Home / Berita / Baru Ditemukan, Katak Pucat Asal Garut Butuh Perlindungan

Baru Ditemukan, Katak Pucat Asal Garut Butuh Perlindungan

Jenis baru katak pucat pantai selatan yang ditemukan di hutan dataran rendah di Garut, Jawa Barat, perlu ditindaklanjuti dengan riset lanjutan dan perlindungan spesies serta habitatnya.

Penemuan spesies baru katak di hutan dataran rendah di Garut, Jawa Barat, membuktikan kekayaan hayati di Pulau Jawa masih bisa dieksplorasi lebih dalam. Temuan ini juga menyiratkan pesan kehati-hatian dalam pemanfaatan ataupun perubahan peruntukan hutan.

Katak pucat pantai selatan (Chirixalus pantaiselatan) jantan ini memiliki panjang tubuh 2,53-2,89 centimeter. Publikasi spesies baru ini muncul dalam laporan riset di Raffles Bulletin of Zoology pada 5 Juli 2021.

Merespons penemuan spesies baru ini, Jumat (30/7/2021), Guru Besar Bidang Konservasi Alam dan Manajemen Satwa Liar IPB University Hadi S Alikodra menilai spesies baru katak ini memiliki karakteristik khusus, seperti daya jelajah yang tidak luas atau berhabitat sempit. Dengan kondisi seperti ini, identifikasi dalam penelitian lanjutan harus diperluas cakupan wilayahnya.

Menurut Hadi, informasi yang harus segera diketahui adalah terkait dengan jumlah dan penyebaran katak pucat pantai selatan apakah juga berada di luar kawasan konservasi. Apabila hanya berada dalam kawasan konservasi, seperti katak ini ditemukan, yaitu di Cagar Alam Leuweung Sancang, upaya perlindungan akan lebih mudah. Sebaliknya, perlindungan akan membutuhkan upaya lebih tinggi jika ternyata habitat spesies baru ini juga berada di luar kawasan konservasi.

REPRORAFFLES BULLETIN OF ZOOLOGY /ICHWAN SUSANTO—-Jurnal yang memuat temuan spesies baru katak pucat pesisir selatan.

”Setelah titik habitat pertama sudah diketahui, penelitian lebih lanjut dapat meluas ke daerah lainnya sehingga dapat dipahami oleh publik. Kemudian, tempat tersebut harus segera dilindungi dengan melibatkan masyarakat setempat ataupun BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Jawa Barat,” ujarnya.

Hadi menekankan, keterlibatan masyarakat lokal sangat penting dalam upaya konservasi untuk menjaga habitat ataupun spesies tersebut. BKSDA Jawa Barat dan pihak-pihak lainnya yang memiliki kewenangan dapat mengajak dan melibatkan tokoh masyarakat di daerah tersebut untuk turut memberikan edukasi terkait aspek-aspek konservasi.

Proses penemuan
Sampel katak pucat pantai selatan pertama kali dijumpai pada 2017 dalam kegiatan citizen science ”Gerakan Observasi Amfibi Reptil Kita (Go ARK)”. Gerakan tersebut diinisiasi oleh Penggalang Herpetologi Indonesia (PHI).

Tim Go ARK terdiri dari mahasiswa dan komunitas penelitian yang melakukan pengamatan serta melaporkan amfibi dan reptil di sepanjang Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sulawesi. Observasi di hutan dataran rendah bagian selatan Jawa Barat itu melibatkan empat penulis penelitian tersebut yang sekaligus peserta Go ARK, yaitu Umar Fhadli Kennedi, Mohammad Ali Ridha, Dzikri Ibnul Qayyim, dan Rizky Rafsanzani. Mereka menjumpai jenis Rhacophorid yang menyerupai genus Chirixalus.

Peneliti memastikan katak pucat pantai selatan merupakan spesies baru setelah dilakukan analisis morfologi molekuler dengan menggunakan DNA mitokondria dan suara kawin. Hasil analisis menunjukkan, spesies katak tersebut tidak cocok dengan jenis dari marga yang sudah ada. Didukung oleh bukti morfologi, molekuler, dan akustik, jenis ini akhirnya dideskripsikan sebagai jenis baru.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang juga satu dari delapan penulis penelitian, Amir Hamidy, mengatakan, C pantaiselatan secara morfologi paling mirip dengan C nongkhorensis dari Chonburi, Thailand. Namun, pola warna punggung dan genetikanya paling dekat dengan C trilaksonoi dari Jawa Barat.

Ia juga menyoroti pentingnya partisipasi publik dan keterlibatan ilmiah profesional dalam pemantauan keanekaragaman hayati. Sebab, kurangnya informasi, seperti distribusi, populasi, dan habitat spesies, menjadi kendala dalam program konservasi keanekaragaman hayati di negara berkembang, khususnya Indonesia.

”Pengetahuan dan keterlibatan masyarakat dapat memberikan data empiris tentang skala spasial yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.

Populasi diperkirakan kritis
Misbahul Munir, salah satu kontributor utama dari penemuan ini, memperkirakan status konservasi C pantaiselatan terancam kritis. Hal ini didasarkan pada sejumlah kriteria dalam Daftar Merah Badan Konservasi Dunia (IUCN Red List).

—-Infrastruktur jalan dari Kota Garut menuju Pamengpeuk sudah terbangun sejak era penjajahan Belanda dengan kelokan tajam dan pemandangan hutan serta air terjun.

Sejumlah kriteria spesies yang terancam itu adalah memiliki tingkat kemunculan kurang dari 100 kilometer persegi, luas huniannya kurang dari 10 kilometer persegi, dan hanya ditemukan di satu lokasi dengan kualitas habitat yang menurun. Sementara usulan status Daftar Merah IUCN untuk jenis baru ini didasarkan pada data yang terbatas dan membutuhkan survei intensif untuk justifikasi yang lebih kuat.

Dalam publikasi jenis baru C pantaiselatan ini juga ditemukan jenis katak lain yang belum pernah dilaporkan dari Jawa, yakni Polypedates macrotis atau katak panjat telinga hitam. Di Indonesia, jenis ini semula hanya tercatat dari wilayah Kalimantan dan Sumatera sehingga kehadirannya di Jawa merupakan penemuan baru.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 31 Juli 2021

Share
%d blogger menyukai ini: