Spesies Baru Katak Pucat Pantai Selatan Ditemukan di Garut

- Editor

Jumat, 4 Oktober 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jawa ternyata masih menyimpan keanekaragaman hayati yang belum terungkap. Seperti temuan katak pucat pantai selatan berukuran mini baru-baru ini mengingatkan kita untuk memberikan perlindungan terhadap alam.

MISBAHUL MUNIR—-Katak Pucat Pantai Selatan (Chirixalus pantaiselatan)

Peneliti yang tergabung dalam Gerakan Observasi Amfibi Reptil Kita mengidentifikasi jenis baru yang diberi nama katak pucat pantai selatan. Penemuan jenis baru ini menambah koleksi data keanakeragaman hayati Indonesia sekaligus memberikan informasi baru tentang distribusi beberapa spesies dari area umum.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hasil penelitian tentang penemuan spesies baru katak dengan nama latin Chirixalus pantaiselatan ini telah terbit di Raffles Bulletin of Zoology pada 5 Juli 2021. Spesies yang ditemukan di hutan dataran rendah, Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini merupakan kelompok katak Rhacophorid kecil dengan panjang tubuh jantan berkisar 25,3-28,9 milimeter.

Peneliti memastikan katak pucat pantai selatan merupakan spesies baru setelah dilakukan analisis morfologi molekuler dengan menggunakan DNA mitokondria dan suara kawin. Hasil analisis menunjukkan, spesies katak tersebut tidak cocok dengan jenis dari marga yang sudah ada. Oleh karena itu, didukung oleh bukti morfologi, molekuler, dan akustik maka jenis ini dideskripsikan sebagai jenis baru.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang juga salah satu penulis penelitian, Amir Hamidy, mengatakan, Chirixalus pantaiselatan secara morfologi paling mirip dengan Chirixalus nongkhorensis dari Chonburi, Thailand. Namun, pola warna punggung dan genetikanya paling dekat dengan Chirixalus trilaksonoi dari Jawa Barat.

Ia pun menyoroti pentingnya partisipasi publik dan keterlibatan ilmiah profesional dalam pemantauan keanekaragaman hayati. Sebab, kurangnya informasi seperti distribusi, populasi, dan habitat spesies menjadi kendala dalam program konservasi keanekaragaman hayati di negara berkembang khususnya Indonesia.

”Pengetahuan dan keterlibatan masyarakat dapat memberikan data empiris tentang skala spasial yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya dalam siaran pers, Jumat (30/7/2021).

Misbahul Munir, salah satu kontributor utama dari penemuan ini, memperkirakan status konservasi Chirixalus pantaiselatan terancam kritis. Hal ini didasarkan pada sejumlah kriteria dalam Daftar Merah Badan Konservasi Dunia (IUCN Red List).

Sejumlah kriteria spesies yang terancam itu yakni memiliki tingkat kemunculan kurang dari 100 kilometer persegi, luas huniannya kurang dari 10 kilometer persegi dan hanya ditemukan di satu lokasi dengan kualitas habitat yang menurun. Sementara usulan status Daftar Merah IUCN untuk jenis baru ini didasarkan pada data yang terbatas dan membutuhkan survei intensif untuk justifikasi yang lebih kuat.

Dalam publikasi jenis baru Chirixalus pantaiselatan ini juga ditemukan jenis katak lain yang belum pernah dilaporkan dari Jawa, yakni Polypedates macrotis atau katak panjat telinga hitam. Di Indonesia, jenis ini hanya tercatat dari wilayah Kalimantan dan Sumatera sehingga kehadirannya di Jawa merupakan penemuan baru.

Sampel katak pucat pantai selatan ini pertama kali dijumpai tahun 2017 dalam kegiatan citizen science ”Gerakan Observasi Amfibi Reptil Kita (Go ARK)”. Gerakan tersebut diinisiasi oleh Penggalang Herpetologi Indonesia (PHI). Tim Go ARK terdiri dari mahasiswa dan komunitas penelitian yang melakukan pengamatan serta melaporkan amfibi dan reptil di sepanjang Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sulawesi.

Selama observasi di hutan dataran rendah bagian selatan Jawa Barat, melibatkan empat penulis sekaligus peserta Go ARK, yaitu Umar Fhadli Kennedi, Mohammad Ali Ridha, Dzikri Ibnul Qayyim, dan Rizky Rafsanzani. Mereka menjumpai jenis Rhacophorid yang menyerupai genus Chirixalus.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 30 Juli 2021

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 54 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru