Home / Berita / Tuna di Keramba Jaring Apung

Tuna di Keramba Jaring Apung

POPULASI ikan tuna di perairan Indonesia menurun akibat penangkapan berlebih. Untunglah, pembudidayaan ikan penjelajah yang lincah itu kini berhasil dilakukan di kolam dan di keramba jaring apung.

Perairan Indonesia yang diapit dua Samudra Pasifik dan Hindia menjadi daerah jelajah terbesar aneka spesies ikan tuna (Thunnus sp). Menurut International Seafood Sustainability Foundation, dari total tangkapan 4 juta ton tuna pada 2009, 68 persen berasal dari Samudra Pasifik dan 22 persen dari Samudra Hindia.

Dengan kelimpahan ini, Indonesia menjadi pengekspor terbesar kedua tuna di Asia Tenggara setelah Thailand. Ekspor tuna mencapai 142,000 ton pada 2011. Negara tujuan ekspor terbesar adalah Jepang.

Permintaan tinggi itu mendorong eksploitasi tuna secara besar-besaran hingga populasinya turun dalam 10 tahun terakhir. ”Selain penurunan jumlah dan bobot, daerah penangkapan pun makin jauh. Hal ini memberatkan nelayan yang bermodal terbatas,” kata Rudhy Gustiano, Kepala Balai Besar Litbang Budidaya Laut (BBLBL) Balitbang Kelautan dan Perikanan di Gondol, Bali.

Untuk mengatasi masalah ini, BBLBL mengembangkan teknologi pembenihan dan pembudidayaan ikan tuna. Upaya pembenihan difokuskan pada ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares), jenis terbanyak di perairan tropis Indonesia di antara spesies tuna lain, mencapai 63 persen.

Merintis budidaya
Penurunan populasi tuna di Indonesia menjadi perhatian Jepang dan Australia yang menjadi negara tujuan ekspor. Kerja sama riset budidaya pun dijalin.

Riset pembenihan dilakukan BBLBL bersama peneliti Jepang serta didanai Overseas Fishery Cooperation Foundation (OFCF) Jepang pada 2001-2005. Tahap kedua riset dilaksanakan 2008-2011 bersama periset dari Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR).

Selanjutnya, sejak 2013, peneliti di BBLBL mandiri melanjutkan penelitian itu. ”Balai Besar di Gondol ditargetkan menjadi penyedia benih dan pembesaran tuna sirip kuning untuk industri perikanan pada 2017,” kata Rudhy.

Riset ini lama karena sulit menyesuaikan lingkungan kolam dengan pola hidup ikan yang lincah dan rakus, tetapi peka terhadap perubahan lingkungan. Memelihara ikan tuna di kolam yang relatif sempit mengakibatkan kematian tinggi.

”Saat bermanuver di kolam berdinding beton, tuna akan membentur dinding hingga mati,” ujar John Hutapea, Penanggung Jawab Kegiatan Pemeliharaan Tuna di BBLBL, Gondol, Bali. Ikan ini mampu melesat 130 km per jam. Adapun tuna akan mogok makan hingga mati karena stres di lingkungan asing.

Tingkat kematian tuna di kolam percobaan mencapai 20 persen dari populasi. Untuk mengurangi kematian ikan, di sekeliling dinding beton dipasang lapisan karet pelindung.

Kesulitan lain adalah pengaturan lingkungan kolam. Secara naluriah tuna mencari perairan yang dingin—subtropis atau laut dalam—saat dewasa. Karena itu, kolam perlu dipasangi peralatan, seperti pompa, tandon, dan pipa saluran air, untuk mengatur pasokan oksigen dan aliran air dalam kolam agar menyerupai kondisi lautan.

Budidaya di keramba
Budidaya, yang awalnya dilakukan di kolam beton, kini beralih ke keramba jaring apung (KJA) di pesisir Bali Utara, tak jauh dari Gondol. Jaraknya dari garis pantai sekitar 400 meter. Kawasan ini layak untuk tuna karena berkedalaman 30-50 meter.

Ada lima KJA berbentuk lingkaran berdiameter hampir 50 m dengan harga Rp 2,5 miliar per unit. Keramba terbuat dari High-density polyethylene (HDPE), yang ramah lingkungan.

Kerangka keramba yang dirakit dipasangi jaring dengan mata jaring berdiameter 8 cm. Satu KJA berkedalaman jaring 9 m digunakan untuk pembesaran induk tuna hingga bertelur. Pada KJA ini ”dikandangkan” 114 induk tuna hasil tangkapan nelayan seberat 10 kg.

Setelah setahun, induk tuna siap memijah. Telur yang terbuahi berwarna transparan akan naik ke permukaan. Karena itu, pada KJA dipasangi jaring tambahan berukuran mata jaring 400 mikron di bagian permukaan. Tujuannya agar telur tidak lepas ke perairan bebas.

Telur yang dipanen selanjutnya diinkubasi dalam bak serat kaca berkapasitas 500 liter. Dalam bak, telur menetas menjadi larva dalam sehari. Dalam kolam anak tuna dibesarkan hingga berukuran 30 cm sebelum dipindahkan ke KJA untuk penggemukan.

”Sementara ini, anak tuna yang dipelihara di KJA hasil tangkapan nelayan di laut belum menggunakan benih hasil pemijahan di kolam,” ujar John. Dalam setiap KJA ditebar 7.000 anak tuna. Setelah setahun dipelihara tuna siap dipanen.

Pertumbuhan tuna di KJA diharapkan lebih cepat dibandingkan di kolam. Di kolam uji coba, tuna sirip kuning mencapai berat 125 kg dan panjang 1,5 m.

Keuntungan KJA
Keramba jaring apung dipilih karena beberapa kelebihan. Tingkat kematian tuna lebih rendah daripada di kolam beton. Pemeliharaan pun murah karena berbagai peralatan tidak diperlukan. Meski begitu, kondisi lingkungan pesisir harus dijaga dari pencemaran limbah. Ini perlu dukungan dari masyarakat nelayan sekitar KJA.

Mengurung ikan yang tergolong rakus memerlukan pasokan pakan banyak, mencapai 10-20 persen dari bobot tubuh ikan. Solusinya, rumpon dipasang di dekat keramba untuk mengundang ikan kecil sebagai pakan alami tuna.

Keramba penangkap tuna
Untuk mengatasi kesulitan penangkapan tuna, kini dikembangkan keramba yang disebut Tuna Pakan Mandiri (TPM). Agus Cahyadi, perancang TPM yang juga Kepala Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan, Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan, menerapkan di perairan sekitar Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Wilayah ini merupakan jalur pelintasan tuna sirip kuning menuju daerah subtropis untuk memijah.

Keramba berdiameter 35 m dengan kedalaman 80 m ini dilengkapi ”jalur masuk” sepanjang 100 m untuk memerangkap ikan masuk jaring. Sebagai pememancing, di pintu masuk keramba dipasangi lampu dan rumpon melayang yang mendatangkan ikan kecil sebagai umpan.

8207899-(1)hIkan tuna yang berjangkauan visual hingga 1,5 km akan terpancing masuk keramba. Di TPM dapat terjaring anak tuna berukuran 30-40 cm. Di keramba ini juga tuna dipelihara.

KJA di Australia
Di Australia, budidaya tuna di KJA tergolong lebih maju. Di instalasi riset ”Clean Seas” di pantai Arno, dilakukan rekayasa pemijahan tuna. Instalasi ini dilengkapi sistem manipulasi perjalanan virtual.

Tuna biasanya memijah setelah menjelajah ratusan kilometer dari selatan Australia ke utara Papua dalam waktu lima bulan. Di kolam dilakukan manipulasi kondisi perairan dan suasana rute yang dilewati.

Sistem pencahayaan berbasis komputer akan menampilkan tingkat pencahayaan saat fase siklus bulan mati hingga bulan purnama dan gambaran rasi bintang tertentu. Dalam instalasi ”manipulasi” sepanjang 40 m ini, tuna seolah telah berenang ratusan kilometer.

Eksperimen penjelajahan virtual ini berhasil dilakukan 2009, ketika pertama kali induk tuna memijah. Generasi pertama ikan tuna dari KJA ini akan dipasarkan pada 2015.

Oleh: YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 13 Maret 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: