Tim Indonesia Siap Unjuk Gigi dalam Kompetisi MobilHemat Energi

- Editor

Selasa, 30 April 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lomba mobil hemat energi Shell Eco-Marathon Asia 2019 resmi dibuka. Energi transisi berupa energi yang hemat dan terbarukan merupakan makna dari ajang ini dan juga masa depan di dalam kehidupan manusia. Para tim dari perguruan tinggi bersiap unjuk gigi menampilkan hasil kreativitas mereka memaknai hemat energi di dalam transportasi.

“Shell dikenal secara global sebagai perusahaan bahan bakar minyak. Akan tetapi, kini Shell sudah bertransformasi menjadi perusahaan energi. Komitmennya ialah mewujudkan penurunan emisi karbon menjadi 45 persen di tahun 2030,” kata Direktur Shell Malaysia Datuk Iain Lo ketika membuka Shell Eco-Marathon (SEM) Asia 2019 di sirkuit internasional Sepang, Selangor, Malaysia pada hari Senin (29/4/2019).

Ajang ini diikuti oleh 100 tim dari 18 negara di Asia. Untuk Indonesia, ada 26 tim yang berasal dari 22 perguruan tinggi. Mereka berlomba untuk dua kategori, yakni mobil purwarupa dan mobil konsep urban.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Tim Pandawa dari Universitas Negeri Semarang melakukan defile pada pembukaan Shell Eco-Marathon Asia 2019 di Sirkuit Internasional Sepang, Selangor, Malaysia pada hari Senin (29/4/2019). Indonesia mengirim 26 tim dari 22 perguruan tinggi untuk mengikuti lomba ini.

Mobil purwarupa berbentuk lonjong seperti peluru. Tujuannya adalah memastikan terjadinya efisiensi energi tingkat tinggi sehingga meminimalkan segala bentuk yang dianggap menghalangi velositas. Sementara, mobil konsep urban berbentuk seperti sedan mini, tetap beroda empat namun hanya berisi satu orang. Tujuannya untuk diuji ketahanannya di jalan.

Hidrogen
Dari segi bahan bakar dibagi menjadi dua golongan, yaitu pembakaran dalam yang terdiri dari bensin, solar, dan ethanol. Golongan kedua adalah bahan bakar hidrogen dan listrik.

Pada tim Indonesia, perwakilan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) akan bertanding di kategori hidrogen. Bahkan untuk negara-negara di Asia, di kelompok ini hanya ada lima peserta.

“Riset bahan bakar hidrogen masih jarang dilakukan di Asia. Bisa dibilang, semua negara masih pemain baru di bidang ini sehingga pengembangannya belum ada ketentuan baku dan bisa dikreasikan,” kata Sriyono, dosen Teknik Mesin UPI yang mendampingi para mahasiswanya melombakan mobil konsep urban Simha Cetha.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Suasana pemeriksaan teknis kendaraan yang akan ikut Shell Eco-Marathon 2019 di Sirkuit Internasional Sepang, Selangir, Malaysia pada hari Senin (29/4/2019). Mobil konsep urban Simha Cetha karya Tim Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia tengah dicek pemenuhan standar keamanannya.

Menurut dia, bahan bakar hidrogen sangat hemat dan lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan listrik yang masih perlu disetrum ulang sehingga tergantung kepada pembangkit tenaga listrik. Hidrogen bisa disarikan dari berbagai elemen seperti air dan tidak menimbulkan pencemaran. Simha Cetha ketika diuji coba di Indonesia memiliki rekor bisa menempuh 37 kilometer hanya bermodalkan 1 meter kubik hidrogen.

Manajer Tim Bumi Siliwangi 1 yang merakit Simha Cetha, Waskito Widya menjelaskan, sementara ini gas hidrogen masih mereka dapatkan dari bengkel las dan toko penjual alat kesehatan. Dari segi mesin, tantangan rancangannya adalah memberi ruang bagi tabung hidrogen dan memasang pipa pengalir gas menjadi energi.

“Malaysia dan Singapura saingan yang berat, tapi mereka sendiri sebenarnya juga menghadapi tantangan serupa dengan kami karena bidang hidrogen ini masih baru,” ujarnya.

Pemeriksaan teknis
Sepanjang siang hingga malam, semua tim menjalani pemeriksaan teknis untuk memastikan segala aspek seperti berat kendaraan, rem, sabuk pengaman, kelistrikan, hingga bentuk rancangan sudah sesuai dengan standar. Apabila ada aspek yang tidak sesuai ketentuan, tim diberi waktu hingga besok pagi untuk memerbaikinya. Jika tidak, mereka didiskualifikasi sebelum mengikuti lomba.

Hingga pukul 16.48 waktu setempat, sudah 17 tim Indonesia dinyatakan lulus pemeriksaan. Sisanya masih menjalani evaluasi. Salah satunya adalah Tim 5 ITS yang masih harus memperbaiki bagian bawah kusen pintu mobilnya agar lebih rapat.–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 30 April 2019

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB