Home / Artikel / Sidik Jari

Sidik Jari

KALAU seseorang tidak dapat menulis sehingga tidak dapat membubuhi tanda tangan di atas surat penting, maka orang itu diperbolehkan membubuhi sidik jempol. Sidik jempol dianggap unik untuk setiap orang sehingga dapat menggantikan tanda tangan yang juga dianggap unik untuk setiap orang. Demikianlah pada masa lampau, kita menemukan banyak dokumen kuno yang berhiaskan sidik jempol dari rakyat yang tidak dapat membaca dan menul.

Pada zaman sekarang, hampir semua orang dewasa dan anak sekolah sudah dapat bertanda tangan. Sekalipun demikian, pada sejumlah dokumen penting seperti surat izin mengemudi, sidik jari masih juga diperlukan. Keperluan ini muncul karena pada zaman sekarang, sidik jari sudah digunakan pula oleh penyelidik tindak pidana untuk mengenali korban, saksi, atau pelaku kejahatan di dalam tindak pidana itu. Dan dalam hal ini, kumpulan sidik jari di kantor polisi merupakan pustaka acuan yang cukup lengkap untuk berbagai sidik jari yang ditemukan di mana-mana.

Tampaknya, pelaku kejahatan pun mengetahui hal itu. Dalam sejumlah pembunuhan berupa mayat terpotong-potong, pelaku kejahatan berusaha menghilangkan sidik jari korban. Dengan demikian, para penyelidik perlu menggunakan cara lain untuk mengenal korban serta melacak pembunuhnya.

Pertanyaan kita sekarang adalah siapa yang memelopori penggunaan sidik jari itu. Konon kabarnya, pada zaman dahulu, orang Cina telah menggunakan sidik jempol sebagai tanda pengenal. Di India, Sir Willian Herschel pernah menggunakan cara itu, namun setelah ia meninggalkan India, cara itu tidak lagi dipergunakan. Dan pada tahun 1823, Jan Evangelista Purkinje juga mempelajari sidik jari. Namun, penyelidikian yang teratur ter-hadap sidik jari dilakukan oleh Sir Francis Galton.

Galton tidak semata-mata mempelajari sidik jari. Minat Galton di bidang ilmu mencakup banyak hal. Ia mampu berbicara dalam lima bahasa, mencari sumber sungai Nil, mengembangkan statistika, ikut membentuk ilmu biometrika, menyusun peta cuaca modem di bidang meteorologi, menciptakan ticker tape dan slide whistle, serta menulis novel. Sekalipun demikian, karya utama Galton terletak pada ilmu keturunan yang menyangkut antropometrika dan biostatistika. Dan di dalam antropometrika itu terdapat sidik jari manusia.

FRANCIS GALTON
Lahir di Birmingham, Inggeris, pada tanggal 16 Februari 1822, Francis Galton merupakan anak yang luar biasa cerdas. Konon kabarnya, ia telah dapat membaca pada umur tiga tahun serta mempelajari bahasaLatin pada umur empat tahun. Galton adalah saudara sepupu Charles Darwin yakni ilmuwan yang sangat tenar di bidang evolusi. Bahkan berkat teori evolusi dari Darwin itulah, Galton tertarik kepada ilmu keturunan manusia.

Galton belajar kedokteran di Universitas Cambridge dan lulus pada tahun 1844. Ketika ayahnya meninggal, ia pun menjadi bebas dan menghentikan studinya itu. Bahkan ia tertarik kepada geografi dan meteorologi. Pada bagian akhir tahun 1840-an, ia mengembara ke Afrika, serta sebagai penjelajah, ia menulis buku tentang penjelajalren itu.

GaIton menikah pada tahun 1853. Namun, minatnya terhadap geografi dan meteorologi terus mendorongnya untuk mempelajari bidang ilmu itu. Pada tahun 1863, ia menulis buku Meteorographica. la juga menciptkakan teknik modern tentang pemetaan cuaca. Ia menciptakan istilah “anticyclone” yakni tekanan tinggi yang.biasanya menghasilkan cuaca baik dan tenang. Selain itu, Galton juga menciptakan, seperti telah disebut di depan, peluit nada tinggi yang dapat didengar oleh anjing tetapi tidak terdengar oleh manusia.

Setelah Charles Darwin mengumumkan te,ori evolusinya pada tahun 1859, perhatian Galton pun beralih ke ciri manusia melalui keturunan. Melalui ukuran atau ciri tubuh manusia, Galton ingin menemukan sifat manusia. Ia juga ingin mengetahui apakah sifat itu dapat berlangsung secara turun-temurun. Teknik yang digunakan Galton adalah teknik statistika sehingga ia juga memberi sumbangan kepada perkembangan statistika.

Galton percaya kepada peranan keturunan. Sayang pada zaman itu, temuan Mendel tentang hukum keturunan yang terpendam di dalam majalah ilmiah, belum ditemukan kembali (lihat Akutahu No. 78, Agustus 1989), sehingga Galton mengira bahwa kadar ciri turunan merupakan campuran proporsional dari kadar ciri pada kedua orangtua. Di dalam studi itu, salah satu cara yang digunakan Galton adalah
pemetaan secara grafik, ciri orangtua dan ciri anak. Ciri orangtua diletakkan pada salah satu sumbu koordinat serta ciri anak pada sumbu lainnya. Dari sini, untuk pertama kalinya, konsep korelasi dan regresi digunakan. Melalui konsep korelasi dan regresi itu, Galton menerangkan hasil penemuannya itu. Kemudian, dari konsep itu, Karl Pearson mengembangkan teknik statistika yang kini dikenal sebagai korelasi dan regresi.

Pada tahun 1869, Galton mempelajari kemampuan mental manusia. Ia menemukan bahwa kemampuan mental berbeda-beda pada orang yang berbeda. Dalam hal ini, Galton percaya bahwa kemampuan mental manusia dapat diukur dengan tepat secara kuantitatif. Kadang-kadang, kegiatan Galton cukup keterlaluan. Konon kabarnya, ia pernah membuat peta distribusi dari kecantikan wajah di Inggeris serta menguji keampuhan sembahyang melalui cara statisika.

Di dalam penelitian itu, Galton menemukan bahwa kemampuan mental manusia menyebar secara statistika. Pada waktu itu, Lambert Adolphe Jacques Quetelet telah menemukan bahwa kualitas fisik manusia menyebar menurut distribusi probabilitas normal. Galton menemukan bahwa penyebaran kemampuan mental manusia adalah juga menurut distribusi normal itu. Galton meneruskan juga percobaan itu ke bidang tumbuh-tumbuhan.

Atas anjuran Joseph Hooker dan Charles Darwin, Galton melakukan percobaan dengan kacang polong. Pada tahun 1885, berdasarkan berat bibit, ia memilah kacang polong ke dalam tujuh kelompok. Dengan 10 bibit untuk setiap kelompok berat, Galton mengirim, masing-masing, 70 bibit kacang polong itu ke sejumlah kawannya di berbagai tempat di Inggris. Ia meminta mereka menanamnya menurut cara tertentu. Kemudian daun dari setiap tumbuhan dikirim kembali kepada Galton. Dari situ, Galton menemukan asas pembalikan (reversion). Galton menemukan bahwa turunan dari kacang polong katai, berkurang katainya. Turunan dari kacang polong besar, berkurang besamya.

Untuk mencatat berbagai hasil penelitianna, Galton menulis buku. Selain buku tentang meteorologi, pada tahun 1869, Galton menerbitkan buku berjudul Heredity Genius. Pada tahun 1883, ia menerbitkan buku berjudul Inquiries into Human Faculty serta pada tahun 1889, buku berjudul Natural Inheritance. Semua buku ini berkenaan dengan ilmu keturunan.

Sesungguhnya pada waktu itu, ada dua pemikiran yang beredar di kalangan ilmuwan. Pemikiran pertama menekankan peranan keturunan di dalam ciri manusia. Dalam hal ini para pemikir mencari faktor keturunan bagaimana yang dapat menghasilkan ciri manusia yang baik dan unggu. Pemikiran kedua menekankan peranan lingkungan di dalam ciri manusia. Dalam hal ini mereka berusaha menciptakan lingkungan yang memadai untuk menghasilkan ciri manusia yang baik dan unggul. Kegiatan lingkungan yang paling ampuh adalah pendidikan. Dipetakan kepada kedua macam pemikiran ini, tampaklah bahwa Galton termasuk kelompok pertama yakni kelompok yang percaya bahwa pengaruh keturunan lebih besar dari pe-ngaruh lingkungan terhadap ciri manusia.

Hasil studi dan pemikiran Galton mencakup sejumlah hal. Pertama, Galton percaya kepada teknik stastiska yang didasarkan kepada hukum probabilitas. Bersama itu, ia turut mengembangkan statistika di bidang distribusi probabilitas normal, korelasi, regresi, dan penilaian secara persentil. Bahkan, tentang distribusi probabilitas normal itu, Galton berkata, “Saya jarang menemukan sesuatu yang demikian tepat untuk mengesankan imaginasi seperti bentuk hebat dari susunan kosmik yang dinyatakan oleh ‘Hukum tentang Frekuensi Kekeliruan’…” Dengan statistika ini, Galton menyusun biostatistika. Dan bersama-sama dengan Karl Pearson, Galton mendirikan Jurnal Biometrika yang mulai terbit pada tahun 1901.

Kedua, Galton percaya bahwa banyak ciri manusia ditentukan oleh keturunan. Dalam rangka ini, Galton merupakan orang pertama yang meneliti kembar identik. Pada kembar demikian, banyak faktor keturunan terdapat di antara mereka. Sesungguhnya, seperti dikemukakan di atas, Galton termasuk aliran keturunan yang percaya bahwa pengaruh keturunan lebih besar dari pengaruh lingkungan terhadap ciri manusia.

Ketiga, dengan mengetahui berbagai ciri keturunan, Galton percaya bahwa kita dapat memupuk ciri-ciri baik di dalam keturunan sehingga kelak kita dapat menghasilkan keturuan yang baik atau unggul. Pada tahun 1883, Galton menamakan disiplin ini sebagai “eugenics.” Tampaknya, bidang ini cukup rumit sehingga sampai sekarang pun “eugenics” ini masih kurang dipahami secara jelas oleh kalangan ilmuwan.

Di dalam studinya untuk menentukan ciri-ciri manusia, Galton sampai ke sidik jari. Dari studinya itu, Galton menemukan bahwa bentuk sidik jari setiap orang bersifat tetap. Ia juga menemukan bahwa sidik jari setiap orang bersifat unik. Dengan kedua sifat ini, sidik jali dapat digunakan sebagai tanda pengenal seseorang. Berkat studi Galton, sidik jari kemudian diterima sebagai cara sah dan legal untuk keperluan identifikasi manusia.

Pada tahun 1911, sejumlah peristiwa kejahatan dapat di5ecahkan melalui sidik jari sehingga sidik jari digunakan di bidang itu di Inggeris dan Amerika Serikat. Dan pada saat sekarang, sidik jari sudah diterima di semua negara sebagai cara sah dan legal dalam penyelesaian perkara.

Pada tahun 1904, Di University College, didirikan Laboratorium Galton. Pada tahun 1909, Galton, diangkat menjadi bangsawan dengan gelar Sir. Tidak lama kemudian, pada tanggal 17 Januari 1911, Galton meninggal di Halsemere, Surrey, Inggris dalam usia yang cukup tua.

SIDIK JARI
Seperti dikatakan oleh Galton sendiri, minatnya terhadap sidik jari dibangkitkan oleh permintaan orang agar ia memberi ceramah tentang antropometika. “Minat saya terhadap mereka,” tulis Galton, “bangkit melalui suatu permintaan untuk memberikan kuliah Jumat malam di Royal Institution (berlangsung pada tanggal 25 Mei 1888) tentang apa yang secara singkat dinamakan ‘Bertillonage’, yakni tentang sistem yang disusun oleh Tuan Alphonse Bertillon untuk mengidentifikasi manusia melalui ukuran besaran pada
tubuh mereka.”

Sekalipun demikian, di dalam tulisannya yang berjudul Fingerprint Identification: Criminology, Galton mengakui bahwa data yang digunakan di dalam kuliah itu banyak yang tidak tepat. “Ketidaktepatan terletak pada perlakuan terhadap dimensi berbeda dari orang yang sama seolah-olah mereka adalah variabel bebczs,” kata Galton, “yang sebenarnya tidak demikian. Sebagai contoh, orang tinggi sangat boleh jadi memiliki lengan, kaki, atau jari yang lebih panjang dari orang yang pendek. Peluang untuk keluaran telah sangat diperkirakan berlebihan karena kekeliruan ini; sekalipun demikian, sistem itu sangat sederhana dan menarik hati.”

Galton kemudian berkisah tentang perkenalannya dengan Bertillon, tentang bagaimana asisten Bertillon bekerja. Organisasi mereka rapi, kerja mereka efisien, cara ukur mereka cermat. Segera pula Galton ingin memiliki karya asli sendiri. “… karena ingin memperkenalkan karya asli milik saya sendiri,” tulis Galton, “saya memberikan di dalam kuliah saya judul yang lebih umum ‘Identifikasi dan Paparan Pribadi,’ yang di atasnya banyak topik besar yang baru yang dapat dibicarakan.”

Dari situ Galton sampai ke sidik jari. “Ketika memikirkan kembali hal itu,” tulis Galton, “kenyataan muncul di dalam ingatan saya bahwa sidik jempol tidak jarang dibicarakan dan ditulis, sehingga saya mencari keterangan tentang pemalcaian mereka, khususnya oleh orang Cina. Saya juga menulis surat ke majalah ‘Nature’ untuk menanyakan informasi, dan yang terpenting memperoleh tanggapan dari Sir William Herschel, yang sebagai komisioner di India, sudah menggunakannya di distriknya selama banyak tahun, sebagai suatu cara untuk mencegah penipuan. Namun, sistem itu tidak digunakan lagi setelah ia pergi dari situ. Sir William membantu saya dengan memberikan kepada saya sidik jarinya sendiri dan dari keluarganya, baik sidik jari lama maupun sidik jari sekarang, serta menunjukkan cara membuat sidik jari itu.”

Mula-mula, Galton sangat sungguh-sungguh karena ia mengira bahwa dari sidik jari, ia bisa menemukan arti antropologi dari manusia. “Saya telah memeriksa banyak sekali orang dari ras yang berbeda dari kami, seperti Yahudi, Basque, Indian merah, India timur dari berbagai asal, Negro, dan sejumlah orang Cina. Juga orang dari watak dan temperamen yang berbeda, seperti pelajar ilmu, pelajar seni, Quaker, berbagai jenis orang terkenal, serta sejumlah besar orang idiot dari Suaka Eastwood, tanpa menemukan pola apa pun yang menjadi ciri dari mereka itu.”

Sebaliknya, arti lain dari sidik jari itu mulai menonjol. “Tetapi ketika saya terus mempelajari sidik jari,” tulis Galton, “pentingnya mereka sebagai cara untuk identifikasi makin bertambah jelas, dan sejak karya teori saya tentang keturunan, korelasi, dan sebagainya, yang akan saya bicarakan kemudian, masih ada waktu bagi saya untuk menyelidiki sidik jsri itu.”

“Berangsur-angsur mulai jelas bahwa tiga fakta harus dipastikan sebelum kita dapat menganjurkan penggunaan sidik jari untuk penyelidikan kriminal atau lainnya,” tulis Galton. “Pertama, harus dibuktikan, bukan diasumsi, bahwa pola suatu sidik jari adalah tetap seumur hidup. Kedua, bahwa variasi pola adalah betul-betul sangat luas. Ketiga, bahwa mereka dapat diklasifikasikan, atau “dikamuskan,” sehingga ketika seperangkat mereka diberikan kepada pakar, akan mungkin bagi pakar itu untuk mengatakan, melalui acuan ke suatu kamus yang memadat, atau yang setara dengan itu, apakah perangakat serupa sudah tercatat. Hal-hal inilah yang saya lakukan, tetapi kegiatan ini menuntut banyak usaha.”

Hasil kegiatan Galton ini memperoleh perhatian dari Pemerintah Inggeris. “Suatu komite ditunujuk oleh Departemen Dalam Negeri untuk mencari tahu berbagai sistem identifikasi yang sudah diterima atau diusulkan untuk digunakan pada perkara kriminal. Mereka mendatangi laboratorium saya serta menilik secara tuntas apa yang saya tunjukkan. Adalah sangat menyenangkan bekerja dengan pencari tahu yang demikian simpati dan tekun, tetapi saya selalu menyesal bahwa metoda saya belum matang untuk diinspeksi seperti itu ….”

Karena itu, Galton pun terus bekerja keras untuk mempelajarinya serta “menerbitkan hasilnya itu pada tahun 1895 di dalam buku … yang berjudul ‘Fingerprint Directory,’ dengan menggunakan istilah ‘Directory’ dalam arti yang sama dengan di dalam frasa yang sudah biasa kita kenal ‘Post Office Directory’ … Buku itu mengandung cara klasifikasi yang jauh lebih maju dari apa yang telah saya terbitkan sebelumnya, dan dalam pokok yang paling penting, sama dengan apa yang digunakan sekarang di Scotland Yard.”

Galton kemudian menulis tentang bagaimana sidik jari mulai digunakan. “Sir Edward, dahulu Mr. Henry, ketika menjabat di India, datang ke labortorium saya untuk mempelajari proses sidik jari, serta ia memperkenalkan cara itu, pertama kali, di Benggala, dan kemudian di seluruh India.” Tampaknya mereka menggunakan cara Galton, karena cara Bertillon dengan mengukur banyak bagian tubuh orang, dirasa kurang praktis. “Kemudian, Mr. Henry dikirim ke Cape, di sana telah muncul banyak kesulitan tentang identifikasi, dan ia memperkenalkan juga sidik jari di situ. Setelah itu, ia dipanggil ke Inggris, dan segera memilih jabatannya yang sekarang. Dari apa yang saya lihat pada sedikit kunjungan ke Scotland Yard, sistem sidik jari telah dengan sangat baik menjawab dan dengan mudah menangani ribuan perangkat—pastinya dengan dua puluh ribu ….”

Demikianlah telah kita lihat bagaimana Galton mempelajari antropometri serta dari situ, menemukan bahwa sidik jari merupakan cara yang ampuh untuk pemecahan masalah identifikasi, termasuk identifikasi di dalam perkara pidana. Dan cara itu masih terus digunakan sampai sekarang ini.

Oleh: Dali S. Naga

Sumber: Majalah AKU TAHU/JUNI 1990

Share
%d blogger menyukai ini: