Waspadai Profesi yang Akan Tergerus Kemajuan Teknologi

- Editor

Kamis, 3 Desember 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Merencanakan kuliah sudah tidak sesederhana dulu lagi. Hal paling penting, calon mahasiswa perlu mencermati kurikulum pendidikan, sejauh mana memberi bekal bagi mahasiswa untuk beradaptasi dengan masa depan.

Dengan demikian, ilmu yang didapat tidak usang. Calon mahasiswa perlu juga mewaspadai profesi yang akan tergerus kemajuan teknologi

Ina Liem, infopreneur seputar jurusan kuliah dan peta karier, di Jakarta, Rabu (2/12), mengatakan, masa depan ketenagakerjaan saat ini berubah, terutama karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Sebuah studi di Inggris oleh C Frey dan M Osborne tentang masa depan ketenagakerjaan menyebutkan, dari 702 macam profesi yang diteliti, banyak profesi yang berisiko tinggi tergantikan komputerisasi. Hal itu kebanyakan profesi yang mengandalkan pekerjaan repetitif, seperti kasir, call center, buruh, dan pengawas di pabrik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam acara Macquarie Info Day, pekan lalu di Jakarta, dengan topik “The Sexiest Major In 21 Century”, Paul Schreier, Chief Operating Officer dari Macquarie University, menyatakan bahwa perguruan tinggi, termasuk Macquarie, harus selalu tanggap terhadap perubahan zaman dan inovatif dalam pembuatan kurikulum pengajaran. Dalam ilmu aktuaria, misalnya, yang umumnya masih diberikan berupa pelatihan non-gelar oleh perusahaan, Macquarie menawarkan program studi ini di universitas sebagai sebuah jurusan formal.

Terlibas zaman
Philomena Leung, pakar akuntansi dari Macquarie University, mengatakan, program studi Akuntansi yang masih menekankan pada materi kuliah model lama akan dilibas perkembangan teknologi dan perubahan zaman. Para pakar dan konsultan di negara maju mulai mengingatkan bahwa laporan yang hanya membahas aspek keuangan sudah tidak memadai. Investor, pemerintah, dan pemangku kepentingan lain butuh laporan yang lebih menyeluruh.

“Universitas tak punya pilihan selain berbenah. Jika tidak banyak keterampilan, para akuntan akan segera usang. Salah satu solusinya adalah dengan merombak kurikulum program studi Akuntansi dengan yang berwawasan ke depan,” kata Leung.

Ina mengatakan, suka atau tidak, dunia berubah cepat. Sejumlah perguruan tinggi ternama di luar negeri berancang-ancang mengganti mata kuliah dengan berbagai materi yang lebih menjawab persoalan di masa depan.

Perubahan ketenagakerjaan juga antara lain terjadi di bidang jurnalistik. Menurut Julian Knowles dari Macquarie University, dulu peliputan dilakukan oleh satu tim, yakni jurnalis, kamerawan video, juru foto dan sopir. Kini, jurnalis dituntut mampu melakukan semuanya sendiri. (ELN)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Desember 2015, di halaman 12 dengan judul “Waspadai Profesi yang Akan Tergerus Kemajuan Teknologi”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB