Home » Berita

Data Hayati Lemah

16 March 2011 848 views No Comment

Basis data hayati Indonesia lemah meski bersemangat menyambut Protokol Nagoya yang membuka akses dan manfaat bagi pemanfaatan sumber daya genetika.

Idealnya, setiap provinsi punya data kekayaan alam khas daerahnya. ”Kami sedang mengintensifkan lagi menambahkan (sumber daya hayati) yang belum terdaftar,” kata Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta di sela-sela seminar ”Aspek Hukum dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik” di Jakarta, Selasa (15/3).

Basis data penting untuk mengetahui sumber daya hayati asli Indonesia. Pengaturan pemanfaatannya oleh negara lain akan diatur Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Genetik yang sedang dibahas.

”Jika negara luar mau pakai, kita tahu asalnya dari mana dan daerah bisa kebagian rezeki dari pemanfaatan sumber daya itu,” kata Gusti.

Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Indonesia Ahmad M Ramli mengakui, basis data Indonesia masih lemah. Basis data penting sebagai bukti hukum kepemilikan.

Ia menyarankan Kementerian Lingkungan Hidup membuat surat keputusan bersama Kementerian Dalam Negeri untuk mendorong gubernur mendata kekayaan sumber daya hayati.

Sikap Indonesia sama dengan negara berkembang lain yang diambil dalam Deklarasi Doha, November 2001, dalam menyikapi kekayaan genetik. Negara-negara berkembang mendesak diberi bukti pembagian keuntungan dari para pemohon paten. ”Pemohon paten harus mengungkapkan sumber material genetik dan pengetahuan tradisional terkait,” katanya.

Data LIPI

Direktur Pusat Peneliti Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Siti Nuramaliati Prijono mengaku punya basis data spesimen fauna di Cibinong. Sejumlah 2 juta contoh tumbuhan terdiri atas herbarium kering, herbarium basah, buah kering, biji, paku-pakuan, dan lumut.

Fauna ada 2,7 juta spesimen sebagai koleksi ilmiah zoologi, yang terdiri atas 25.500 spesimen mamalia, 30.500 burung, 2.280.000 serangga, 11.000 amfibi, 8.000 reptil, 140.000 ikan, 180.000 moluska, dan sekitar 25.000 invertebrata lain.

”Ini baru 20 persen spesies di Indonesia. Yang banyak belum ketahuan jenis serangga,” katanya. Data spesimen itu diakui masih data mentah, berisi lokasi asal spesimen dan identifikasi fisik. Perlu diperdalam sifat genetika dan kegunaannya. (ICH)

Sumber: Kompas, 16 Maret 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.