Home / Featured / Trend Stasiun Radio FM

Trend Stasiun Radio FM

DUNIA Broadcasting (Ra-dio) di Indonesia –Jakarta khususnya– pada tiga tahun terakhir ini telah mengalami satu fase perkembangan yang amat fantastis. Baik dilihat dari tingkat profesionalismenya, maupun tekhnologi yang diterapkan. Profesionalisme di sini menyangkut masalah bagaimana memanage sebuah stasiun radio agar ia bisa diterima oleh audiensnya; dan lebih dari itu, ia bisa menghasilkan profit sebesar-besarnya.

Program-program yang ditawarkan, kini tak lagi hanya sekadar untuk dapat mengisi kekosongan waktu belaka. Ia telah dirancang, disusun dan diudarakan derigan sistem yang lebih sistematis, lebih berbobot dan lebih profesional.

Berkaitan dengan program yang ditawarkan, beberapa stasiun radio kini bahkan telah mengembangkan satu sikap tegas terhadap pasar pendengar yang ingin diraihnya. Mereka menyebutnya Positioning, yaitu bagaimana sebuah stasiun radio memposisikan diri di antara sesama kompeteter dan pendengar yang ingin diraupnya. Pendengar dipilah-pilah berdasarkan usia, jenis kelamin (sex), tingkat pendidikan, dan sebagainya. Pokoknya, segala sesuatu yang menyangkut sosio kultur dari sekelompok masyarakat pendengar radio. Dengan demikian, mereka akan lebih mudah di dalam merancang sebuah acara. Sebagai contoh, Radio Trijaya, ia mengambil kelompok pendengar (segmentasi) para profesional muda. Program yang ditawarkan juga seputar bisnis dan trend perilaku para profesional di Jakarta. Lain lagi dengan Radio Pesona, yang mematok acaranya khusus untuk wanita; dan ini sesuai dengan motto yang dipakainya: Citra Wanita Jakarta. Acara-acara yang ditampilkan tentu tak jauh dari lingkup dunia wanita dan persoalan-persoalan yang mengiringinya. Kecantikan, Mode dan Busana, dan bahkan di sana dihadirkan para pakar dari beberapa disiplin ilmu untuk memberikan tips-tips khusus untuk wanita.

Ada lagi stasiun radio yang khusus menampilkan acara siaran musik di sepanjang waktu On Air-nya; dialah Mustang FM. Tentu, ini sesuai dengan motto yang dipegangnya: The Rhythm of The City. Radio DMC, mengambil pangsa pasar pendengar lain dengan cara menggelar acara-acara Game (permainan), maka tak ayal lagi ia memancang motto Multi Games. Tetapi rupanya, program-program yang telah dirancang, disusun dan disuguhkan dengan gaya semenarik mungkin, masih dirasa belum cukup untuk bisa lebih memikat para pendengarnya. Ia perlu didukung oleh tekhnologi keradioan yang mapan. Dan tentu, untuk pengembangan tekhnologi sebuah stasiun radio diperlukan biaya yang tak kecil.

Tapi kenapa di Jakarta ini tak sedikit orang yang punya modal berani menanamkan investasinya dalam bisnis stasiun radio? Seberapa besar ia bisa menghasilkan profit?

TEKHNOLOGI PILIHAN.

Radio – tak syak lagi – bisa jadi merupakan sebuah media massa elektronik yang bisa menjadi alternatif. Ketika seseorang tak bisa lagi menikmati siaran TV, ia tentu akan lebih memilih radio dengan sajian acara yang bisa berupa siaran musik maupun Talk Show. Maka tak heran, radio tetap saja memiliki pangsa pasar tersendiri yang dapat dimanfaatkan dengan optimal. Tidak mengherankan juga bila tak sedikit orang mampu di Indonesia merasa tertarik menggeluti bisnis radio. Cukup dengan modal dasar Rp 50 juta hingga Rp 200 juta, orang akan dengan mudah meraup untung yang menggiurkan setelah kem-bali modal tak lebih dari 5 tahun. Hanya yang sedikit menjadi problem barangkali’klalah soal izin mendirikan stasiun radio. Untuk hal yang satu ini, nampaknya tak semudah bila kita membalikkan telapak tangan.

Di Jakarta, dari sekitar 38 stasiun radio yang tergabung dalam Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional In-donesia (PRSSNI), hanya 13 stasiun saja yang berada pada jalur FM. Apa keuntungan yang bisa diraih bila memilih jalur FM? Menurut Indra Gunadi, Manajer. Tekhnik Radio Ramako Group, alasan yang paling mendasar adalah bahwa FM merupakan jalur advanced (pengembangan) dari jalur AM. Tekhnologi FM bisa menampilkan hasil yang lebih canggih. Dan itu bisa dinikmati melalui kualitas suara yang betul-betul prima. Kalau mau dirunut -masih menurut Indra Gunadi- sebuah stasiun radio AM, memancarkan gelombangnya dengan menggunakan tekhnologi Ground Wave. Gelombang yang terpancar akan merambat di permukaan bumi. Kalau mau diibaratkan sebagai pasukan tempur, gelornbang AM ini tak ubahnya seperti pasukan Infanteri. Ia menjelajahi seluruh permukaan bumi sejauh jangkauan yang dimilikinya. Bila ketemu dengan tanah menurun, ia akan ikut menurun. Pun bila ia berhadapan dengan tanah berbukit. Ia akan terus mengikuti bentuk tanah yang berbukit itu. Jadi, sistem propagasinya terjadi antara udara dan tanah.

Makanya, “Boleh dikata, sedikit sekali keunggulan yang dimiliki radio dcngan gelornbang AM bila dibandingkan dengan FM,” tutur Indra, yang menjadi arsitek bagi perpindahan gelombang radio Aristiara dari jalur AM ke jalur FM, yang pada kemudian hari menamakan diri menjadi Kis FM. “Jalur FM hanya bisa ditandingi oleh jalur AM yang Stereo. Dan AM yang Stereo, sampai saat ini belum diijinkan di Indonesia.” Toh Indra tidak bermaksud untuk menganggap sebelah mata terhadap stasiun radio AM ini. Ia tetap punya penggemar tersendiri.

“Dengan menggunakan jalur FM, maka gelombang yang terpancar dapat dipadukan dan memungkinkan kita untuk mengarahkan gelombang tersebut ke arah mana yang kita inginkan. Jadi ia tidak merambat menyusuri bumi. Ia menggunakan sistem Direct Radiation,” lanjut Indra Gunadi. “Lebih jauh lagi, kita bisa menekan distorsi (perembesan suara) sehingga jangan heran bila jalur FM akan menghasilkan kualitas suara yang bersih, bening. Satu lagi, tingkat error-nya juga bisa kita tekan seminimal mungkin.”

Dengan kondisi pengembangan tekhnologi seperti ini, layak kiranya sebuah stasiun radio (FM) akan bisa meraup pendengar sebanyak-banyaknya, sekaligus mendatangkan klien untuk memasang iklan di sana. Dengan kejernihan suara yang dimilikinya pula, jalur FM memungkinkan untuk dinikmati audiens yang sedang berkendaraan; yang nota benenya adalah masyarakat dari golongan menengah ke, atas. Jalur FM, idealnya memang perlu diperlengkapi dengan peralatan studio yang –kalau mungkin– menggunakan sistem komputerisasi seperti yang sudah dikembangkan di AS dan negara-negara Eropa. Tapi minimal, bisa digunakan sistem CD (Compact Disc), di mana sumber suara dari Audio berasal dari alat tersebut. Dinamika suaranya juga akan lebih terasa.

Trouble (gangguan) yang bisa muncul pada gelombang FM, menurut Indra Gunardi, nyaris tak pernah menyulitkan benar. Paling banter akan menimpa bagian Pemancar, dan itu mudah mengatasinya. Lain lagi kalau misalnya ada kilat dan guntur. Makanya, Indra sampai memasang alat penangkal sampai 8 titik dengan kedalaman puluhan meter menghunjam ke dalam tanah. Ia akan cukup aman dari serangan petir. Indra tak menolak anggapan bahwa FM juga punya kelemahan. Satu contoh ia sebutkan. Gelombang yang terpancar dari jalur FM, satu saat akan ketemu dengan gedung atau bukit.

Gelombang tersebut tak mampu menembus gedung atau bukit itu, sehingga akibatnya ia berbalik atau memantul. Sialnya, pantulan itu jarang lebih kuat dibanding datangnya pancaran. Kalau sudah begitu, muncullah apa yang disebut dengan Multi Path. Dan dalam prakteknya, jangan heran bila radio di mobil Anda penuh dengan suara keresek-keresek. Ia kotor, terjadi distorsi. Dan uniknya, daerah di balik gedung atau bukit tersebut akan kosong dari pancaran gelombang (blank). Untuk mengatasi hal ini, salah satu cara adalah dengan menambah tinggi tiang pemancar (tower). Padahal, ketinggian sebuah tower juga telah dibatasi oleh sebuah peraturan pemerintah. Nah, lho…

Bagaimanapun, gelombang FM dapat menghasilkan sinyal yang besar dan memungkinkan menekan distorsi, gangguan elektricity serta apa yang disebut dengan Sun Spot (ledakan di permukaan matahari).

Indra membenarkan bahwa secara prinsip, perbedaan AM dan FM terletak pada sistem pemancar. Terbukti bahwa daya pancar FM bisa lebih diintensilkan.

Jadi, dengan jalur FM yang dapat menghasilkan kualitas suara yang betul-betul prima, sangat memungkinkan sebuah stasiun radio untuk dapat meraup pendengar sebanyak-banyaknya. Sekaligus, iklan yang merupakan sumber pemasukan (baca: nyawanya) akan terus mengucur tak henti masuk ke kocek sang pengusaha radio. Maka jangan heran, tak sedikit di antara stasiun radio di jalur AM ingin ‘hengkang’ ke jalur FM. Siapa tertarik…?

Oleh: BEN D. SAN

Sumber: majalah Aku Tahu/ Agustus 1992

Share
%d blogger menyukai ini: