Seandainya Bersekolah Itu Berwisata

- Editor

Jumat, 20 Mei 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seandainya sekolah dianggap sebagai sebuah agen wisata, guru sebagai pemandu wisata, dan murid belajar sebagai berwisata, sejumlah hakikat luhur pendidikan akan muncul dengan sendirinya.

Saat pertama pelanggan mengunjungi sebuah agen wisata, pelanggan akan dilayani oleh petugas di sana dan mendiskusikan beberapa pilihan program wisata. Pelanggan memperoleh jasa layanan konsultasi dalam memilih program wisata yang paling sesuai dengan harapan dan karakteristik dirinya.

Jika dianalogikan dengan sistem persekolahan, pada awal semester murid berinteraksi dengan guru wali guna mendiskusikan apa saja yang mau dipelajari murid dan bagaimana rencana mempelajarinya. Dijabarkan dan disepakati bersama rencana belajar untuk semester itu: cara belajar yang direncanakan dan sumber ajar yang akan digunakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sistem agen wisata
Seperti tak mungkin memaksakan satu program yang sama persis bagi tiap wisatawan, demikian pula tak mungkin memaksakan satu program belajar yang sama bagi tiap murid. Tiap murid perlu memiliki kesempatan, dalam batasan tertentu, memodifikasi program belajar sesuai minat dan keunikan dirinya. Taraf modifikasi program belajar ini tentu bergantung keluwesan masing-masing sekolah.

Masukan dalam sistem agen wisata berupa berbagai program wisata dan keluarannya ialah jasa layanan konsultasi serta pemanduan wisata. Analoginya, dalam sistem persekolahan, masukannya ialah kurikulum yang ditawarkan, sedangkan keluarannya ialah jasa konsultasi serta pemanduan belajar. Implikasinya, makna ”masukan yang baik” bagi sistem sekolah ialah kurikulum serta semua fasilitas yang ditawarkan sekolah memang relevan dengan harapan murid dan cara belajar-mengajar sesuai dengan karakteristik murid serta zamannya.

Perlu digarisbawahi, salah kaprah memodelkan institusi pendidikan sebagai sistem dengan calon murid sebagai masukan, dan lulusan sebagai keluaran, akan memunculkan kontradiksi terhadap keluhuran pendidikan. Anggapan sekolah sebagai pabrik ini mengakibatkan ”masukan yang baik” diartikan sebagai sekolah memilih ”bahan mentah” calon murid yang baik saja. Anggapan keliru ini mungkin yang membenarkan tindakan sekolah umum menerima calon murid ideal dan mengesampingkan murid yang di luar standar.

Beberapa sekolah dasar mensyaratkan calon murid dari taman kanak-kanak yang sudah cakap membaca-menulis dan enggan menerima calon murid yang belum mampu, apalagi yang berkemampuan berbeda. Jika salah kaprah ini diteruskan, anak pengidap autisme dan berkebutuhan khusus lainnya akan dianggap ”bahan mentah” tak ideal.

Sementara sekolah sebagai pabrik menganggap lulusan sebagai keluaran, pada sekolah sebagai agen wisata, keluarannya berbentuk layanan. Dampaknya, keluaran sekolah yang bermutu diartikan sebagai layanan konsultasi, fasilitas perpustakaan, kebersihan lingkungan sekolah, dan seterusnya, yang terjamin dan andal. Ini amat berbeda dengan salah kaprah sekolah sebagai pabrik, yang mana keluarannya ialah lulusan yang harus dicetak dengan seragam.

Sekolah perlu senantiasa menyediakan dukungan dan peluang bagi tiap pelajar agar dapat seoptimal mungkin mengembangkan diri sesuai keunikannya. Hasrat menyeragamkan lulusan merupakan virus yang mengganggu hakikat luhur pendidikan. Institusi pendidikan perlu berkawan dengan keanekaragaman, ketimbang keseragaman.

Memandu wisata
Setelah menetapkan pilihan program wisatanya, wisatawan melakukan perjalanan wisata ke daerah tertentu dengan didampingi pemandu. Analoginya, murid berwisata ke ”alam ilmu pengetahuan” dengan guru yang mendampingi.

Selanjutnya, dalam berwisata, setiap wisatawan merasakan sendiri keindahan dan petualangannya dibumbui kesulitan sesuai kemampuannya. Analoginya, murid sendiri juga perlu mengalami, merasakan, dan menikmati keindahan ilmu pengetahuan lengkap dengan merasakan kesulitan belajar sebagai bumbu pengalamannya.

Sebagai ilustrasi dalam pembelajaran Matematika SD, misalnya, murid diajak berwisata menjelajah ke alam gagasan bilangan nol dengan netra nalar. Dalam memandu, guru sesekali memprovokasi murid dengan mengajukan pertanyaan penting, seperti bagaimana kehidupan ini jika tidak ada bilangan nol. Bagaimana bentuk buku tabungan hari ini, jika tak ada bilangan nol? Bagaimana mengalikan dua bilangan dalam bentuk angka Romawi, misalnya XXXVII x XVI? Murid akan terlibat aktif berpikir dan tentunya menghargai dahsyatnya peran bilangan nol. Kegiatan seperti ini membuat kelas menjadi komunitas pemikir sekaligus penjelajah peradaban manusia yang akan mencecap keradikalan Matematika dan ilmu pengetahuan.

Pengalaman murid menjelajah alam gagasan dan merasakan sendiri agungnya semesta ilmu pengetahuan ini akan membangkitkan kasmaran belajar. Dari situ, murid akan mengembangkan kebijaksanaan sekaligus memperhalus karakternya sendiri sebagai manusia bersahaja yang haus belajar.

Pengalaman bermakna seperti ini yang mungkin hanya sesekali akan menjadi satu catatan penting dalam sejarah perkembangan intelektualitas murid. Pengalaman merasakan awe atau ketakjuban pada kegiatan bernalar ini akan menjadi bibit belajar sepanjang hayat, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri.

Selanjutnya, pemandu wisata tak pernah berkata ke wisatawan, ”Jalan ke danau itu susah, biar saya saja yang melihat danaunya, nanti saya potretkan dan ceritakan indahnya ke Anda sekalian.” Namun, menyedihkannya, praktik ini justru kerap diterapkan di kelas, yakni pengetahuan dan gagasan dikunyahkan, dirangkumkan, lalu dipotret menjadi ringkasan atau rumus cepat dan murid cukup mengingatnya. Gagasan seperti bilangan nol tadi, boleh jadi hari ini diceramahkan ke pelajar hanya dalam tempo tak lebih dari satu menit. Kedahsyatan Matematika sebagai karya peradaban manusia menjadi sebutir debu dalam pengajaran yang mendewakan prosedur.

Gambaran wisata yang melibatkan petualangan seperti naik sampan, memanjat tebing, memasuki gua, dan lainnya, tentu menyulitkan, tetapi mengasyikkan. Kesulitan dan pengalaman menjalani kesulitan tadi membuat penasaran dan ingin berwisata lagi. Ini mengingatkan bahwa guru tak dapat menjanjikan belajar sebagai kegiatan yang mudah, tetapi guru harus meyakinkan bahwa belajar itu senantiasa mengasyikkan.

Sebagai catatan akhir, semua analogi tentu saja tak pernah tepat mutlak, termasuk analogi sekolah sebagai agen wisata ini. Namun, setidaknya analogi ini mengingatkan kembali hakikat luhur pendidikan.

Iwan Pranoto, Guru Besar ITB, Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI New Delhi, India

Sumber: KOMPAS, 20 Mei 2016

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:27 WIB

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Berita Terbaru

Berita

Terkubur untuk Hidup

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:20 WIB

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB