Home / Berita / Video Digital, Bersaing Mutu Konten dan Model Bisnis

Video Digital, Bersaing Mutu Konten dan Model Bisnis

Industri konten internet berbentuk video semakin berkembang pesat dengan aneka model kerja yang mengganggu layanan tradisional. Meski saling berkompetisi kualitas konten, pelaku industri terkendala monetisasi bisnis, terutama di negara berkembang Asia.

Laporan riset eMarketer ”New Worldwide Over-The-Top Video Services Figures (Juli 2018)” menyebutkan, pada 2018, sebanyak 765 juta orang di seluruh dunia diperkirakan menggunakan layanan konten internet berbentuk video (over-the-top video-on-demand/OTT VOD) secara berlangganan, setidaknya sekali per bulan.

Jumlah itu mewakili 10,2 persen dari populasi global. Pasar OTT VOD berkembang berkat penetrasi penggunaan internet yang lebih cepat dan konsumsi konten hiburan.

gerai promo Oona TV saat acara peluncuran aplikasi Oona TV tanggal 19 September 2018 di Ballroom Telkom Landmark lantai 6, Jakarta.
Kompas/Mediana (MED)

KOMPAS/MEDIANA–Gerai Promo Oona TV saat acara peluncuran aplikasi Oona TV di Ballroom Telkom Landmark Lantai 6, Jakarta, beberapa waktu lalu. OONA TV adalah OTT VOD yang fokus utamanya adalah konten tayangan televisi, baik dari stasiun televisi free-to-air maupun televisi kabel.

Vice President Corporate Communications Asia Netflix Jessica Lee mengatakan, seiring dengan pertumbuhan hiburan lewat internet, kian banyak perusahaan melihat peluang besar di industri ini.

Perusahaan pembuat konten kini bergeser menuju pendistribusian konten secara independen, sedangkan perusahaan teknologi berinvestasi konten premium guna memajukan platform distribusi mereka.

Netflix memiliki 137 juta pengguna di seluruh dunia. Netflix menawarkan berbagai acara televisi, film komersial, stand-up comedy, dan film dokumenter.

Terkait strategi lokalisasi, Jessica menegaskan bahwa Netflix masih berada di tahap awal. Namun, strategi ini telah memperoleh respons positif dari pelanggan.

”Tujuan kami adalah memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan. Penggunaan bahasa setempat ataupun konten yang diproduksi sineas lokal diharapkan membuat Netflix semakin diminati,” ujarnya.

Menyorot pasar Asia, Senior Sales Asia Demand Facilitation SpotX Antoinette Patterson dalam artikel opininya di thedrum.com memandang konsumsi atas penawaran layanan OTT VOD masih rendah.

Namun, pertumbuhan pemakaiannya terus bergerak naik seiring meningkatnya adopsi ponsel pintar dan kebiasaan mengonsumsi konten digital.

Mengutip laporan Digital TV Research ”The Asia Pacific OTT TV and Video Forecast (Juli 2018)”, jumlah pelanggan OTT VOD di Asia Pasifik sebanyak 141 juta orang pada 2017. Proyeksinya akan terdapat 351 juta pelanggan pada 2023.

Pendapatan OTT VOD dari episode tayangan televisi ataupun film di Asia Pasifik terekam sekitar 15 miliar dollar AS pada 2017 dan diprediksi naik tiga kali lipat pada 2023. Lokalisasi konten menjadi salah satu faktor pendongkrak pendapatan.

Firma konsultan strategi dan ekonomi AlphaBeta melalui laporan risetnya bertajuk ”Asia-on-Demand: The Growth of Video-on-Demand Investment in Local Entertainment Industries” menyebutkan, para penyedia layanan VOD akan berinvestasi produksi konten lokal hingga 10,1 miliar dollar AS di pasar Asia dalam lima tahun mendatang.

Pemain OTT VOD lainnya, Viu, juga menggunakan cara sama seperti Netflix untuk memenangkan pasar Asia. President and Chief Operation Officer Vuclip (pengelola merek Viu) Arun Prakash menceritakan, di Indonesia, Viu menyelenggarakan Viu Pitching Forum, kompetisi tahunan penulisan skenario atau cerita film. Pemenang utama berhak memilih sutradara dan artis. Produksi hingga distribusi film dilakukan oleh Viu.

Arun mengungkapkan, 70 persen pengguna Viu adalah perempuan dengan rentang usia 13-65 tahun. Mereka tergolong penggemar berat konten lokal Asia, seperti serial drama dan reality show Korea Selatan.

Keluhkan biaya
Kenyataannya, tidak semua pengguna OTT VOD secara global menyambut baik adanya biaya paket berlangganan. Ini berlaku pula di Asia, terutama terjadi di negara berkembang.

Jessica mengemukakan, di negara berkembang, seperti Indonesia, Netflix akhirnya memutuskan bekerja sama dengan operator telekomunikasi seluler, misalnya Bolt, XL Axiata, Hutchison Tri Indonesia, dan Smartfren. Melalui kerja sama ini, pengguna Netflix dapat menikmati layanan Netflix dengan tenang karena ada paket data video yang dirancang khusus untuk hiburan.

Arun menceritakan, pengguna Viu di negara berkembang Asia belum banyak yang memilih berlangganan paket premium. Ini menghambat perusahaan memonetisasi bisnis.

Pada 2015, MarkPlus ingin mengetahui sejauh mana konektivitas internet serta hiruk pikuk media sosial memengaruhi perubahan perilaku menonton televisi free-to-air.

Melalui survei Young MarkPlus Insight 2015, 74,5 persen dari 6.789 responden usia 15-34 tahun di 18 kota masih menjadikan televisi sebagai media paling sering diakses selama setahun terakhir.

Meski menyasar generasi muda, hasil survei MarkPlus tahun 2015 tersebut kiranya masih relevan hingga sekarang. Popularitas televisi, utamanya free-to-air, tetap diakui.

Migrasi televisi
Managing Director Viva Group David Burke berpendapat, migrasi ke OTT adalah keniscayaan walaupun sampai sekarang 90 persen dari sekitar 67 juta rumah tangga di Indonesia masih menonton televisi free-to-air. Viva Group membawahi stasiun televisi TvOne dan ANTV.

”Kami memiliki beberapa konten televisi populer, misalnya Karni Ilyas dengan Indonesia Lawyers Club. Namun, kami menyadari bahwa pengguna ponsel pintar semakin bertambah banyak. Mau tak mau kami pun terjun ke OTT,” ujarnya.

Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik TVRI Helmi Yahya mengungkapkan pandangan senada. Seiring dengan revitalisasi infrastruktur fisik ke digital, TVRI juga sudah mengembangkan tvri.go.id, semacam platform tayangan televisi beraliran langsung (TV streaming).

Kedua instansi tersebut adalah mitra dari OONA Media Indonesia (OONA TV), sebuah OTT VOD yang fokus utamanya adalah konten tayangan televisi, baik dari stasiun televisi free-to-air maupun televisi kabel.

OONA Media Indonesia adalah anak perusahaan dari PT NFC Indonesia Tbk yang bekerja sama dengan PT MetraNet, sebagai bagian dari PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Sejak mulai resmi beroperasi Juli 2018, aplikasi OONA TV telah diunduh sekitar 1,7 juta warga Indonesia dan 75 persen di antaranya konsumen aktif setiap bulan. Lebih dari 200 kanal stasiun televisi lokal dan internasional ada di platform OONA TV.

Country Manager OONA Media Indonesia Andrini Novie menjelaskan, OONA TV memperkenalkan cara baru menonton siaran televisi secara gratis dan menyenangkan.

Cara kerja seperti itu seolah menjawab kenyataan sejumlah konsumen yang keberatan membayar biaya pemakaian OTT VOD. Direktur Pengembangan Bisnis PT MetraNet Setya Budianto optimistis, cara tersebut bakal berhasil.

Untuk memonetisasi bisnis, OONA TV mengandalkan pemasukan dari iklan. Penayangan jenis iklan disesuaikan dengan karakteristik perilaku pengguna. OONA TV memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk penayangan iklan.

Dengan kondisi pasar OTT VOD Indonesia belum matang, OONA TV kemungkinan akan dipasarkan menggunakan metode paket data seluler khusus video. (MED)

Sumber: Kompas, 18 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: