Katak Mini dari Selatan Pulau Sumatera

- Editor

Sabtu, 13 Juni 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menemukan katak mini yang secara DNA lebih mirip dengan kerabatnya di Vietnam. Ini menunjukkan betapa kayanya hutan tropis Indonesia akan keanekaragaman hayati.

HUMAS LIPI—Foto katak mini sumatera yang baru saja ditemukan (Micryletta sumatrana) oleh peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Foto dikirim Humas LIPI pada 12 Juni 2020.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) baru saja menemukan katak jenis baru asal selatan pulau Sumatera. Jenis baru katak itu diberi nama Micryletta sumatrana. Sejauh ini, habitat katak itu hanya ditemukan di kawasan Hutan Harapan Jambi dan Sumatera Selatan serta di suaka margasatwa Gumai Pesamah, Sumatera Selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“ Meski demikian, masih terdapat kemungkinan bahwa katak mini Micryletta sumatrana juga hidup di daerah dataran rendah lainnya di selatan Sumatera,” ujar peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Amir Hamidy, dalam siaran pers LIPI, Jumat (12/6/2020), di Jakarta.

Amir mengatakan ukuran katak ini tergolong mini. Katak jantan hanya memiliki tubuh 17,4 milimeter, sedangkan betinanya berukuran 22,8 milimeter.

Pakar herpetologi itu menjelaskan, katak mini baru juga memiliki ciri morfologi bagian punggung (dorsal) berwarna coklat keemasan dengan sedikit bintik-bintik gelap dan bagian perut atau ventral berwarna cokelat gelap disertai corak berwarna putih krem. Karakter morfologi itu menjadi ciri atau pembeda utama dengan sesama anggota katak marga Micryletta lainnya.

Sebagai informasi, jenis katak lain tersebut di antaranya Micryletta inornata yang dapat ditemukan di bagian utara Sumatera (Medan dan Aceh) ataupun jenis Micryletta lainnya yang tersebar di kawasan India, Indochina, dan Taiwan.

“Selain itu, bagian samping kepala dari jenis baru ini berwarna coklat gelap dengan bintik-bintik putih-krem di bibir dan wilayah tengah atau tympanum. Jika tungkai belakang diluruskan, bagian artikulasi tibiotarsal dapat mencapai depan mata,” tuturnya.

Perbedaan mencolok
Amir mengungkapkan, ada perbedaan mencolok pertama kali terlihat dari pola sentral antara katak mini Micryletta sumatrana dengan katak Micryletta yang hidup di utara Sumatera. Perbedaaan itu terdapat pola menyerupai batik atau jaring pada bagian perut katak yang ditemukan di selatan Sumatera. Sementara katak yang ada di utara Sumatera tidak memiliki pola tersebut.

Tak hanya itu, setelah riset terhadap DNA, Micryletta sumatrana justru lebih menyerupai katak yang ada di Vietnam. “Bahkan perbedaan DNA-nya sudah mencapai level beda jenis. Sehingga secara ilmiah ini dapat dipertanggungjawabkan sebagai jenis baru,” tutur Amir.

Sejauh ini, penemuan katak jenis baru asal Sumatera berhasil dilakukan karena adanya teknologi molekuler. Teknologi molekuler memungkinkan para peneliti lebih mudah mengindetifikasi DNA katak tersebut. “Setelah dites DNA-nya, ternyata benar beda jenis antara populasi yang ada di Sumatera bagian selatan dengan yang ada di Sumatera bagian utara,” pungkas Amir.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 12 Juni 202

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 19 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru