Home / Artikel / Tantangan Lingkungan Global dan Keanekaragaman Lansekap Indonesia

Tantangan Lingkungan Global dan Keanekaragaman Lansekap Indonesia

Lansekap adalah bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari bahasa asing yang berarti bentang alma atau tapak muka bumi. Ada yang mengatakan lansekap itu sama dengan taman dan ada juga yang mengatakan taman adalah bagian lansekap. Tidak dapat dipungkiri istilah taman lebih populer bagi masyarakat kita selama ini.

PARA ahli arsitektur lansekap (arsitektur pertamanan) selalu bengelut di lapangan. Tugasnya adakalanya menggeluti sebuah areal ratusan hektar. Misalnya, lokasi yang berbukit-bukit, bersungai, dan berlembah dengan lingkungan berhutan. Semua itu harus dikelola sehingga menjadi suatu kawasan pemukiman atau kadang kala ”kota kecil”, di dalam kota besar.

Bisa juga tugasnya mengubah areal menjadi lapangan golf atau taman rekreasi yang sangat luas. Mungkin mereka juga harus melakukan reklamasi bekas kawasan tambang, pertanian, bekas hutan, dan lain sebagainya. Selain itu dia pun dapat pula mengerjakan taman rumah, taman hotel, atau di sekitar bangunan lain seperti pabrik, sekolah, perumahan bertingkat, dan lain sebagainya.

Ilmu pemersatu
Arsitektur lansekap di Indonesia termasuk baru. Sebenamya ilmu ini berkembang di Indonesia sejak berdirinya Akademi Pertamanan (AKAP) yan didirikan Pemda Jakarta dan dipimpin dr H Soemarno tahun 1963. Kemudian ilmu in muncul dalam bentuk mata kuliah di jurusan Teknik Pertanian yang dibina Ir Zain Rachman, dan Teknik Arsitektur ITB dibina Ir Slamet Wisonjaya, MLA.

Di Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian IPB, sejak tahun 1966 ilmu ini juga sudah mulai dapat diambil sebaai mayor (mata kuliah pokok) bagi mereka yang akan menyelesaikan studinya. Ilmu ini terus berkembang sesual perkembangam iptek. Pada tahun 1976 berdiri Fakultas Arsitektur Lansekap Universitas Trisaktil, yang embrionya berasal dari AKAP. Sekarang ilmu ini terus berkembang sehingga beberapa perguruan tinggi telah mempunyai program studi S-1 Arsitektur Lansekap atau Arsitektur Pertamanan dan program D3-nya. Arsitektur lansekap adalah gabungan dari ilmu dan seni. Sasaran ilmu arsitektur lansekap adalah bentang alam atau tapak muka bumi atau sebuah ekosistem yang sering disebut ruang luar. Jika dikaitkan dengan masalah globalisasi lingkungan, peranan para ahli arsitektur lansekap menjadi sangat penting dan perlu ditingkatkan.

Lansekap atau bentang alam adalah suatu ekosistem, yang terdiri dari makhluk hidup dengan lingkungan yang tidak hidup. Mereka saling berinteraksi, saling berkaitan, saling pengaruh-mempengaruhi, saling membutuhkan satu sama lain, dan merupakan suatu sistem. Lansekap adalah wajah dan karakter lahan atau tapak bagian dari muka bumi ini dengan segala kegiatan kehidupan apa saja ada di dalamnya, baik bersifat alami nonalami atau keduanya yang merupakan bagian atau total lingkungan hidup manusia beserta makhluk lainnya, sejauh mata memandang, sejauh segenap indera kita dapat menangkap, dn sejauh imajinasi kita dapat membayangkannya.

Para ahli arsitektur lansekap bertugas mengatur ruang dan masa di alma terbuka dengan mengkomposisikan elemn-elemen lansekap alami maupun buatan, beserta segenap kegiatannya, agar tercipta karya lingkungan yang secara fungsional bermanfaat, indah, efektif serasi, seimbang, teratur, dan tertib, sehingga tercapai kepuasan jsmaniah serta rohaniah manusia dan makhluk hid up lainnya. Jika dikaji, kehadiran ahli arsitektur lansekap bersama ahi lainnya akan dapat mengatasi kerancuan tata ruang. Pembangunan gedung-gedung “antiruang” yang sudah mulai menggejala di Indonesia seperti Jakarta, misalnya, dapat diatasi semaksimal mungkin. Demikian juga dengan pelebaran jalan atau pembuatan jalan laying. Dengan hadirnya ahli arsitektur lansekap di samping ahli lainnya akan memberikan wawasan bahwa pohon-pohon yang ada di pinggir jalan atau sekitarnya tidak akan ditebang begitu saja.

Jika terpaksa harus ditebang, maka penggantiannya harus sagera dilaksanakan. Penggantiannyapun bukan hanya berupa pohon, akan tetapi dengan pohon beserta asosianya, seperti semak, perdu ataupun tanaman yang memanjat, epifit, menempel, dan lainya. Karena arsitektur lansekap merupakan ilmu pemersatu, mereka akan berada di antara para ahli pertanian, ahli teknik arsitektur, ahli planologi, ahli teknik sipil, ahli kehutanan, dan lain sebagainya.

Tantangan lingkungan global
Peningkatan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 212 juta jiwa tahun 2000 akan meningkatkan mobilitas, apalagi dalam era informasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. Mobilitas horisontal bergerak cepat dan mobilitas vertikal akan tumbuh. Yang tadinya berada di tingkat bawah akan naik ke atas. Akan muncul kelompok sosial baru dalam masyarakat, seperti kelompok sosial industriawan, atau kelompok sosial penjual jasa. Kualitas penduduk akan meningkat. Yang berpendidikan akan semakin banyak. Dalam situasi ini kebutuhan lahan akan meningkat cepat, sehingga dampak terhadap lingkungan akan menjadi lebih besar. Peningkatan pendapatan juga akan meningkatkan kebutuhan. Pembahan struktur ekonomi dari pertanian menjadi industri serta jasa akan menimbulkan dampak lingkungan yang sekarang sudah banyak kita rasakan, seperti masalah pencemaran udara, air, dan tanah maupun masalah kebisingan dan menurunnya kualitas udara. Kondisi ini mempakan tantangan bagi para ahli arsitektur lansekap.

Trend arsitektur bangunan yang serba beton harus diimbangi dengan pengembangan lansekap yang bertumpu kepada alam. Gejala yang terlihat sekarang adalah lahan-lahan hijau selalu menjadi korban dan berubah menjadi lahan beton. Taman pun berubah fungsi. Maklum, lahan hijau ataupun taman tidak masuk di dalam mekanisme ekonomi pasar. Nilai pasarnya kalah dengan harga tanah. Harga tanah naik bila di situ sudah ada jalan atau bangunan gedung bertingkat.

Ini merupakan tantangan bagi para ahli arsitektur lansekap. Produk yang mereka hasilkan ternyata mempunyai nilai pasar yang lebih sering kalah. Sedangkan kehadiran lapangan golf –yang saat ini sering
menang dan mengalahkan lahan pertanian rakyat– masih perlu diuji jika menghadapi perkembangan penduduk dan kemajuan iptek yang sangat pesat di abad ke-21.

Banyak sekali pohon-pohon di jaringan jalan yang ditebang. Padahal, seharusnya pada tiang-tiang atau dinding jalan di jaringan jalan itu ditanami dengan tanaman merambat atau menempel. Dengan demikian, fungsi pohon –seperti fungsi menyerap CO2– tetap dilakukan. Artinya, tetap terjadi proses fotosintesis yang dijalankan oleh tanaman merambat atau menempel di pinggir jalan itu.

Kita juga dapat mencari pohon jenis lain yang dapat menyerap polutan Pb dan gas-gas lain yang banyak dikeluarkan kendaraan bermotor. Pohon itu juga harus bisa menyaring debu atau dapat meredam kebisingan, menurunkan suhu, dan dapat menjadi habitat untuk satwa liar serta memberikan pemandangan (estetika). Selain itu perlu dikembangkan lansekap yang mengundang satwa,
terutama di kawasan industry. Lansekap ini sekaligus berfungsi monitoring, di mana perilaku satwa itu sebagai indikator pencemaran udara. Lansekap di sekitar industri atau pabrik bukan hanya sekadar untuk keindahan, tapi juga berfungsi memonitor ketidakteraturan di dalam pabrik serta menyerap polutan.

Profesi arsitektur lansekap adalah yang peduli terhadap lingkungan. Para ahlinya selalu berusaha memperkecil proses kerawanan lingkungan atau dapat dikatakan sebagai perisai lingkungan. Ia juga memperbesar proses pemanfaatan lingkungan bahkan meningkatkan nilai keindahan.

Dalam hal ini ekologi merupakan salah satu ilmu yang mendasarinya selain prinsip-prinsip kependudukan. Oleh karena itu ekologi perlu dikembangkan dengan mencari kaidah-kaidah ekologi nasional yang beriklim tropis.

Ahli arsitektur lansekap dapat berkiprah sesuai dasakarya pengelolaan lingkungan hidup yang dicanangkan Presiden Soeharto baru-baru ini, yaitu melestarikan tatanan lingkungan, mengindahkan daya dukung lingkungan, menaikkan baku mutu lingkungan, menggerakkan upaya perlindungan dan pemanfaatan keanekaragaman fauna dan flora, mengkoordinasikan keterpaduan pendayagunaan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan dalam pengelolaan lingkungan, mengupayakan pemanfaatan ruang wilayah secara optimal, menormalisasikan fungsi lingkungan dengan mengurangi risiko perusakan dan pencemaran lingkungan, menggairahkan peran serta masyarakat; mengantisipasi dan mengandalkan sistem informasi lingkungan dan ekonomi lingkungan; serta menyertakan ilmu pengetahuan dan teknologi pengelolaan lingkungan serta penegakan hukum lingkungan.

Keanekaragaman lansekap
Setiap pembangunan akan menimbulkan perubahan dan setiap perubahan selalu ada dampaknya terhadap lingkungan. Cara membangun yang baik dan benar dalam lingkungan yang berubah dengan cepat serta mempertimbangkan keseimbangan ekosistem artinya adalah tidak merusak prinsip-prinsip ekologi, mengindahkan pelestarian sumber daya alam, dan mampu meningkatkan fungsinya, yaitu memenuhi keperluan manusia serta makhluk lainnya. Di situlah letak masalahnya. Pengembangan lingkungan tidak menentang perubahan namun perlu melestarikan kemampuan berfungsinya lingkungan yaitu dalam hal hubungan timbal-balik yang saling mempengaruhi antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

Lingkungan atau setiap lansekap mempunyai ciri dan karakter dan dapat mempengaruhi karakter manusia. Di tanah air kita Indonesia, ciri-ciri atau karakter lansekapnya juga beraneka ragam. Jelas sekali, lingkungan di barat berbeda dengan lingkungan di timur. Kutub Utara melahirkan orang Eskimo dengan karakter tersendiri. Mereka menggunakan pakaian dari bulu beruang yang tebal. Sedangkan beberapa suku Irian, yang berada di daerah tropis, memakai koteka dari kayu, karena di sekitar mereka memang banyak tumbuh-tumbuhan. Inilah satu contoh lingkungan mempengaruhi mereka dalam cara berpakaian, cara makan, cara berumah dan sebagainya. Hal ini menunjukkan, lingkungan itu dinamis, selalu berubah-ubah, dan bukan barang mati. Lingkungan juga dapat mempengaruhi karakter manusia. Oleh karena itu Prof Dr Emil Salim (1984) di hadapan sivitas akademika Fakultas Arsitektur Lansekap (FAL) Universitas Trissakti menegaskan, para ahli arsitektur lansekap perlu memperhatikan agar hasil karyanya tidak menjurus ke arah lingkungan lansekap yang asing bagi karakter manusia Indonesia.

Ini berarti mereka harus menggali wajah atau karakter berbagai bentang alam yang ada di Indonesia, sehingga muncul berbagai kekhasan lansekap Indonesia. Keanekaragaman lingkungan lansekap atau bentang alam dengan segala isi, wajah dan karakternya, merupakan kekayaan bangsa kita, yang perlu digali dan dilestarikan ini penting untuk menunjukkan identitas kita menghadapi globalisasi. Jika para turis asing datang ke Indonesia, dia akan betul-betul merasa ada di Indonesia. Begitu pula jika orang Minang misalnya, datang ke Bali atau ke Madura dia akan merasakan, dia betul-betul ada di Bali atau Madura, dan begitu juga sebaliknya.

Keanekaragam lansekap Indonesia akan memberi ketahanan budaya bagi bangsa Indonesia karena di dalam keanekaragarnan lansekap itu terkandung keanekaragaman budaya dan keanekaragaman komunitas flora, fauna, dan apa saja yang ada dalam bentang alam itu. Seperti yang dikemukakan Watt (1973), ahli ekologi dari Amerika, kemantapan keanekaragaman suatu komunitas lebih tinggi di alam lingkungan yang ”mudah diramal”. Mudah diramal bararti adanya keteraturan yang mantap pada pola faktor lingkungan dalam suatu periode yang lama.

Jadi keanekaragaman lansekap Indonesia sudah kita miliki sejak dahulu di zaman nenek moyang kita. Indonesia yang terdiri dari belasan ribu pulau dengan lebih dari dua ratus suku bangsa dengan lingkungan berbeda, adat kebiasaan, dan tradisi yang beraneka ragam. Dan keanekaragaman lansekap merupakan potensi negara kita. Merupakan tantangan bagi kita bagaimana menggali, mengembangkan, dan melestarikannya. Ini merupakan peluang untuk berkreasi lebih dinamis, sehingga kita dapat dapat membanggakannya serta tidak meniru begitu saja lansekap dari luar. Artinya, kekhasan setiap lansekap dapat kita pertahankan dengan tidak menutup kemungkinan pengembangan atau peningkatan sesuai dengan perkembangan zaman.

Tujuan pembangunan Indonesia bukan hanya mengejar kemajuan lahiriah atau mengejar kepuasan batiniah saja, tetapi kesinambungan keselarasan, dan keserasian antara keduanya yang menghasilkan manusia seutuhnya. Seperti dikemukakan Emil Salim (1984), lingkungnn mempunyai karakter, Oley karena itu hendaklah diciptakan atau dipelihara agar lingkungan itu memantapkan karakter manusia.

Karakter manusia seutuhnya mempunyai ciri-ciri: 1) Keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, maha pencipta. Jadi ciri manusia Indonesia adalah ciri manusia beragama, berarti tumbuhnya ciri beriman; 2) Keselarasan hubungan manusia dengan masyarakat. Ciri manusia Indonesia adalah ciri bersosial bukan individualis, berarti tumbuh ciri berilmu; 3) Keselarasan hubungan manusia dengan lingkungan alam. Ini adalah ciri-ciri berlingkungan, berarti berkembang ciri, berbudi.

Hasil karya arsitektur lansekap adalah mengubah lingkungan menjadi lebih berfungsi seimbang, indah, dan harus dapat mempertahankan ciri karakter manusia Indonesia yang meliputi iman, ilmu, dan budi.

(Dr Ir Zoer’aini Djamal Irwan, Ms, lektor kepala, bekerja pada Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti, Jakarta)

Sumber: Kompas, Jum’at, 28 Juli 1995

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: