peneliti yang ada di Indonesia, dan bidang-bidang penelitian apa yang paling menarik.

Wacana peneliti dan penelitian terdengar relevan justru ketika beberapa hari terakhir harian ini mengangkat isu kurang bergairahnya penelitian di Tanah Air. Namun, dari indikator yang diterbitkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kemarin justru tampak dinamika penelitian dan pengembangan (litbang) di perguruan tinggi tidak redup sebagaimana dikhawatirkan.

Untuk tahun 2010 saja ada 42.083 peneliti lokal yang terlibat dalam kegiatan litbang di perguruan tinggi negeri. Data yang disampaikan LIPI ini bahkan dipertanyakan oleh penanggap Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemendiknas Prof Suryo Hapsoro karena menurut ketentuan yang ada sekarang ini, setiap dosen adalah peneliti, dan untuk PTN yang ada, jumlah dosen tetap adalah 160.000 orang. Mahasiswa pun juga sebenarnya—dengan cara mereka sendiri—adalah komponen peneliti di lingkungan perguruan tinggi, antara lain mereka ada yang merancang nanosatelit mahasiswa.

Para peneliti Indonesia berkiprah dalam beragam bidang sains dan teknologi, dan empat bidang ilmu yang paling banyak diteliti adalah ilmu pertanian, teknologi, kedokteran, dan ekonomi. Keempat bidang di atas menyedot 51,57 persen jumlah peneliti yang ada.

Yang menarik, ilmu-ilmu kebumian dan antariksa hanya menarik bagi 748 peneliti. Kalau astronomi tetap bidang yang eksotik, ilmu-ilmu kebumian sudah waktunya bisa menarik minat orang muda Indonesia. Alasannya nyata, karena kondisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik membutuhkan lebih banyak lagi ahli gempa dan tsunami, serta ahli gunung berapi.

Publikasi

Luaran kegiatan litbang antara lain berupa publikasi, paten, prototipe, konsep/model/ teori, atau kontrak kerja sama litbang. Selain itu, menurut Siti Meiningsih—yang bersama rekannya, Nani Grace Simamora—memaparkan Indikator Iptek 2010, luaran juga diindikasikan dengan jumlah paten atau produk yang berhasil dikomersialisasikan.

Untuk publikasi internasional, kinerja empat PTN (IPB, UGM, UI, ITB) secara umum masih lebih unggul dibandingkan Filipina dan Vietnam, tetapi kalah jika dibandingkan dengan Singapura (yang unggul sangat jauh), Thailand, dan Malaysia.

Terkait dengan produk yang bisa dikomersialkan, Komisaris Utama PT Kalbe Farma Johannes Setijono yang menjadi salah seorang penanggap menyebutkan bahwa salah satu keberhasilan litbang adalah kalau hasilnya bisa mewujud sebagai merek dagang yang diakui.

Di era di mana inovasi sedang menjadi wacana yang kencang, hasil-hasil penelitian memang baru dirasakan manfaatnya bila ia bisa ditransformasikan menjadi produk yang layak jual. Di sini, konsep lain yang kini juga banyak disuarakan adalah technopreneurship, yaitu bahwa insinyur peneliti baru akan paripurna perannya bila ia sanggup memasarkan hasil karyanya. Kita bisa angkat lagi peringatan yang disampaikan dalam satu Kongres Persatuan Insinyur Indonesia bahwa tugas insinyur tidak cukup hanya membuat, tetapi juga menjual karyanya.

Namun, Prof Suryo Hapsoro kembali mengingatkan bahwa meski ada tarikan kuat untuk riset terapan, riset dasar jangan pernah dilupakan. Handphone yang kini menjadi peranti wajib (melebihi dompet) bagi kebanyakan orang bermula dari riset gelombang (radio).

Keseimbangan

Kini, secara ekonomi RI telah mencapai peringkat ke-15 di dunia (bila Uni Eropa digabung, menurut data yang disampaikan oleh Prof Nizam, Sekretaris Dewan Pendidikan Tinggi). Itu bisa saja membanggakan. Namun, dari peringkat daya inovasinya, RI masih di urutan ke-77.

Bila pertumbuhan ekonomi ingin dipacu lebih tinggi, tidak kurang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri telah mengakui bahwa peran inovasi iptek harus ditingkatkan. Itu pula yang menjadi alasan Presiden membentuk Komite Inovasi Nasional bersama Komite Ekonomi Nasional.

Meminjam momentum meningkatnya daya saing Indonesia, dari 54 ke 44, komitmen terhadap pemanfaatan iptek yang alamiahnya akan selalu diiringi oleh kegiatan litbang, patut diteguhkan kembali.

Perekonomian sudah baik bergerak dari berbasis sumber daya ke ekonomi yang didorong oleh efisiensi. Hal ini, menurut Nizam, akan lebih baik lagi bila menjadi ekonomi yang digerakkan oleh inovasi.

Bila inovasi canggih masih sulit atau perlu waktu, maka dari litbang yang ada bisa dikerahkan untuk mendukung industri manufaktur tingkat sederhana, seperti pembuatan cangkul.

Apa pun formulasinya, yang tak kalah penting adalah kembali mendengungkan semboyan iptek sebagai P4 atau prerequisite for progress, power, and prosperity (prasyarat bagi kemajuan, kekuasaan, dan kemakmuran).

Memang diakui, mewujudkan semboyan itu sendiri tidak mudah, justru ketika alam materialisme semakin banyak mendominasi kehidupan di sekeliling peneliti dan pekerja iptek, juga ketika regulasi dan anggaran yang tersedia belum sepenuhnya kondusif bagi langkah tersebut. Yang terakhir ini membuat peneliti fisika, misalnya, kesulitan mendapatkan peralatan baru karena kebijakan anggaran tak memungkinkan hal itu. [OLEH NINOK LEKSONO]

Sumber: Kompas, Rabu, 15 Desember 2010 | 04:35 WIB

Share

Leave a comment!

You must be logged in to post a comment.