Intelektual Tak Perlu Alergi Kekuasaan

- Editor

Kamis, 7 Februari 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kaum intelektual di Indonesia diminta tidak alergi dengan dunia politik dan kekuasaan. Demi kepentingan kemanusiaan, intelektual bisa menjalin hubungan atau berkolaborasi dengan kekuasaan. Namun, hubungan dengan kekuasaan itu tak boleh membuat seorang intelektual kehilangan karakter dasarnya, yakni berpikir bebas dan bertindak bijak.

Demikian disampaikan Cornelis Lay saat menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM), Rabu (6/2/2019), di Balai Senat UGM, Kabupatcn Sleman, Daerah lstimewa Yopyakarta.

Pengukuhan Cornelis sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Politik dan Pemerintahan itu dihadiri oleh sejumlah tokoh, antara lain Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, serta Sekretaris Jenderal PDI-Perjuangan Hasto Kristiyanto.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam pidatonya, Cornelis menyampaikan, selama ini, kaum intelektual seolah-olah hanya dihadapkan pada dua pilihan atau jalan saat berhubungan dengan kekuasaan. Jalan pertama adalah menjadi bagian dan tunduk pada kekuasaan, sementara jalan kedua adalah menjauhi dan bahkan memusuhi kekuasaan.

“Secara subyektif, konstruksi berpikir itu berakibat pada munculnya sindrom antipolitik pada sebagian, bahkan mayoritas intelektual yang secara bangga memersepsikan diri sebagai makhluk apolitis,” ujar Cornelis.

Jalan tengah
Menghadapi kondisi tersebut, ia menawarkan jalan ketiga dalam memandang relasi intelektual dan kekuasaan. Jalan ketiga itu adalah jalan di mana kaum intelektual bisa masuk dan keluar dari kekuasaan berdasarkan penilaian yang matang dan menyeluruh serta berdasarkan motif kemanusiaan. Oleh karena itu, relasi intelektual dan kekuasaan tidak didikte oleh motif kecintaan atau kebencian.

Cornelis menuturkan, upaya menemukan jalan ketiga itu berangkat dari keyakinan bahwa kekuasaan dan ilmu pengetahuan sebenarnya lahir dan bertumbuh di atas cita-cita yang baik, yakni pembebasan manusia dan pemuliaan kemanusiaan. Oleh karena itu, untuk memperjuangkan kemanusiaan, kaum intelektual bisa menjalin hubungan dengan kekuasaan.

“Keduanya (kekuasaan dan ilmu pengetahuan) bisa menemukan alasan moral yang kuat dan masuk akal untuk jalan bersisian di tengah-tengah pesimisme yang berkembang,” katanya.

Namun, Cornelis mengingatkan, jalan ketiga itu tak mudah dilalui. Sebab, banyak jebakan yang bisa menggagalkan tujuan mulia untuk memperjuangkan kemanusiaan.

Sementara itu, Tjahjo Kumolo berpendapat, jalan ketiga yang ditawarkan Cornelis cukup menarik. Menurut Tjahjo, tanpa kontribusi kaum intelektual, pemerintah tidak akan mampu bekerja secara maksimal. Indonesia saat ini tengah dalam tahap konsolidasi demokrasi sehingga sangat membutuhkan peran kaum intelektual. (HRS)

Sumber: Kompas, 7 Februari 2019

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 29 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB