Home / Artikel / Sidik Jari, Dari Mark Twain Sampai Laser

Sidik Jari, Dari Mark Twain Sampai Laser

SIDIK jari adalah gambaran pola garis-garis lengkung yang terdapat pada ruas ujung jari tangan dan kaki. Sidik jari seorang anak manusia diketahui terbentuk pada usia empat bulan dalam kandungan dan polanya belum pernah berubah seumur hidup.

Pada mulanya sidik jari diduga sebagai pola yang genetis diturunkan, tapi dugaan ini kini diragukan karena orang-orang kembar identik, yang berasal dari satu telur, ternyata memperlihatkan pola sidik jari yang berbeda.

Peradaban Barat baru tahun 1858 mengenal sidik jari ketika William Herschel, seorang petugas administrasi Kerajaan Inggris di India, menghadapi masalah dalam menangani dokumen orang-orang buta huruf. Setiap kali membuat dokumen yang memerlukan pembubuhan tanda tangan, mereka tidak tahu harus membuat apa sebagai ganti tanda tangan.

Herschel akhirnya membuat terobosan: meminta orang-orang membubuhkan tinta pada jari-jari dan telapak tangan lalu mencapkannya pada dokumen tersebut. Belakangan tanpa sengaja Herschel mendapatkan, pola sidik telapak dan jari ini berlainan antara orang yang satu dan orang lainnya. Pola itu bersifat menetap.

Dua tahun kemudian dokter bedah Henry Faulds tanpa sengaja menemukan sidik jari seseorang yang tercetak pada sebuah pot porselin. Bermula dari rasa tertarik, Faulds mulai mempelajari sidik jari secara sistematik dan menuliskan pengamatannya pada majalah Nature khusus mengenai hubungan sidik jari dengan karakteristik rasial dan poIa penurunannya.

Sekali peristiwa,Faulds mendengar seorang pencuri tertangkap setelah memanjat dinding. Iseng-iseng ia menghampiri dinding itu dan menemukan sidik jari di sana. Kemudian ia mengambil sidik si pencuri tadi dengan menggunakan tinta. Kedua sidik ternyata identik. Ia melakukan hal serupa dari sebuah kasus lain dan menuliskan kedua pengamatan itu pada majalah Nature edisi 28 Oktober 1880, publikasi pertama mangenai penggunaan sidik jari dalam penentuan identitas individu.

Disebabkan novelis
Sistem analisis sidik jari yang dikenal saat ini diperkenalkan kali pertama oleh Francis Galton, pakar antropologi Inggris dalam bukunya Fingerprints. Ia menggolongkan sidik jari berdasarkan pada pengamatan adanya segitiga kecil, yang ia namakan ”delta” pada sebagian besar sidik jari.

Sidik jari barangkali tak akan pernah menjadi metode popular jika saja Mark Twain, penulis kenamaan Amerika, tidak menulis The Tragedy of Pudd’nhead Wilson. Novel ini mengisahkan seorang pengacara desa yang mempunyai hobi mengoleksi sidik jari teman-temannya di atas plat kaca. Ketika dua temannya suatu hari ditangkap polisi dan dituduh sebagai pelaku pembunuhan, Wilson memberikan kesaksian dan berhasil meyakinkan juri bahwa sidik jari berdarah yang ditemukan pada senjata pembunuh itu bukan sidik jari temannya.

Sepuluh tahun setelah publikasi cerita ini, peran sidik jari sebagai instrumen identifikasi mulai dilirik penyidik dan detektif karena terbukti lebih unggul daripada metode identiifikasi Bertilon yang dikenal sebelumnya.

Klasiflkasi
Klasifikasi FBI adalah klasifikasi sidik jari yang paling banyak digunakan saat ini. Sidik jari dibagi menjadi tiga tipe: lengkung (arch), putaran (loop), dan pusaran (whorl). Tipe ini selanjutnya dibagi lagi menjadi beberapa subtipe yang keseluruhannya berjumlah sepuluh.

Dalam menilai suatu sidik jari, perhatian harus difokuskan pada pusat sidik jari (core atau C) yaitu satu titik yang merupakan awal suatu garis memecah menjadi dua garis. Titik perhatian kedua adalah daerah segitiga yang dinamakan delta (D) yang terletak tak jauh dari pusat tersebut.

Kedua pusat perhatian ini lalu dihubungkan dengan satu garis. Jumlah garis yang terpotong atau tersentuh dengan garis ini kemudian dihitung. Untuk tujuan ini, teknisi FBI biasanya menggunakan satu lembar kaca dengan garis merah di atasnya. Kaca ini diletakkan di antara kedua titik tadi dengan menaruh satu ujung garis pada pusat. Kaca ini kemudian digerakkan dari pusat ke arah delta yang dibarengi dengan penghitungan jumlah garis yang dilintasinya.

Notasi sidik jari dilakukan dengan menggunakan huruf yang menyatakan tipe sidik A (arch), T (tented arch), R (radial loop), U (ulnar loop), atau W (whorl), dan angka 1 sampai 10 yang menunjukkan nomor jari. Pada saat kita ingin membandingkan dua set sidik jari, maka diperlukan sekurangnya 10 titik kesamaan. Kriteria lain mengatakan bahwa harus ada kesamaan 12 sampai 16 titik.

Sistem pemetaan sidik jari lengkap yang kita kenal sekarang ini adalah sistem yang dikembangkan oleh Henry Battley yang bekerja pada Scotland Yard pada tahun 1930. Sistem ini mengharuskan pembuatan sidik setiap jari tangan secara tersendiri ditambah sidik jari dari sisi jari tangan masing-masmg secara gabungan.

Pada perkembangan selanjutnya, bukan hanya pola garis yang dinilai, tapi juga gambaran lebih rinci yang dinamakan poroskopi. Yang dinilai di sini adalah pola gambaran titik-titik pada sidik jari yang merupakan gambaran muara saluran keringat pada kulit. Pola ini bersifat khas dan berbeda-beda antara satu orang dari yang lainnya. Jadi apabila pemeriksaan-pemeriksaan sidik jari dan poroskopi dilakukan bersama-sama tingkat ketepatan identifikasi akan menjadi amat tinggi.

Teknik pengembangan
Dalam kasus kriminal, sidik jari biasanya tercecer pada sembarang permukaan yang sering kali sulit diamati dengan jelas. Sidik jari jenis ini dinamakan sidik jari laten. Ia membutuhkan proses pengembangan terlebih dahulu sebelum dapat dilihat dan dianalisis.

Pengidentifikasi menghadapi paling sedikit dua masalah setiap menghadapi sidik jari laten: mutu yang tak baik dan ketidaklengkapannya. Dua soal ini akan membuat derajat ketepatan sidik jari bervariasi antara kasus satu dan kasus lain.

Untuk mengembangkan sidik jari laten, teknisi biasanya menggunakan bubuk berwarna kelabu atau hitam dengan cara menaburkannya pada permukaan yang dicurigai mengandung sidik jari. Bubuk polimer resin ini mudah melekat pada lemak kulit yang ditemukan pada sidik jari laten.

Bubuk berwarna kelabu digunakan untuk permukaan kaca atau yang berwarna gelap, sedangkan bubuk hitam digunakan untuk permukaan yang berwarna terang. Penaburan bubuk ini akan membuat sidik jari pada permukaan tampak jelas dan dapat difoto dengan kamera khusus. Selanjutnya pola sidik jari tersebut diambil dengan selotip untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium.

Belakangan ini, untuk melindungi para petugas dari komponen anorganik pada bubuk yang berbahaya bagi kesehatan seperti timah hitam, kadmium, tembaga silikon.

Untuk mengemnbangkan sidik jari laten, teknisi biasanya menggunakan bubuk berwarna kelabu atau hitam dengan cara, menaburkannya pada permukaan yang dicurigai mengandung sidik jari. Bubuk polimer resin ini mudah melekat pada lemak kulit yang ditemukan pada sidik jari laten.

Bubuk berwarna kelabu digunakah untuk permukaan kaca atau yang berwarna gelap, sedangkan bubuk hitam digunakan untuk permukaan yang berwarna terang. Penaburan bubuk ini akan membuat sidik jari pada permukaan tampak jelas dan dapat difoto dengan kamera khusus. Selanjutnya pola sidik jari tersebut diambil dengan selotip untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium.

Belakangan ini, untuk melindungi para petugas dari komponen anorganik pada bubuk yang berbahaya bagi kesehatan seperti timah hitam, kadmium, tembaga, silikon, dan air raksa, dikembangkanlah bubuk dari bahan organik yang lebih aman. Sedangkan untuk pengembangan sidik jari pada permukaan yang berwarna-warni, dikembangkan bubuk khusus yang dapat berfluoreseni atau berfosforesensi.

Dengan laser
Metode uap lain yang dikenal menggunakan uap cyanoa crylate, bahan superglue. Ia digunakan untuk pengembangan sidik jari laten pada barang rumah tangga seperti kantung plastic, selotip listrik, Stilofoam, alumunium foil, selopan dan pita karet.

Bahan pengembang lain yang juga telah lama digunakan adalah ninhidrin (triketohydrindene hydrate), berwujud bubuk atau larutan. Ninhidrin diketahui dapat mengikat asam amino yang terdapat pada keringat yang dijumpai pada sidik jari laten dan akan menampakkan gambarannya setelah satu jam. Sidik jari ini dapat bertahan selama beberapa hari.

Perak nitrat dapat juga digunakan untuk mengembangkan sidik jari karena ia dapat bereaksi dengan natrium klorida yang berasal dari keringat. Metode ini umumnya dilakukan setelah pengerjaan dengan pengasapan iodium dan metode ninhidrin, sebab larutan perak nitrat diketahui dapat menghapus minyak dan asam amino saat pemeriksaan kertas dilakukan. Teknik lain yang juga sering digunakan adalah penggunaan zat warna gentian violet atau kristal violet. Metode ini dapat digunakan pada hampir semua permukaan.

Yang paling mutakhir untuk melacak sidik jari adalah metode sinar laser. Metode ini pertama kali digunakan oleh FBI pada tahun 1978. Kelebihan teknik ini, tak diperlukan perlakuan awal. Teknik ini umumnya dilakukan untuk mendahului pemeriksaan yang menggunakan metode lain. Keuntungan teknik ini, ia sama sekali tak merusak sidik jari laten tetapi hanya membantu kita menampakkan apa yang tidak tampak, sehingga seringkali digunakan untuk skrining di tempat kejadian perkara. Bubuk fluoresensi jika digunakan bersama metode laser akan membantu meningkatkan kejelasan gambar.

Masihkah dipercaya?
Sidik jari sebetulnya tak diragukan lagi sebagai metode identifikasi yang dapat dipercaya dan bernilai tinggi. Hanya jangan dilupakan, sidik jari dapat diselewengkan untuk maksud-maksud jahat. Untuk menjebak seseorang terlibat dalam sebuah kejahatan, misalnya, diusahakan agar orang itu memegang barang yang berpermukaan licin. Dari bekas pegangan itu selalu dapat dibuatkan cetakan sidik jari laten orang tersebut. Cetakan itu kemudian dijadikan permukaan positif pada bahan karat yang bisa ditempeIkan siapa saja untuk menjebak. Teknik ini sering dilakukan di kalangan mata-mata internasional.

Hal lain adalah kestabilan sidik jari pada suatu barang yang membuat sidik jari orang yang pernah memegang barang tersebut tetap ada di sana. Jika barang itu kemudian menjadi barang bukti dalam sebuah tindak pidana, maka dalam penyelidikan yang hati-hati, orang-orang yang pernah memegangnya tentu tak dapat serta-merta dianggap terlibat.

Dengan demikian, jika ditemukan suatu sidik jari pada benda tertentu dan sidik jari tersebut sesuai dengan sidik jari si Polan, maka itu hanya berarti, jari si Polan telah menyentuh benda itu. Segala kesimpulan di luar itu hanya dapat ditarik jika ditemukan bukti tambahan lain. Soalnya, sang pelaku mungkin justru tak meninggalkan sidik jari di sana, karena ia misalnya menggunakan sarung tangan.

(Djaja Surya Armadja DSF PhD, ahli forensic dari Bagian Forensik Fakultas Kedokteran UI yang baru-baru ini mendapatkan PhD tentang identifikasi dengan DNA dari Universitas Kobe, Japang)

Sumber: Kompas, tanpa tanggal

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Masa Pancaroba

Dalam keadaan kini, saat kita semua merasa tertekan oleh pembatasan yang dikenakan karena Covid-19, dunia ...

%d blogger menyukai ini: