Home » Artikel

Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!

8 April 2011 1,218 views One Comment

Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai—katakanlah hingga dua dekade ke depan—yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur.

Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur. Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun. Dalam ”kalimat lain”, ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya.

Jadi, untuk apa sebenarnya generasi baru bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi? Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang.

Jika sebagian besar lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu untuk apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?

Sir Ken Robinson, profesor pakar pendidikan dan kreativitas dari Inggris, dalam orasi-orasinya, yang menyentakkan ironisme: menggambarkan betapa sekarang ini sudah terjadi inflasi gelar akademis sehingga ketersediaannya melampaui tingkat kebutuhan. Akibatnya, nilainya di dunia kerja semakin merosot. Lebih dari itu, ia menilai sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para siswa. Maka, harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih mengutamakan pembangunan kreativitas.

Paul Krugman, kolumnis The New York Times yang disegani, dalam tulisannya pada 6 Maret 2011, menegaskan fakta-fakta di Amerika Serikat bahwa posisi golongan kerah putih di level menengah— yang selama beberapa dekade dikuasai para sarjana dan bergaji tinggi—kini digantikan peranti lunak komputer. Lowongan kerja untuk level ini tidak tumbuh, malah terus menciut. Sebaliknya, lapangan kerja untuk yang bergaji rendah, dengan jenis kerja manual yang belum bisa digantikan komputer, seperti para petugas pengantaran dan kebersihan, terus tumbuh.

Kreativitas dan imajinasi

Fakta lokal dan kondisi global tersebut harus segera diantisipasi oleh para pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. Persepsi kultural dan sosial yang mengangankan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan semakin mudah mendapatkan pekerjaan adalah mimpi di siang bolong!

Namun, jika orientasi masyarakat tetap untuk ”jadi pegawai”, yang harus difasilitasi adalah sekolah-sekolah dan pelatihan-pelatihan murah dan singkat. Misalnya untuk menempati posisi operator, baik yang manual seperti pekerjaan di bidang konstruksi, manufaktur, transportasi, pertanian, ataupun yang berbasis komputer di perkantoran. Untuk itu, tak perlu embel-embel (sekolah) ”bertaraf internasional” yang menggelikan itu karena komputer sudah dibuat dengan standar internasional.

Akan tetapi, kualitas peradaban sebuah bangsa tak cukup hanya ditopang oleh para operator di lapangan. Mutlak perlu dilahirkan para kreator yang kaya imajinasi. Oleh karena itu, seluruh potensi kecerdasan anak bangsa harus dibangun secara lebih serius yang hanya bisa dicapai jika rangsangannya diberikan sejak usia dini. Maka, diperlukan metode pengajaran yang tak hanya membangun kecerdasan visual-auditori-kinestetik, juga kreativitas dan kemandirian.

Kata kuncinya adalah ”kreativitas” dan ”imajinasi”; dua hal yang belum akan tergantikan oleh komputer secerdas apa pun! Zaman terus berubah. Sistem pendidikan dan paradigma usang harus diganti dengan yang baru. Era teknologi analog sudah ketinggalan zaman. Kini kita sudah memasuki era digital.

Itu artinya, konsep tentang ruang dan waktu pun berubah. Hal-hal yang tadinya dikerjakan dalam waktu panjang, dengan biaya tinggi, dan banyak pekerja, jadi lebih ringkas. Maka, tujuan paling mendasar dari suatu sistem pendidikan baru harus bisa membangun semangat ”cinta belajar” pada semua peserta didik sejak awal. Dengan spirit dan mentalitas ”cinta belajar”, apa pun yang akan dihadapi pada masa depan, mereka akan bisa bertahan untuk beradaptasi, menguasai, dan mengubahnya.

Membangun semangat ”cinta belajar” tak perlu harus ke perguruan tinggi. Kini seluruh ilmu pengetahuan sudah tersedia secara digital, bisa diakses melalui komputer di warnet ataupun melalui telepon genggam.

Jadi, cukup berikan kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang dibutuhkan di internet, dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia maya tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan. Anak-anak cukup sekolah 12 tahun saja (mulai dari pendidikan anak usia dini, PAUD)! Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada.

Yudhistira ANM Massardi Sastrawan; Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa, TK-SD Batutis Al-Ilmi Bekasi

Sumber: Kompas, 8 April 2011

Share

One Comment »

  • Abu Khaulah Zainal Abidin said:

    Pertama, Sekolah itu meliputi berbagai jenjang. Dari TK sampai ke Perguruan Tinggi. “Berhentilah Sekolah…” itu berhenti dari semuanya atau dari sebagiannya? Sebab, tampaknya tulisan ini fokus pada kasus pengangguran terpelajar, tepatnya pengangguran pelajar tingkat menengah ke atas (Perguruan Tinggi)
    Kedua, persoalan pengangguran, maka menurut saya itu lebih disebabkan oleh masalah kurikulum, bukan masalah sekolah sebagai institusi. Juga bukan karena pemerintah gagal menyediakan lapangan kerja, dan masalah ini pun menimpa negara-negara maju sekalipun.. Pengangguran itu disebabkan karena rakyat dibebaskan (baca: tidak diarahkan) memilih bidang-bidang ilmu menurut kesukaannya sendiri, bukan menurut kebutuhan kelak di akhir masa belajarnya. Ya, apa jadinya kalau semua belajar satu macam ilmu dan semua berharap untuk menjadi seorang ahli di bidang ilmu tersebut? Seharusnya -sejak awal- Pemerintah sudah mengatur bidang-bidang apa saja di dalam Ilmu Ilmu Dunia / Ilmu Peradaban yang masih terbuka untuk dipelajari dan mengarahkan bangsanya untuk mengisi kekosongan. Dengan begitu tidak terjadi kelebihan tenaga professional di satu bidang sehingga menimbulkan pengangguran, atau kekosongan di profesi / keahlian yang lain -dokter wanita ahli kandungan, misalnya- yang menyebabkan seluruh negeri –Indonesia khususnya- ikut berdosa karena meninggalkan fardlu kifayah ini.
    Kesimpulannya, analogikan saja sekolah itu dengan rumah sakit, ilmu dengan obat, dan guru dengan dokter. Artinya, toh tidak semua yang sakit atau penyakit itu harus ditangani dokter atau rumah sakit. Ada yang bisa diobati sendiri, ada yang cukup ke poliklinik atau puskesmas, ada yang terpaksa harus ke rumah sakit. Terpaksa ke rumah sakit, ya, terpaksa. Karena itu adalah pilihan terakhir kalau memang sudah tidak ada cara lain yang lebih mudah. Bahkan obat pun ada yang bisa diupayakan sendiri dari bahan-bahan yang tersedia di rumah, ada yang harus dibeli di apotik, dan ada yang memerlukan jasa orang lain untuk memasukkannya. Begitu pula pasien, ada yang bisa rawat jalan dan ada yang harus rawat inap. Apa karena ada (-tidak sedikit memang-) rumah sakit yang melakukan malpraktek, pelayanannya yang brengsek, atau dokter yang kurang berkualitas tapi kelewat komersil, kemudian ramai-ramai kita mengatakan, “Berhentilah ke Rumah Sakit Sebelum Terlambat.” ? Yang benar adalah, “ Jangan ke Rumah Sakit Kalau Tak Perlu.” Begitu juga dengan sekolah.
    Allahu A’lam bish-shawab

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.