Temuan Fosil Kuno yang Menantang Pohon Evolusi

- Editor

Minggu, 1 September 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fosil hominin atau kera berjalan tegak berumur 3,8 juta tahun yang ditemukan di Etiopia telah memicu perdebatan tentang pohon evolusi. Penemuan tengkorak kuno ini menunjukkan, evolusi awal hominin ternyata lebih kompleks daripada yang disimpulkan sebelumnya.

Dalam publikasinya di jurnal Nature pada 28 Agustus 2019, Yohannes Haile-Selassie dari Department of Physical Anthropology, Cleveland Museum of Natural History, Amerika dan tim menyebutkan, fosil itu milik spesies yang disebut Australopithecus anamensis. Spesies ini diperkirakan sebagai pendahulu spesies Australopithecus afarensis atau dikenal dengan Lucy.

–Tengkorak dari spesies Australopithecus anamensis ditemukan di Ethiopia. Kredit: Dale Omori / Museum Sejarah Alam Cleveland/Nature

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sosok Lucy, fosil berjenis kelamin perempuan yang juga ditemukan di Etiopia pada 1974 oleh paleoantropolog juga dari Cleveland Museum of Natural History, Donald Carl Johanson dan timnya. Nama “Lucy” diperoleh dari lagu “Lucy in the Sky with Diamonds” oleh The Beatles, yang dimainkan dengan keras dan berulang kali di kamp ekspedisi.

Penemuan Lucy dianggap sebagai kunci transisi evolusi spesies kera yang semula hidup bergelantungan di pepohonan menjadi spesies hominin yang berjalan tegak. Akan tetapi, Lucy masih memiliki wajah yang menonjol seperti kera, rahang yang kuat, dan otak kecil.

Selama ini Lucy dianggap sebagai anggota tertua dari kelompok Australopithecus afarensis, yang menandai fase awal evolusi hominin untuk berjalan tegak. Oleh karena itu, A afarensis kerap dianggap sebagai asal dari genus Homo, yang belakangan juga melahirkan Homo sapiens.

Keberadaan Lucy, yang kemudian dibandingkan dengan fosil lain yang lebih muda, memunculkan teori bahwa evolusi bipedalisme atau berjalan tegak perlahan memicu membesarnya volume otak. Dengan berjalan tegak di padang sabana dan tak lagi berlindung di pepohonan, yang kala itu menghilang karena perubahan iklim, hominin ini lebih mengandalkan kemampuan akalnya.

Ernst Mayr dalam bukunya, What Evolution Is (2002) menyebutkan, untuk melindungi dirinya dari predator yang berlari cepat seperti singa, spesies Australophitecus ini kemungkinan mulai melontarkan batu, menggunakan,galah kayu, bunyi-bunyian, hingga kemungkinan penemuan api.

–Keanekaragaman pohon keluarga manusia menggunakan tengkorak replika milik kerabat hominin kuno kita. Sumber: Natural Histiry Museum, Inggris

Berdampingan
Keluarga Lucy, A afarensis, diperkirakan hidup di Afrika Timur antara sekitar 4 juta dan 3 juta tahun yang lalu. Selama beberapa dekade terakhir, para peneliti telah menemukan puluhan fragmen fosil Australopithecine di Ethiopia dan Kenya yang telah ada sejak lebih dari 4 juta tahun lalu.

Seperti Lucy, A anamensis juga memiliki volume otak kecil, sekitar seperempat volume otak manusia (Homo sapiens). Namun demikian, spesies ini sudah kehilangan beberapa fitur mirip kera. Misalnya, gigi taringnya lebih kecil dan sudah mengembangkan rahang kuat dan tulang pipi, yang membantu mereka mengunyah makanan keras, selama musim kemarau ketika vegetasi lebih sedikit tersedia.

Kajian dari Haile-Selassie menunjukkan, A anamensis kemungkinan pernah sama-sama tinggal di Ethiopia prasejarah berbarengan dengan spesies Lucy selama setidaknya 100.000 tahun. Ini mengisyaratkan bahwa pohon evolusi hominin awal lebih rumit daripada yang diperkirakan para ilmuwan sebelumnya.

“Temuan ini mengubah pemahaman tentang evolusi manusia selama zaman Pliosen,” kata Haile-Selassie.

Para peneliti ini menantang gagasan lama tentang evolusi linear, di mana satu spesies menghilang dan digantikan oleh yang baru. Anamensis, yang diperkirakan hidup dari 4,2 juta menjadi 3,8 juta tahun yang lalu, memang masih dianggap sebagai leluhur Lucy, tetapi ternyata terus berkeliaran setelah kelompok Lucy muncul dari garis keturunan induk.

Bukti geologis menunjukkan bahwa lanskap tersebut berupa bukit-bukit yang sangat curam, gunung api, aliran lahar dan celah yang dapat dengan mudah membuat populasi terisolasi sehingga memungkinkan mereka untuk menyimpang. Jadi, bisa jadi Lucy adalah produk mutasi dari Anamensis.

”Gagasan tentang adanya koeksistensi antara Lucy dan Anamensis ini klaim sangat menarik,” sebut David Strait, palaeoantroplog dari Washington University, Missouri, yang tidak terlibat kajian ini, seperti ditulis Nature. Namun, Strait mengatakan, kesimpulan itu terlalu dini karena hanya didasarkan pada temuan dua fosil.

Barangkali memang terlalu dini untuk merevisi pemahaman kita tentang pohon evolusi yang melibatkan Lucy sebagai salah satu spesies kunci. Akan tetapi, gagasan mengenai adanya dua atau lebih spesies hominin yang hidup berdampingan selama beberapa juta tahun terakhir juga tidak bisa diabaikan. Dengan demikian, evolusi tidak berarti saling menggantikan.–AHMAD ARIF

Editor YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 30 Agustus 2019

Informasi terkait

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan
Biomedis atau Teknik Biomedis?
Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Berita ini 89 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 21:10 WIB

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 September 2026 - 20:32 WIB

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 September 2026 - 20:13 WIB

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Jumat, 18 September 2026 - 06:33 WIB

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Berita Terbaru

Artikel

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:10 WIB

Artikel

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:32 WIB

Artikel

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:13 WIB

Artikel

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Jumat, 18 Sep 2026 - 06:33 WIB

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB