Tata Kelola Lada Dibuat Terintegrasi

- Editor

Senin, 16 April 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Produksi dan perdagangan lada dari Bangka Belitung terus menurun karena berbagai masalah mulai dari budidaya hingga pemasarannya. Upaya mengangkat kembali kejayaan lada putih dari Muntok di pasar dunia dilakukan dengan penyediaan benih unggul dan penanganan hama ramah lingkungan, hingga penyiapan regulasi untuk tata niaga.

Hal ini terungkap pada pertemuan antara Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman Djohan dan Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Kementrian Pertanian, Wiratno, serta penangkar lada di perkebunan Bangka Tengah Sukri.

Pertemuan ini terkait dengan uji coba pestisida nabati berbasis serai wangi dan cengkeh di Desa Puput, Kabupaten Bangka Tengah dan Desa Riding Panjang Bangka, Minggu (15/4/2018). Pestisida nabati ini berupa cairan, komposisi terdiri dari minyak cengkeh, bahan pengemulsi, dan bahan perekat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk meningkatkan produksi lada di Babel, Erzaldi menjanjikan akan menyediakan bibit unggul lada sebanyak 5,8 juta batang pada tahun ini dan 6 juta batang pada 2019. Bibit ini akan disediakan tiga penangkar lokal benih lada yang bersertifikat.

KOMPAS/NINUK MARDIANA PAMBUDY–Lada menjadi komoditas andalan warga Desa Balok, Kecamatan Dendang, Belitung Timur. Petani lada Desa Balok, Erwin Dwinanda Putra (52), mengurus tanaman lada yang baru berusia satu tahun, 7 Maret 2016.

“Bibit diserahkan kepada 1.000 petani setempat. Namun sebelum itu, petani akan dilatih tentang cara bertanam lada yang baik di Unit Pelaksana Teknik Pertanian di Pelempang,” kata Erzaldi. Program ini akan melibatkan Balitbangtan, UGM, IPB, dan Universitas Bangka Belitung.

Wiratno mengatakan, sebelum penanaman lada, perlu dieradikasi unsur pencemar dan hama di lahan perkebunan lada. Saat ini pertani lada di Pulau Bangka menghadapi serangan penyakit kuning daun yang disebabkan cacing nematoda.

Selain itu, teridentifikasi penyakit lain pada tanaman lada atau merica (Piper Albi Linn), yaitu hama penggerek bunga (Dichonocoris hewetti), pengisap buah (Dasynus piperis), dan penyakit busuk pangkal batang (Phytophthora capsicii).

Uji lapang terbatas di Riding Panjang menunjukkan, biopestisida berbahan utama minyak cengkeh (Syzygium aromaticum) ini dapat mematikan hama kuning akibat cacing nematoda.

Hama diatasi
Penyemprotan dan penyiraman tanaman lada yang terserang hama penyakit kuning dapat terlihat hasilnya setelah 20 hari. Pada kunjungan kedua di lahan pertanian ladang milik Syahbuddin di Bangka, diketahui hama penyakit cacing tersebut dapat diatasi. Hal ini terlihat dari pertumbuhan bakal buah dan daun yang mulai menghijau. Selain itu juga mulai tumbuh daun yang baru.

Pemberantasan hama, lanjut Wiratno merupakan sebagian dari proses budidaya. Untuk mendapatkan produktivitas perkebunan lada yang baik, diperlukan penanganan terpadu mulai dari pembibitan dengan varietas unggul, pemupukan berimbang, hingga pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman.

Penelitian tanaman lada dilakukan mulai dari pembibitan, pemupukan, penanganan organisme pengganggu tanaman, hingga penanganan pascapanen. Teknologi tersebut telah dikembangkan peneliti di Balittro Balitbangtan hingga memperoleh paten dan telah terstandar. Hasilnya tengah didiseminasikan kepada para petani dan pekebun hingga industri perkebunan di Indonesia.–YUNI IKAWATI

SUmber: Kompas, 16 April 2018

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 55 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB