Home / Artikel / Untuk Apa Kuliah?

Untuk Apa Kuliah?

Dunia semakin tua, hidup kian susah, per-saingan semakin ketat, cari kerja kian sulit. Kalau tidak kuliah, kalau tidak jadi sarjana, mau jadi apa?

HAI dik, untuk apa susah-susah berdesakan mendaftar ke Perguruan Tinggi? Mau jadi sarjana, itu pasti. Tapi, untuk apa jadi sarjana? Ya, untuk apa?

Sebagian dari kalian akan menjawab: Oh bung, aku ingin datang ke kampus, bergelut dengan buku, menekuni matakuliah, tenggelam di perpustakaan, mengejar menangkap dan mencintai ilmu pengetahuan untuk kemudian mengabdi pada ilmu itu sendiri, mempersembahkan hasilnya kepada masyarakat, bangsa dan negara. Jawaban yang mentereng, tapi bukan mustahil.

Sebagian lagi akan berteriak lantang: aku kuliah rajin dan tekun, agar jalan hidupku mudah dan aman. Aku ingin jadi sarjana; akan kupakai sebagai modal dan ujung tombak untuk menerobos medan laga masa depan.

Lalu ada yang bilang, ya, aku ingin membentuk kepribadian di kampus, menjadi manusia mandiri, berpengetahuan luas, bermoral Pancasilais, dan tidak malu-maluin. Setelah tamat, jadi sarjana, dan moga-moga tuan bisa baik hati menerimaku menjadi pegawai negeri langsung golongan Syukur-syukur bisa dipromosi ke atas, jadi pejabat di tempat basah, biar bisa pakai uang negara buat beli rumah dan mobil, juga istri yang cantik. Hebat nggak? Tapi, ada yang asal-asalan. Kuliah? Jadi mahasiswa? Wah, mahasiswa itu kan elit, kebanggaan, kuat, tegar dan rajin mendaki gunung, hehe, menggiurkan!

Semua alasan dan tujuan anda kuliah itu sah saja, memang. Sama sahnya dengan alasan dan tujuan yang dikemukakan si Didi, yang notabene idem dengan yang dikemukakan sang mami. Ah, praktis dan realistis sajalah, katanya. Dunia semakin tua, hidup kian susah, persaingan semakin ketat, cari kerja kian sulit. Kalau tidak kuliah, kalau tidak jadi sarjana, mau jadi apa?

NAH, ini dia: anda mau jadi apa? Sarjana toh, belum tentu bisa jadi jaminan bung. Dengan menggondol ijazah sarjana, lalu otomatis dapat kerja? Belum tentu bung. Kenapa? Anda tahu apa yang dikeluhkan Menteri Tenaga Kerja, Drs. Cosmas Batubara, ketika membuka Diklat LPK2KS —Lembaga Peningkatan Ketrampilan– baru-baru ini? Cosmas mengungkapkan, bahwa “pasar kerja saat ini masih menunjukkan betapa banyak sarjana yang sulit memperoleh pekerjaan.” Nah lho, bahkan, katanya, “mereka yang sudah diterima pun masih ada yang sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan.”

Ya, apa yang disinyalir Cosmas itu mungkin saja benar adanya. Salah siapa, kalau bukan salahnya para sarjana yang baru melompat keluar dari kampus itu. Kesalahan mereka, mungkin tak disengaja, dan tak disadari; begitu saja terjadi sejak pertama memutuskan untuk mulai masuk kampus.

Kesalahan itu, kalau bisa disebutkan, antara lain karena kualitas manusia yang bermaksud meraih gelar kesarjanaan itu. Mereka memang tidak kualifaid untuk memikul beban sebagai sarjana. Alhasil, Prof. Dr. Slamet Iman Santoso pun secara gamblang mencibir, “sarjana sekarang tak bermutu —tak semuanya tentu.” Kenapa? Karena seleksi yang dilaksanakan seperti yang biasanya dilakukan sekarang hanya sekelumit. Ya, seleksi hanya pada saat Sipenmaru, pada saat Ebtanas. Selebihnya, ya hura-hura. Seleksi yang sekelumit itu pun sudah diketahui hingga ketika hendak berlangsung, hura-hura dihentikan untuk mempersiapkan diri meraih nilai tinggi. Hasilnya, ya hanya nilai itu saja yang bahkan sering dibantu dengan katrolan massal –cuma di kulit.

Kesalahan itu berbuntut panjang. Karena seleksi yang hanya sekelumit itu, siswa menjadi kurang mengenal dirinya sendiri; kurang mcngetahui bakat, minat dan kemampuannya. Akibatnya, pilihan bidang studi ketika masuk perguruan tinggi pun lebih sering meleset dari bidang yang sebenarnya diminati; keluar dari jalur kemampuannya.,Setelah ijazah di tangan, setelah kuliah usai, ketika hendak terjun ke bidang kerja yang sesuai dengan ijazahnya, kaget sendiri dan merasa demikian asing. Untung-untung kalau masih bisa membanting stir merobah haluan ke bidang yang sebenarnya diminati, meski kacau-balau jadinya. Kalau tidak demikian, apa mau dikata, menganggurlah dia tak jelas juntrungannya. Tragis kan?

Akibat yang lain dari ketidakkualitasnya sarjana itu adalah pengingkaran diri, pengingkaran profesi yang sesuai dengan bidang studinya sendiri. Sang sarjana tidak lagi setia dengan bidang ilmu yang dipelajarinya di bangku kuliah. Pengkianatan ini banyak terlihat di dalam kehidupan masyarakat kita belakangan ini. Contoh konkretnya, ya banyak kan sarjana pertanian —yang tak mampu bergaul dengan lumpur dan kompos atau tekun di laboratorium memelototi penyakit tanaman dan bereksperimen dengan bioteknologi —misalnya, eh malah jadi pedagang kelontong atau sok tahu menekuni managemen perusahaan warisan babe ? Lha, aneh dan tak tahu diri thoh? Bukankah dengan demikian berarti si insinyur pertanian sudah menciptakan pertambahan satu jumlah penganggur yang seharusnya
menempati posisinya?

Hal yang sama terjadi pula di bidang lain. Sementara para sarjanayang tak kebagian tempat kerja mungkin dengan setengah hati, mungkin pula dengan sukarela –akan menyerobot lowongan kerja yang seharusnya diperuntukkan bagi orang yang tingkat pendidikannya berada satu tingkat di bawahnya. Otomatis penggusuran seperti ini akan terus berlangsung hingga ke tingkat yang lebih bawah.

Maka, apakah akan terjadi seorang sarjana yang tak kreatif dan terdesak kepepet akan menjadi operator mesin di pabrik, misalnya? Atau, kalau mau sok tahan harga, jafdilah dia sarjana penganggur. Padahal, menurut Dr. Ir. Mulyowidodo, seseorang yang memiliki predikat sarjana, sepatutnyalah menduduki posisi sebagai staf ahli, di dalam suatu industri. Bagaimana mungkin bisa turun tingkat menjadi operator, yang notabene bisa digolongkan sebagai tenaga kurang trampil yang setara dengan seseorang yang lulusan SMP? Sedangkan di antara posisi staf ahli l?ingga tenaga kurang trampil, masih ada posisi tenaga sangat trampil hasil pendidíkan kejuruan seperti polteknik –dan tenaga trampíl— produk pendidikan STM.

SEPINTAS, tampak bahwa tenaga sa?jana kini kian in?asi hingga mubasir. Masalahnya, penghargaan masyarakat umumnya masihd sangat tínggi terhadap embel-embel gelar kesarjanaan —calon mertua pun akan bercerita ke seluruh kelurahan kalau calon menantunya sarjana. Hal ini merupakan salah satu rangsangan bagi setiap orang untuk menggondol gelar sarjana. Apalagi dengan dibukanya Universitas Terbuka. Jalan ke arah sana kian mirip jalan tol, lebar dan mulus.

Tapi, jangan bangga dengan itu. Jangan sok karena di negeri ini banyak sekali sarjana yang tercetak, bahkan hingga mubasir dan menganggur. Sebetulnya, hal ini agak tídak sejalan dengan arah perkembangan.

Kini, dan esok —katakanlah menjelang tahun 2005– perkembangan masyarakat negeri tercinta ini mengarah kepada apa yang disebut Alvin Tof?er sebagai Masyarakat Gelombang II; Masyarakat Industri.

Lalu, apa hubungannya antara Masyarakat Gelombang II dengan sarjana? Jelas ada. Di dalam masyarakat industri; negeri ini akan menitikberatkan pembangunan pada bídang industri. Di dalam era industri ini, kita memang butuh banyak sarjana, tapi lebih, jauh lebih banyak Iagi tenaga sangat trampil dan trampil.

Sungguh! Kita butuh banyak sekali tenaga sangat trampil dan trampil. Tak percaya? Bukan maksudnya jadi peramal, kalau diketengahkan di sini berapa banyak lowongan kerja dari berbagai bidang serta angkatan kerja yang siap saling sikut merebut kesempatan mengisi lowongan yang sesuai. Agak timpang memang —bukan sekedar menakut-nakuti— tapi ada perbedaan yang cukup besar antara lowongan yang tersedia dan tenaga kerja yang siap bekerja. Mungkin benar, jumlah lowongan kerja yang tersedia akan jauh lebih kecil dibanding jumlah tenaga kerja yang siap menempati lowongan tersebut.

Sungguh mati angka-angka yang disodorkan di sini tidak hanya sekedar ramalan kode buntut SDSB, tapi berasal dari lembaga Demogra? UI yang –berani taruhan— telah melakukan kajian pengamatan, dan penelitian yang mendalam Kíni, coba kita lihat kebutuhan kerja tahun ini untuk jenis dan macam tertentu, serta proyeksinya di tahun 2000 serta tahun 2005. Untuk pekerjaan profesional dan ahli teknik, di tahun 1988 ini nyatanya ada 178.050 –189917 lowongan yang tersedia. Pada tahun 2000, ada lówongan kerja untuk bidang yang sama sebesar sekitar 234.285 – 245.447; dan pada 2005, berjumlah anitara 313.995 – 330550.

Untuk jenis pekerjaan kepemimpinan, administrasi, tatalaksana/-tatausaha, lowongan yang ada masing-masing untuk tahun 1988 sebesar 401.720 – 420.179; tahun 2000 sekitar 621.894 – 651.744 dan pada tahun 2005 berkisar sekitar, 705195 – 745149.

Untuk jenis pekerjaan marketing atau penjualan, besarnya lowongan yang tersedia dalam tahun 1988 adalah 571.135 – 631.032. Jumlah ini berkembang di tahun 2000 hingga mencapai angka 775.373 – 975.874. Sedang pada tahun 2005, lowongan kerja di bidang pekerjaan yang sama mencapai 819.299 – 1.052.076.

Ada lagi bidang kerja lain yang cukup banyak membuka lowongan kerja. Bidang kerja itu adalah Jasa: untuk tahun yang baru saja lewat, 1988, lowongan yang terbuka untuk bidang kerja penjualan jasa ini mencapai angka 456.659 – 497.665. Diperkirakan untuk tahun 2000 yang akan datang, akan membuka lowongan kerja sebanyak antara 634.632 – 692. 465; dan pada tahun 2005, berkembang menjadi 688012 – 765077. Untuk jenis pekerjaan sebagai petani, mungkin saja anda tak berminat, tapi perlu diketahui bahwa dalam tahun 1988 yang lalu, sempat menyerap 34438 – 34560 tenaga kerja. Untuk tahun 2000, tampaknya akan kian menurun hingga mencapai jumlah hanya 28.123 – 29.493; dan pada 2005 diperkirakan akan terus menurun menjadi sekitar 25.584 – 27.136.

Untuk bidang kerja yang di dalam industri digolongkan sebagai jenis pekerjaan yang tak banyak menuntut ketrampilan, seperti sebagai Operator produksi dan lain-lain, pada tahun yang lalu, 1988, justru sangat banyak membuka kemungkinan. Nyatanya, sekitar 985.336 – 1.937.926 lowongan yang terbuka. Proyeksinya untuk tahun 2000, berkisar sekitar 1.790.543 – 1.824.217; dan tahun 2005, 2213609 – 2264000.

Dilihat sepintas, tampaknya memang ada begitu banyak lowongan kerja yang terbuka lebar bagi siapa pun yang memenuhi syarat, tentu. Tapi, anda jangan dulu bersorak horeeeee…. tapi justru sebaliknya bersiap-siaplah untuk bersaing karena jumlah tenaga kerja memang lebih tinggi dari itu. Simak saja. .

Angkatan kerja yang memenuhi syarat dan saling sikut merebut kesempatan kerja di bidang kerja profesional dan ahli teknik, pada tahun 1988 yang lalu saja mencapai 188.265 – 193.523. Diperkírakan pada tahun 2000 nanti, jumlah itu akan membengkak menjadi 287.746 – 289.683; dan pada tahun 2005 mencapai angka 339.129 -1 343.660.

Untuk bidang kerja kepemimpinan, administrasi, tatalaksana – tatausaha, 1988 yang lalu ternyata ada 424.438 – 428.410 tenaga kerja yang antri. Mungkin di tahun 2000 nanti jumlah itu kemudian akan membengkak hingga mencapai 659.581 – 665.610 orang dan pada tahun 2005 sekítar 772.019 – 764.516. Penjualan, 1988, 603701 – 643035. 2000, 829905 – 987813. 2005, 896877 – 1079783. Untuk bidang kerja Operator/- produksi, pada 1988 yang lalu ada sekitar 967.088 – 1.044.386 kepala yang melongok siap bekerja. Untuk masa yang akan datang, tahun 2000, jumlah itu akan membengkak pesat menjadi sekitar 1.015.580 – 1.991.420, dan pada tahun 2005, mencapai jumlah 2.275.799 – 2.473.534 orang.

Kini silakan anda menakasir-naksir sendiri, betapa ketatnya persaingan antara para pencari kerja untuk menggapai lapangan kerja seperti yang diidamkannya. Karena itu —khusus bagi anda yang punya anak usia sekolah dasar atau SMP yang akan terjun sebagaí pencari kerja di masa mendatang seusai sekolah-perlu pemikiran yang matang dalam memilih sekolah atau kuliah nantinya. Perlu siasat yang jitu sejak dari persiapan kepribadian. yang berkualitas, agar tak ntertendang nantinya, dalam menghadapi persaingan. Karena kalau anda mengandalkan koneksi, apalagi mental penjilat…, sia-sia!

–ignas bethan

Sumber: Majalah AKU TAHU/ MEI 1989

Share
%d blogger menyukai ini: