Home » Berita, Sosok

Arkeolog Pertama Indonesia Itu Telah Tiada

10 June 1997 118 views No Comment

DUNIA arkeologi Indonesia berduka. Prof Dr Soekmono (75), arkeolog Indonesia pertama, Senin (9/6) pagi meninggal dunia. Mantan Kepala Proyek Pemugaran Candi Borobudur (1973-1983) ini diduga wafat terkena serangan jantung kronis yang diidapnya sejak lama. Tidak diketahui waktu persis meninggalnya perintis sekaligus tokoh dunia arkeologi Indonesia ini.

”Sekitar pukul 04.00 pembantu masih sempat menengok Bapak yang tengah tertidur di kamarnya. Sampai saya datang dari Bogor pagi tadi sekitar pukul 06.45, Bapak belum juga bangun. Dan ketika saya masuk ke kamarnya, ternyata Bapak sudah berpulang,” kata Koko, anak ke-10 almarhum Soekmono.

Selain mengidap penyakit jantung kronis, semasa akhir hidupnya almarhum juga menderita penyakit diabetes dan asma. Meski beberapa waktu lalu sempat masuk rumah sakit, namun hingga menjelang usianya ke-75 (lahir di Brebes, Jawa Tengah, 14 Juli 1922) ia tidak pernah betul-betul istirahat. Selain menjadi promotor sejumlah calon doktor bidang arkeologi, Soekmono juga banyak dilibatkan oleh bekas murid-muridnya menjadi semacam konsultan tidak resmi di berbagai proyek, khususnya yang menyangkut bidang kepurbakalaan, lebih khusus lagi di bidang percandian.

”Bulan lalu, persisnya tanggal 10 Mei, Pak Soek (begitu ia akrab dipanggil di kalangan arkeolog Indonesia-Red) dan saya masih bersama-sama menguji disertasi Pak Anom (I Gusti Ngurah Anom, saat ini Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Depdikbud-Red) di Yogakarta. Pak Soek yang bertindak selaku promotor, sedangkan saya cuma ko-promotornya,” kata Noerhadi Magetsari, mantan Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) yang kini Kepala Arsip Nasional RI.

photo_2016-05-22_09-04-12Sejumlah karangan bunga menghiasi rumah duka di Jl Tebet Barat Dalam IV No 25, Jakarta Selatan. Selain Noerhadi, di antara ratusan pelayat yang terus berdatangan tampak Prof Dr Hasan Muarif Ambary (Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), Prof Dr Ayatrohaedi, Prof Dr Hariani Santiko dan Prof Dr Sapardi Djoko Damono dari FSUI, serta mantan Direktur Permuseuman Sujatmi Satari. Dirjen Kebudayaan Prof Dr Edi Sedyawati serta Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala (Ditlinbinjarah) IGN Anom juga tampak hadir menjelang jenazah diberangkatkan menuju pemakaman umum Menteng Pulo, Jakarta Selatan.
PROF Dr Soekmono adalah murid langsung Bernet Kempers, arkeolog Belanda yang banyak mengungkap sejarah purbakala Indonesia. Bersama rekan satu angkatannya, (alm) Prof Dr Satyawati Suleiman, Pak Soek disebut-sebut sebagai peletak dasar pengembangan dunia arkeologi di Tanah Air. Bahkan khusus dalam masalah percandian, Pak Soek boleh dikatakan sebagai mbah-nya, mengingat pengetahuannya dalam dan luas di bidang ini.

Tak aneh bila berita meninggalnya Pak Soek segera menyebar. Tak cuma di Jakarta, informasi berpulangnya Pak Soek hari itu juga sudah diterima oleh para arkeolog di berbagai kota. Meski sudah tergolong sepuh dan diketahui mengidap komplikasi penyakit, namun sejumlah arkeolog yang ikut melayat umumnya tetap mengaku kaget mendengar berita kepergian almarhum.
“Beberapa hari lalu kami sempat bertandang ke sini dan ngobrol. Waktu itu Pak Soek tampaknya sehat-sehat saja. Ia malah bertanya tentang bukunya yang menurut rencana akan diterbitkan Kompas. Kata Pak Soek, alangkah baiknya kalau buku ini bisa terbit pada ulang tahunnya ke-75 bulan depan.” kata Lien, staf peneliti pada Pusat Panelitian Arkeologi Nasional seraya mengutip ucapan Pak Soek.

“Meninggalnya Pak Soek merupakan suatu kehilangan besar bagi bangsa ini,” kata Hari Untoro Dradjat, arkeolog yang juga Kasubdit Perlindungan pada Ditlinbinjarah Depdikbud. Bagi Hari Untoro, sosok almarhum adalah pemberi inspirasi sekaligus tokoh ‘pemandu’ dalam kerja lapangan. “Pak Soek menanamkan bagaimana seharusnya memahami kaidah-kaidah arkeologi yang benar. Salah satu prinsip yang dianut adalah bagaimana kita bekerja tidak secara serampangan. Dan itu yang saya pegang, meski proyek tersebut diburu-buru oleh tuntutan sesuai ketentuan Bappenas.” tambah Hari Untoro.

Selain sebagai murid langsung di FSUI pada paruh kedua tahun 1970-an, Hari juga mengaku sangat terkesan akan kesederhanaan, sikap dan jiwa besar almarhum sebagai ilmuan. Kekaguman itu makin kental ketika selaku pimpinan proyek pemugaran situs Trowulan di Jatim ia meminta Soekmono sebagai konsultan senior. Almarhum saat itu tetap kukuh dengan pendapatnya, bahwa perubahan bahan baku dalam proses pemugaran sama artinya dengan pemalsuan. Meski demikian Pak Soek tidak ingin menang sendiri. Dalam satu diskusi ia akhirnya bisa memahami pendapat yang disodorkan bekas muridnya itu, bahwa konsep keaslian dalam pemugaran tidak selalu berlaku kumulatif melainkan bersifat alternatif.

“Tetapi di luar ternyata Pak Soek sebenarnya tetap tidak bisa menerima. Prinsipnya mengenai keaslian benda peninggalan purbakala tetap ia pegang teguh. Dan itu ia tunjukkan dengan cara tidak mau lagi mengunjungi Trowulan,” kata Hari Untoro Dradjat.
Sikap yang ditunjukkan almarhum tidak lain adalah bagian dari apa yang disebut tanggung jawab ilmuan. Kepada Kompas beberapa tahun lalu di Palembang, almarhum juga pernah mengungkapkan hal serupa. Sebagai pakar percandian, sekali waktu ia dimintai pendapat dalam proses pemugaran candi di Muara Mengening, Bali. Dalam pertemuan itu ia menyarankan agar candi beraksitektur Bali itu dipugar menyerupai candi-candi di Dieng. Pertimbangan ini didasarkan temuan makara yang semula diidentifikasikan memiliki persamaan dengan candi-candi di Dieng.

”Padahal makara yang ada di sana bisa saja digunakan untuk pancuran air. Karena itulah, hingga sekarang saya tidak mau ke sana. Terus terang saya merasa malu dan merasa ikut berdosa.” kata almarhum ketika itu.
***
SEBAGAI ilmuwan, almarhum Soekmono tergolong ‘nakal’, dalam arti suka melontarkan gagasan-gagasan aneh namun bersifat menggugat. Di depan peserta Kongres Ikatan Ahli Arkeologi ke-7 di Cipanas beberapa waktu lalu misalnya, Pak Soek mengajukan semacam pertanyaan yang cukup menyentak. “Mungkinkah guru topografi nenek moyang kita adalah makhluk dan angkasa luar?” katanya.

Pertanyaan ‘nakal’ itu muncul setelah ia mengamati berbagal fenomena menyangkut disain dan tata letak sejumlah peninggalan purbakala, khususnya di Indonesia. Borobudur yang menyerupai kelopak bunga teratai misalnya, dibangun menghadap ke udara lepas sebagai tempat turun sang Budha. Lalu peta kuno dari Istana Topkapi di Turki yang dibuat jauh sebelum Columbus mangelilingi bumi, jika diamati benar-benar ternyata hampir sama persis dengan peta bikinan Angkatan Udara Amerika Serikat.

Pertanyaan ”nakal” itu hingga kini belum juga terjawab. Adakah arkeolog lndonesia masa kini yang tertarik meneruskan pertanyaan-pertanyaan menggugat almarhum? Ataukah kita percayakan saja pada khayalan ilmiah Erich von Daniken, bahwa ribuan tahun lampau bumi ini pernah kedatangan makhluk-makhluk asing dari planet lain? (ken)

Sumber: Kompas, 10 Juni 1997

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.