Home / Berita / Sosok Pengajar Egaliter dan Nasionalis Itu Telah Tiada…

Sosok Pengajar Egaliter dan Nasionalis Itu Telah Tiada…

Cornelis Lay (61), Guru Besar Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada, telah berpulang, Rabu (5/8/2020) pagi. Ia dikenal sebagai teman, kakak, senior, hingga guru yang egaliter dan bersahaja.

Cornelis Lay (61), Guru Besar Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada, berpulang, di Yogyakarta, Rabu (5/8/2020) pagi. Ia dikenal sebagai teman, kakak, senior, hingga guru yang egaliter dengan spirit nasionalisme tinggi. Keramahan dan sapaan hangatnya akan dirindukan setiap orang yang mengenalnya.

Jeanne Cynthia Lay (49), istri Cornelis, menatap nanar para pelayat begitu sampai rumah duka, di Perum Cemara Blok F-13, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu siang. Ia datang bersama jenazah suaminya yang akan disemayamkan di rumah duka itu sebelum dimakamkan di Makam Keluarga Besar UGM Sawitsari, Kabupaten Sleman, DIY, Kamis (6/8/2020).

Kedatangan Jeanne langsung disambut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan dan RB) Tjahjo Kumolo. Tjahjo sudah datang lebih kurang 30 menit sebelumnya.

Tjahjo tak bisa banyak berkata. Ia hanya mengatupkan kedua tangan untuk menunjukkan belasungkawa kepada Jeanne yang juga tengah memohon maaf atas kesalahan suaminya. Mata Tjahjo perlahan memerah mendengarkan ucapan Jeanne. ”Mohon dimaafkan kesalahan-kesalahan almarhum,” ucap Jeanne lirih sambil menahan tangis.

Sejumlah mahasiswa Mas Conny, sapaan akrab Cornelis, juga telah hadir sejak pagi. Bahkan, mereka ikut membantu menyiapkan kursi bagi para pelayat. Kepergian Cornelis begitu memukul mereka. Tampak salah seorang mahasiswa menangis histeris saat menyaksikan peti yang berisikan jenazah Cornelis diangkut memasuki ke rumah duka.

Erwan Agus Purwanto, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, mengenal Cornelis sebagai sosok yang egaliter. Namanya sudah tenar dikenal di kancah perpolitikan nasional karena menjadi penasihat para politisi PDI-P. Namun, kebesaran itu tidak membuatnya besar kepala. Relasinya dibangun sangat santai dengan para mahasiswa. Bahkan, ia tidak sungkan berbincang dengan mahasiswanya di kantin.

”Kita semua tahu beliau senior dan sudah bergelar profesor. Namun, ada kejanggalan kalau kami memanggil Pak Conny. Semuanya dari tua sampai muda memanggilnya Mas Conny. Beliau lebih suka dipanggil Mas Conny. Hubungan dengan mahasiswa terjalin dengan sangat cair dan santai,” kata Erwan.

Pernyataan itu dibenarkan salah seorang mahasiswa Mas Conny, yakni Obed Kresna (24). Ia menilai almarhum benar-benar tahu cara merangkul mahasiswanya. Mahasiswa diposisikan sejajar dengannya sehingga diskusi yang terjalin berlangsung dua arah. Kondisi itu justru membuat Mas Conny dihormati para mahasiswanya.

”Mas Conny sangat terbuka untuk diajak diskusi. Tidak memosisikan dirinya di atas yang lain. Dia juga tidak mau dipanggil Pak atau Prof. Panggilan Mas Conny itu berlaku bagi mahasiswa dari semua angkatan,” ucap Obed, yang pernah menjadi Presiden BEM KM UGM 2018.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS—Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) Cornelis Lay didampingi sang istri menyapa tamu undangan dalam acara pengukuhannya sebagai guru besar, Rabu (6/2/2019), di Balai Senat UGM, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam acara itu, Cornelis menyampaikan pidato berjudul ”Jalan Ketiga Peran Intelektual: Konvergensi Kekuasaan dan Kemanusiaan”.

Besarnya reputasi Mas Conny dalam perpolitikan nasional setidaknya terlihat dari sejumlah nama pengirim karangan bunga ke rumah duka. Terdapat nama Presiden Joko Widodo dan sejumlah menterinya dalam ucapan belasungkawa.

Adapun menteri yang turut mengirimkan karangan bunga adalah Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, serta Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

Mas Conny diketahui sempat menjabat sebagai kepala Biro Pemerintahan dan Politik Dalam Negeri, pada Deputi Bidang Politik, Sekretariat Wakil Presiden pada 2000-2004. Ia juga memiliki peranan penting dalam kemenangan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Pemilu Presiden 2014. Saat itu, ia didaulat sebagai ketua Tim Ahli dan Pakar Politik Tim Pemenangan dan Perumus Joko Widodo-Jusuf Kalla. Ia juga menjadi penyusun teks pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo saat dilantik 20 Oktober 2014.

”Bagi saya, beliau sudah seperti kakak dan senior saya. Mulai saya menjadi Sekjen Partai (PDI-P). Kemudian, jadi ketua Tim Sukses Pak Jokowi untuk Gubernur DKI dan Pilpres. Sampai saya Mendagri, dia selalu mendampingi saya,” kata Tjahjo Kumolo, seusai melayat.

Tjahjo menyampaikan, malam sebelum almarhum mengembuskan napas terakhir, keduanya masih saling berkirim pesan. Almarhum sering memberikan nasihat terkait kebijakan-kebijakan yang hendak diambil. Hal yang terakhir dibahas keduanya mengenai pembubaran sejumlah lembaga untuk perampingan birokrasi.

Lebih lanjut, Tjahjo menyatakan, almarhum merupakan sosok yang konsiten mengembangkan diri dalam ilmu pengetahuan. Almarhum diketahui memang memiliki kedekatan dengan partai, tetapi tidak serta-merta terjun langsung ke politik praktis. Sebaliknya, almarhum bergerak di balik layar mengingatkan penguasa agar selalu mengutamakan kepentingan kemanusiaan dalam setiap langkahnya.

Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, yang ikut melayat juga mengungkapkan hal serupa. Menurut dia, Cornelis dengan intelektualitasnya yang tinggi banyak memotivasi anak muda untuk menjadi pemimpin nasionalis dan berpihak kepada rakyat. Khususnya dalam organisasi mahasiswa Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI), di mana almarhum turut aktif di dalamnya.

Karier akademis almarhum dimulai dengan menjadi dosen, di Departemen Ilmu Politik dan Pemerintahan, Fisipol UGM, pada 1988. Satu tahun setelah lulus kuliah dari departemen tersebut. Selanjutnya, almarhum berhasil meraih gelar master dari Saint Mary’s University Canada, Amerika Serikat, Mei 1992. Gelar doktor dalam ilmu politik diperoleh dari Universitas Gadjah Mada, Oktober 2015.

Almarhum dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Politik dan Pemerintahan oleh UGM pada Februari 2019. Saat itu, ia membawakan pidato ilmiah pengukuhannya yang berjudul, ”Jalan Ketiga Peran Intelektual, Konvergensi Kekuasaan, dan Kemanusiaan”. Isi dari pidato tersebut agar kaum intelektual Indonesia tidak alergi dengan dunia politik dan kekuasaan.

Intelektual didorong mampu berkolaborasi dengan kekuasaan demi mewujudkan kepentingan kemanusiaan. Namun, hubungan dengan penguasa jangan sampai menghilangkan karakter intelektual yang berpikir bebas dan bertindak bijak.

Erwan menyampaikan, terkait beragam gelar akademis yang direngkuh, hendaknya dapat memotivasi seluruh anak muda dari seluruh penjuru bangsa. Almarhum merengkuh segala capaiannya melalui jalan terjal. Almarhum memulai kuliah di Yogyakarta, dengan membongkar celengan bambunya. Almarhum juga berangkat dari keluarga yang tidak mampu.

”Saya kira, tidak akan mudah untuk menggantikan sosok Mas Conny. Seseorang yang bekerja keras. Punya spirit nasionalisme tinggi. Ingin membangun Indonesia menjadi lebih baik. Spirit kerja kerasnya perlu ditiru anak-anak muda. Bagaimana beliau menjadi punya nama dan dikenal di level nasional. Ini sebuah contoh bagaimana mewujudkan sebuah keinginan atau cita-cita,” kata Erwan.

Oleh NINO CITRA ANUGRAHANTO

Editor: GREGORIUS FINESSO

Sumber: Kompas, 6 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: