Home / Berita / Tsunami 1977 dari Laut Selatan yang Terlupakan

Tsunami 1977 dari Laut Selatan yang Terlupakan

Gempa dan tsunami dari Samudra Hindia melanda kawasan pesisir di Sumba, Sumbawa, dan Lombok pada 1977. Namun, bencana yang menimbulkan banyak korban jiwa itu telah dilupakan warga.

–Kondisi Dasan Awang, Lombok Selatan, yang terdampak gempa dan tsunami pada 19 Agustus 1977. Foto diterbitkan Kompas pada 23 Agustus 1977. Fotografer: Kompas/Dirman Thoha

Jumat, 19 Agustus 1977, tepat pukul 14.08 waktu setempat, gempa besar mengguncang dari bawah laut Samudera Hindia, di barat daya Pulau Sumba. Tak lama kemudian tsunami menghantam pesisir selatan Sumba, Sumbawa, Lombok, hingga Bali. Risiko ke depan bisa lebih tinggi karena kawasan yang dulu terdampak kini justru tumbuh menjadi pusat wisata baru.

John Lius (53), warga Waingapu, Ibukota Kabupaten Sumba Timur masih ingat dengan guncangan gempa yang menurutnya terkuat yang pernah dirasakan sepanjang hidupnya. “Itu pengalaman tak terlupakan. Saya lagi menonton pacuan kuda di Rihieti Prailiu (Sumba Timur). Sekitar jam dua siang, waktu itu sedang istirahat makan siang, tiba-tiba tanah bergoyang keras,” kisah John.

John yang saat itu masih berumur 11 tahun jatuh dan terguling-guling di lapangan pacuan kuda. “Semua orang panik saat itu,” kata dia.

Seingat John, gempa saat itu mengakibatkan banyak rumah tembok retak-retak, bahkan dinding pagar kantor Bulog di Sumba Timur roboh dan menimpa anak kecil. Namun John tidak tahu bahwa gempa berkekuatan M 8,3 yang berpusat di bawah laut Samudera Hindia, sekitar itu juga memicu tsunami dahsyat.

Bahkan, kebanyakan orang di Waingapu, yang kami temui pada akhir Juni 2019 lalu, tidak mengingat lagi gempa besar yang pernah terjadi pada 1977. Warga yang tinggal di pesisir Melolo, Sumba Timur juga tak ada yang mengetahui bahwa gempa dan tsunami pernah melanda kampung mereka.

–Pusat gempa pada 19 Agustus 1977 (bertanda bintang). Sumber: Aditya R. Gusman dkk (2009).

Padahal, dalam laporan International Tsunami Information Center (ITIC) disebutkan, tsunami akibat gempa saat itu mencapai ketinggian 1,5 meter (m) di Melolo dan 1 m di Waingapu. Tim ITIC dan Institute of Meteorology and Geophysics (sekarang Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika/BMKG) telah melakukan survei di Sumba, Sumbawa, Lombok, dan Bali pada 26 Agustus – 7 September 1977. Disebutkan, beberapa rumah rusak di Melolo akibat tsunami ini. Di Leterua, Sumba Barat Daya, tinggi tsunami mencapai 5,5 m dan landaannya 1200 m ke darat.

Tsunami tertinggi tercatat terjadi di Pantai Lunyuk, Pulau Sumbawa, yaitu mencapai 5,8 meter (m) dan 500 m ke daratan. Kawasan ini disebut mengalami kehancuran paling dahsyat dan jumlah korban terbanyak.

Sementara di Lombok, tsunami melanda Pantai Kuta dengan tinggi 4,3 m, Labuanhaji 3,2 m, Batunampar 2 m, dan Awang hingga 4,3 m. Di kawasan itu dilaporkan 65 orang meninggal dunia dan 37 orang hilang. Tsunami juga terekam terjadi di Nusa Dua dan Benoa, Bali, masing-masing dengan ketinggian 2,5 m dan 4 m.

Arsip berita Kompas edisi Senin (22/8/1977) menyebutkan, gelombang laut itu datang ke daratan sekitar sejam setelah gempa dan didahului fenomena surutnya air laut. Para saksi mata di Lombok Tengah Selatan mengisahkan,”… awalnya banyak warga yang terpesona melihat air laut yang surut ke tengah setengah jam setelah gempa…setelah gelombang surut, ditemukan ribuan ikan besar kecil di darat dan tepi pantai… Akibat terpukau, penduduk sama sekali tidak memperhatikan gelombang yang menggulung dari arah Samudera Hindia.”

Dalam pemberitaan saat itu, Kompasbelum menyebut istilah tsunami untuk gelombang besar yang menerjang dari laut setelah gempa bumi. Namun, deskripsnya jelas menggambarkan kejadian saat itu sebagai tsunami. Bahkan, surutnya air laut sesaat setelah gempa dan sebelum datangnya gelombang tinggi juga menyerupai fenomena di pesisir Banda Aceh ketikatsunami 2004.

Laut surut
Tidak semua tsunami memang didahului oleh fenomena surutnya air laut. Di wilayah yang berhadapan dengan lengan lempeng bumi yang menyusup ke bawah memang akan mengalami surut dulu lautnya setelah gempa (gelombang -), seperti terjadi di pesisir Aceh pada 2004, sebelum lalu naik tinggi (gelombang +). Sebaliknya, daerah di hadapan lempeng yang bergerak ke atas, seperti India saat tsunami 2004, gelombangnya langsung naik.

Tidak surutnya laut juga terjadi di Prigi, Jawa Timur, saat tsunami Samudera Hindia pada 17 Juli 2006, padahal di Cilacap, Jawa Tengah, kejadian sama diawali air laut surut sampai 100 meter. Menurut ahli tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjokongko, di pantai Cilacap tahun 2006, banyak korban karena berebut mencari kerang bambu karena laut surut setelah gempa. “Di Prigi, gelombang langsung naik karena ada refleksi,” katanya.

Seperti juga terjadi di Sumbawa dan Lombok pada 1977, Aceh pada 2004 dan Cilacap 2006, ketidaktahuan masyarakat untuk segera menjauh dari pantai karena terpesona dengan laut yang surut dan ikan-ikan yang menggelepar di pantai sesaat setelah gempa bumi, merupakan kasus yang terus berulang dan menyebabkan banyaknya korban jiwa.

Belajar dari serangkaian kejadian ini, penting bagi masyarakat di pesisir untuk segera meninggalkan pantai begitu gempa besar mengguncang, tanpa harus menunggu surut atau tidaknya air laut.

Laporan Kompas pada Selasa (23/7/1977) menyebutkan, jumlah korban tewas mencapai 75 orang, hilang 69 orang, dan luka-luka berat 27 orang. Jumlah ini bisa lebih besar lagi karena diperkirakan banyak desa di pantai selatan tersapu tsunami, namun susah diakses sehingga kondisinya tak diketahui dengan pasti.

Hingga tahun itu, sebagian kawasan yang terdampak tsunami masih berupa desa-desa kecil yang sepi. Kondisi berbeda dengan saat ini. Suroso dan tim (Proceedings of the 7th International Conference on Asian and Pacific Coasts, 2013) telah menemui tujuh saksi mata tsunami di Pantai Kuta, Lombok Tengah. Disebutkan, pada saat tsunami 1977, hanya ada 20 rumah di pesisir. Rumah-rumah itu kebanyakan berupa rumah panggung dari kayu, dengan ketinggian sekitar 1,5 meter dari tanah.

Oleh karena itu, ketinggian tsunami di Kuta yang saat itu mencapai 1,5 meter tidak banyak menimbulkan kerusakan dan korban jiwa. Dalam laporan ITIC, jumlah korban jiwa di Pantai Kuta hanya satu orang.

Namun kondisi Pantai Kuta saat ini sudah jauh berbeda. Kawasan ini telah tumbuh menjadi pusat wisata baru di selatan Pulau Lombok. Di sepanjang pantai yang membentang hingga 7,2 kilometer ini tumbuh berbagai penginapan dan hotel berbintang, selain restoran.

Demikian halnya, kawasan Nusa Dua dan Benoa di Bali, kini jauh lebih ramai dibandingkan tahun 1977. Bahkan, pantai-pantai di selatan Bali telah tumbuh menjadi area wisata terpadat di negeri ini. Dalam laporan ITIC, tsunami saat itu tak menimbulkan kerusakan di Bali. Sekalipun demikian, menurut arsip Kompas (22/8/1977), dua anak meninggal di Nusa Penida, Bali dalam kejadian ini.

Widjokongko mengatakan, jika melihat tren pertumbuhan ekonominya, risiko bencana gempa dan tsunami di selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur justru bertambah tinggi dibandingkan pada 1977 lalu. Padahal, zona subduksi Bali yang menjadi sumber bagi gempa bumi Sumba 1977, berdasarkan Peta Sumber Gempa Bumi Nasional 2017 memiliki potensi gempa maksimal hingga M 9.

–Gempa dari zona subduksi selatan Bali, yang menjadi pemicu gempa bumi dan tsunami 1977, menurut Peta Sumber Gempa Bumi Nasional 1977, memiliki potensi kekuatan maksimal hingga M 9. Sumber: Pusgen, 2017

Dengan kekuatan gempa itu, menurut Widjo, tinggi tsunami di kawasan tersebut bisa mencapai 15-20 meter di pantai, tergantung pada topografi. Sebagai siklus yang berulang, ancaman gempa dan tsunami dari Samudera Hindia di selatan Jawa hingga NTT itu harus diterima dan dikelola, sehingga jika sewaktu-waktu kembali terjadi, dampak dan risikonya bisa dikurangi.

Oleh AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 25 Juli 2019

Share
%d blogger menyukai ini: