Home » Artikel, Tokoh

Ainun, Sang Mata yang Mengilhami Itu…

31 May 2010 824 views No Comment

Malam itu, Kamis (27/5/2010), sekitar pukul 20.30 WIB, acara tahlilan tujuh hari kepergian ibu negara ke-3 RI, Hasri Ainun Habibie, baru saja usai. Mantan Presiden BJ Habibie segera masuk ke kamar pribadinya di kediaman yang berada di kawasan Patra Kuningan, Jakarta.

Habibie yang ahli aeronotika itu masih berduka atas kepergian istrinda tercinta, yang telah menemaninya selama 48 tahun. Ia ikhlas melepas Ainun, tapi pastilah kini ternganga lubang besar di hatinya.

Dalam kesunyian kamarnya—meski di luar pentakziah masih tinggal, bahkan sebagian masih berdatangan, ingatan Habibie—lepas isya itu—mungkin terbang jauh tinggi di awan.

Bila ada melodi yang singgah di jiwanya, kiranya bukan Sepasang Mata Bola ciptaan Ismail Marzuki yang selama ini ia sukai. Dari lirik Stardust karya Carmichael boleh jadi lebih tepat.

”When our love was new, and each kiss an inspiration….” Ya, karena Ainun adalah ilhamnya meski mendiang tak tahu tentang ”Crack Theory” (Teori Penjalaran Retakan pada metal pesawat yang Habibie ciptakan).

”Though I dream in vain, in my heart it will remain, my Stardust melody, the memory of love refrains.” Ya, kenangan atas cinta tak kan pernah lekang di hati sekalipun mimpi pun tak kan kuasa mengembalikan Ainun.

Siapakah Ainun yang berbahagia menjadi wanita pujaan teknolog yang lalu pernah menjadi presiden ini? (Bernada mengolok, mantan Ketua Rektorium ITB Sudjana Sapiie malah pernah menyebut ”Wie is de ongelukkige?” (Dari bahasa Belanda, Siapa yang kurang beruntung tersebut?)—justru ketika Habibie dengan matanya yang berbinar-binar itu berseru ”Ich bin verliebt!—Saya jatuh cinta!; seperti dikenang Leila Z Rachmantio, dalam buku Testimoni untuk Habibie, yang disunting A Makmur Makka, 2009)

Bisa saja, Ainun tidak beruntung karena sebagai gadis remaja cantik yang banyak ditaksir pemuda, ia pernah menyebut Rudy—panggilan akrab Habibie—bukan satu-satunya pria yang menjadi perhatiannya. Ada mahasiswa hebat-hebat dan gagah-gagah mengendarai motor HD yang lebih menarik.

Sebaliknya, Rudy pun pernah mengolok Hasri—dengan kalimat yang disebut tak bisa ia lupakan—”Hei, kenapa sih kamu kok gendut dan hitam?” Sebenarnya Ainun sendiri tidak menolak disebut hitam karena ia suka olahraga sofbol, voli, dan berenang. Ainun juga mengaku ia suka makan. ”Jadi, kulit saya memang agak hitam. Badan memang berisi,” tulisnya di buku Testimoni.

Tatkala bertemu lagi dengan Ainun yang sudah lulus jadi dokter, Habibie (yang saat itu sudah bergelar insinyur) mengatakan, ”Kok gula Jawa sudah jadi gula pasir?”

Kemudian, kisah cinta ini pun berlanjut. Rudy bisa kembali ke Tanah Air setelah mendapat hadiah karena desain gerbong kereta api yang dilombakan dalam sayembara Deutsche Bundesbahn menang.

Ainun, yang saat itu sudah bekerja di Bagian Anak FKUI, lalu menikah dengan pemuda yang sudah ia kenal sejak masa SMA itu pada 12 Mei 1962. (Inilah jalan cerita lain dari Gita Cinta dari SMA, mungkin lebih impian dari kisah Galih dan Ratna yang terkenal itu.)

Ainun pun mengikuti permintaan Rudy untuk ikut ke Jerman, menemaninya melanjutkan studi untuk mencapai doktor insinyur dari Universitas Aachen. Di rantau, keluarga muda Habibie tinggal dengan menyewa sebuah paviliun tiga kamar dan ketika Ainun hamil putra pertama—kelak lahir dan diberi nama Ilham Akbar Habibie—ia merasa paviliun itu akan terlalu kecil bila anak sudah lahir. Mereka pun lalu pindah di rumah susun di Oberforstbach yang lebih lega.

Namun, Oberforstbach terpencil dan Ainun kesepian, jauh dari keluarga, bahkan teman. Sang suami sendiri umumnya pulang larut malam karena harus bekerja dan menyelesaikan program doktornya. Ainun mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Ia mengerjakan tugasnya sebagai istri dan calon ibu sepenuhnya. ”Saya belajar untuk tidak mengganggu konsentrasinya dengan persoalan-persoalan di rumah,” kenangnya.

”Saya bahagia malam hari berdua di kamar. Dia sibuk di antara kertas-kertas yang berserakan di tempat tidur. Saya menjahit, membaca, atau melakukan pekerjaan rumah lainnya.” Ainun mengaku, di antara dirinya dan suami terbentuk komunikasi tanpa bicara. Semacam telepati, katanya.

Setelah anak kedua—Thareq—lahir, dan Habibie makin sibuk, Ainun pun banyak merangkap tugas sebagai ayah dan sopir bagi kedua anaknya. Tapi, karier Habibie meningkat dan ia ingin sang istri mengikuti. Ainun pun bergaul dengan lingkungan suami: di sana ada banyak ilmu, teknologi, bisnis, yang terus meningkat.

Namun, suatu saat, ketika biaya hidup meningkat, Ainun memberanikan diri bekerja. Saat itulah ia merasa sebagai wanita mandiri dengan gaji lebih dari cukup. (Ia bisa membantu suami membeli tanah dan rumah di Kakerbeck, di luar kota Hamburg).

Namun, satu hari Thareq sakit dan hatinya pun patah. Anak orang diurus, anak sendiri kurang terawat, ujarnya. Akhirnya ia berhenti bekerja dan kembali ke falsafah hidup ketika di Oberforstbach, yang mengutamakan kepentingan anak dan keluarga daripada kepuasan profesional dan gaji tinggi.

”Menyesalkah saya mengambil keputusan itu? Menyesalkah saya berketetapan menjadi pencinta, istri, dan ibu? tanyanya tanpa jawab tahun 1986 yang dimuat lagi dalam Testimoni.

Dengan digembleng dalam cinta kepada suami itu pula Ainun juga kembali ke Indonesia tatkala Presiden Soeharto memanggil pulang suaminya tahun 1974. Ainun yang sebelumnya hidup di alam sepi Oberforstbach dan Kakerbeck, lalu jadi Bu Menteri Riset dan Teknologi, yang selain itu juga memimpin sekitar 25 perusahaan negara, lalu menjadi Bu Wakil Presiden, dan bahkan Ibu Negara.

Mobilitas vertikal yang dahsyat itu memang kemudian membawanya sebagai wanita di samping puncak kekuasaan. Namun—sungguh—itulah era turbulen, bahkan ada yang bilang Indonesia sedang nose diving, bak pesawat yang menukik turun untuk crash. Krisis ekonomi sedang hebat-hebatnya, politik pascareformasi juga amat tidak stabil.

Habibie mendaku—dan banyak pula yang mengakuinya—ia berhasil mengerem proses stall (pesawat kehilangan daya angkat) Indonesia dan pesawat itu berhasil abfangen (mendapatkan kembali kemampuan terbangnya). Namun, siapa peduli? Ketika menghadiri pengambilan sumpah Ketua MPR terpilih 1 Oktober 1999, ia mendengar suara ”Huu..” dari sejumlah anggota Dewan. Habibie tahan ejekan itu. Juga ketika kemudian tanggal 14 Oktober 1999 pidato pertanggungjawabannya ditolak di MPR.

Namun, boleh jadi bagi Ainun, semua ingar bingar itu sudah ”terlalu banyak”. Problem di katup jantungnya boleh jadi memburuk dengan itu semua. Setelah BJ Habibie tak lagi jadi presiden, yang terdengar adalah Bu Ainun sering berobat di Jerman.

Sampai, satu saat kemudian, mantan Ibu Negara ini bisa lebih sering dan lebih lama tinggal di Indonesia. Antara lain ia dapat menghadiri acara peluncuran buku karya kakaknya, Prof Sahari Besari, di Jakarta sekitar dua tahun silam.

Pekan terakhir Maret silam, ketika Agung Nugroho, salah seorang murid ideologis Habibie di bidang aeronotika, berniat menghadap Sang Guru untuk pendirian (kembali) Institut Aeronotika dan Astronotika (IAAI), Habibie sudah terbang kembali ke Jerman karena kondisi Ainun memburuk. Di RS Ludwig Maximillians Universitat Klinikum Gro’hadem, Munchen, Ainun menjalani serangkaian operasi. Namun, pukul 17.30 waktu setempat (22.30 WIB) Sabtu 22 Mei, Ainun menyerah.

Kini, ”Sang Mata Teduh” yang setelah mencurahkan hidup untuk cinta kepada keluarga kemudian meluaskannya untuk kemajuan pendidikan di Indonesia melalui Yayasan Orbit dan membantu penderita tunanetra melalui Perhimpunan Penyantun Mata Tunanetra (PPMT) itu telah beristirahat dengan tenang di TMP Kalibata.

Kehidupannya yang berakhir baik (khusnul khatimah) itu pun ditandai dengan ribuan warga yang mengantarnya ke makam dan mendoakannya dalam tahlilan yang berlangsung malam-malam ini.[Oleh Ninok Leksono]

Sumber: Kompas, 30 Mei 2010

Share

Leave a comment!

You must be logged in to post a comment.