Home » Berita, Pendidikan

Kembalikan TIK ke Kelas

20 May 2016 195 views No Comment

Sejak resmi didirikan berdasarkan Surat Keputusan Kementerian Hukum dan HAM 2015, Komunitas Guru TIK, Keterampilan Komputer, dan Pengelolaan Informasi atau Kogtik punya tujuan tunggal.

Tujuannya berjuang agar mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMP dan SMA atau sederajat yang dihapus dari Kurikulum 2013 segera dikembalikan.

Satu bentuk nyata perjuangan yang baru dilakukan adalah Olimpiade TIK Nasional 2016 di Jakarta. Selama tiga hari, Kamis (5/5) hingga Sabtu (7/5), peserta dari sejumlah sekolah turut dalam beragam lomba yang digelar di gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Inilah ajang olimpiade TIK pertama di Indonesia.

Di dalamnya ada lomba membuat permainan, lomba desain website, robotik, lomba membuat film pendek, dan membuat presentasi. Selain itu, dilangsungkan pula Seminar Parenting dengan tema “ICT for All” dengan menghadirkan pegiat IT Onno W Purbo dan Aranggi Soemardjan.

Seminar itu mengungkap dan menyadarkan hadirin tentang sejumlah hal seperti profesi dan jenis-jenis pekerjaan yang kemungkinan bakal punah setelah diambil alih teknologi. Atau saat Onno mempresentasikan program perangkat lunak Linux Ubuntu yang dirancang untuk pelajar berbagai usia.

Berbagai program belajar aneka mata pelajaran tersebut dirancang dalam bentuk permainan komputer atau gim. Onno beberapa kali menekankan pentingnya melalui proses belajar sembari bermain dan menekuni sejumlah permainan yang terkait dengan tujuan tersebut.

Sebagian peserta asyik mencatat sembari beberapa kali tergelak dengan menutup mulut demi menyadari sejumlah salah kaprah dalam memaknai permainan komputer. Kesalahkaprahan itu terutama seperti pelarangan total konsentrasi pada permainan komputer yang dilakukan sebagian orangtua karena belum menyadari permainan komputer bisa dan semestinya diarahkan sebagai medium belajar.

Kesalahkaprahan yang lantas menimbulkan beragam anomali dalam memahami dan menggunakan TIK itu terjadi juga di kalangan siswa. Wakil Sekjen Kogtik Agung Suprianto yang guru di Madrasah Aliyah Nurul Falah, Tangerang, mengungkap, “Sebagian kasus penipuan lewat media sosial terjadi dengan korban pelajar perempuan.”

KOMPAS/INGKI RINALDI–Sejumlah peserta, Kamis (5/5), tengah mengikuti Seminar Parenting sebagai bagian kegiatan Olimpiade TIK Nasional di gedung Kemdikbud, Jakarta. Kegiatan yang diselenggarakan Komunitas Guru TIK dan KKPI itu berlangsung hingga Sabtu (7/5).

Meski tak spesifik menyebutkan jenis penipuan yang terjadi, Agung menyebutkan kerap kali informasi yang tersaji di layar komputer langsung dipercaya. Padahal, yang semestinya dilakukan adalah melakukan pengecekan fakta atau verifikasi apakah informasi itu benar atau justru fitnah belaka.

Menurut Agung, dihilangkannya mata pelajaran TIK dalam Kurikulum 2013 bukan cuma berdampak terhadap pemahaman, tetapi juga mengurangi semangat berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di era masyarakat informasi dengan data digital sebagai bahan penggerak ekonomi.

Wakil Ketua Kogtik Tri Budi Harjo mengisahkan, Olimpiade TIK Nasional itu sebelumnya didahului kegiatan lain seperti audiensi ke DPR, April, lalu bertemu dengan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 14 Maret, dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden Malik Fadjar.

Perjuangan komunitas menjadi semakin panjang setelah menggabungkan diri sejak April 2014 membentuk Kogtik. Kini Kogtik punya 9.000 orang yang terkoneksi dalam jejaring Facebook dengan 1.500 orang dalam basis data sementara.

Tri mengatakan, sejumlah agenda dan program juga tengah dijalankan, termasuk pertemuan setiap dua hingga tiga kali dalam sebulan. “Kami juga sedang mengadakan program e-learning untuk rakyat,” ujar Tri.

Jakarta, Solo, Bandung, Surabaya, dan menyusul tempat-tempat lain seperti Bekasi, Tegal, Indramayu, dan Semarang menjadi target program itu. Relatif positifnya tanggapan masyarakat terhadap program tersebut makin menguatkan tujuan perjuangan komunitas ini untuk mengembalikan TIK sebagai mata pelajaran SMP dan SMA.

Tri yang mengajar TIK di SMPN 22 Surakarta menyatakan, baginya dan rekan-rekan di Kogtik, perjuangan mengembalikan TIK sebagai mata pelajaran adalah harga mati. (INGKI RINALDI)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 Mei 2016, di halaman 26 dengan judul “Kembalikan TIK ke Kelas”.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.