Home / Berita / Saatnya Kaum Milenial Berinovasi

Saatnya Kaum Milenial Berinovasi

Indonesia Science Expo Ke-3 pada 2018 yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang, Banten, 1-4 November, membuka ruang bagi generasi milenial untuk menampilkan berbagai inovasi teknologi.

Berawal dari kepekaan pada lingkungan, mereka menangkap peluang untuk mengembangkan potensi diri, sekaligus menghasilkan inovasi yang berguna bagi banyak orang.

FRANSISKUS WISNU W DANY UNTUK KOMPAS–Pembangkit listrik tenaga bayu (angin) baling-baling bambu dipamerkan di ICE, Tangerang, Jumat (2/11/2018).

Ana Tasya Rosa (17) dan Nurul Isnaini (17) dari Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu Peradaban Al-Izzah Kota Sorong, Papua Barat, membuat hand sanitizer (pembersih tangan) berbahan dasar cangkang kepiting. Pembersih tangan tersebut bernama Chitosizer (Chitosan hand sanitizer gel).

Ana menyebutkan, ide membuat Chitosizer berasal dari banyaknya limbah cangkang kepiting di Papua Barat. Limbah tersebut dapat mencapai 450 ton. Sementara kepiting mengandung banyak senyawa kitin yang diolah menjadi kitosan. Senyawa tersebut mampu membunuh bakteri serta tidak mengontaminasi makanan.

”Kitosan dilarutkan pada asam asetat agar tidak berbahaya bagi kulit. Produk ini tidak mengandung alkohol dan melembutkan kulit,” ucap Ana, Jumat (2/11/2018).

FRANSISKUS WISNU W DANY UNTUK KOMPAS–Ana Tasya Rosa (17) dari SMA Islam Terpadu Peradaban Al-Izzah Kota Sorong, Papua Barat, membuat pembersih tangan berbahan dasar cangkang kepiting.

Lain lagi dengan Radisyah Ikhsan (16) dan Rifqi syah (16) dari SMA Lifeskill Teknologi Informatika Indo Global Mandiri Palembang, Sumatera Selatan. Mereka merancang tabung Filsi (filtration-absorption). Tabung ini berfungsi untuk mengolah air limbah domestik menjadi air untuk sanitasi, pertanian, dan lainnya kecuali konsumsi.

Tabung tersebut dibuat untuk menyaring air limbah, dengan susunan dari atas ke bawah berupa serabut kelapa, karbon aktif dari kulit pisang, batu spilt, dan pasir silika. Air hasil olahan tidak dapat dikonsumsi karena belum ada penelitian kelaikannya, sedangkan secara parameter kimia dan fisika sudah sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah.

”Kami terinspirasi dari masalah pencemaran air, banyaknya limbah kulit pisang, dan serabut kelapa yang terbuang percuma. Alat ini untuk menyadarkan masyarakat mengolah air limbah,” ujar Rifqi.

FRANSISKUS WISNU W DANY UNTUK KOMPAS–Air hasil penyaringan menggunakan Filsi.

Teknologi sederhana
Kaum milenial yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas pada peserta Indonesia Science Expo ini juga berinovasi dengan membuat teknologi sederhana yang memudahkan aktivitas sehari-hari.

Fariz Alif (16) dari SMA 3 Semarang, misalnya, membuat Tesmac yang jika ditulis dalam bahasa Jawa menjadi tesmak yang berarti ’kacamata’. Kacamata yang terhubung dengan topi ini berfungsi untuk memudahkan penyandang tunanetra dalam beraktivitas.

Kacamata ini menggunakan sensor parkir ultrasonik yang sering digunakan untuk parkir mobil. Sensor tersebut diletakkan di kacamata. Cara kerjanya, sensor akan memancarkan gelombang ke transmiter yang terpasang di topi.

Transmiter ini menggunakan baterai berdaya 9 volt yang terhubung ke pengeras suara berukuran kecil yang juga terpasang di topi. Sensor memiliki jangkauan 1,5 meter dari obyek yang mendekat. Interval suara akan semakin keras seiring dengan mendekatnya obyek dengan pengguna Tesmac.

”Tesmac dipakai seperti kacamata pada umumnya. Sensor yang terpasang berfungsi layaknya alat untuk melihat melalui bunyi ketika ada atau mendekati obyek,” ujar Fariz.

FRANSISKUS WISNU W DANY UNTUK KOMPAS–Fariz Alif (16) dari SMA 3 Semarang membuat Tesmac. Kacamata yang terhubung dengan topi ini berfungsi untuk memudahkan penyandang tunanetra dalam beraktivitas.

Muhammad Daffa (14) dan Aisyah Hawa (14) dari SMP Negeri 19 Semarang berinovasi merancang pembangkit listrik tenaga bayu baling-baling bambu.

Sekolahnya yang terletak di perbukitan, banyak pohon serta tanaman bambu, dan angin yang cukup menimbulkan ide untuk membuat alat tersebut dengan memanfaatkan kecepatan angin dan kelimpahan bambu.

Alat sederhana tersebut mampu menghidupkan satu lampu. Butuh tambahan aki untuk menghidupkan banyak lampu. Cara kerjanya, saat ada angin, energi akan disimpan ke aki sehingga bisa menghidupkan banyak lampu melalui sambungan paralel, juga alat elektronik lainnya.

Tebal bambu 0,5 sentimeter menghasilkan 12 volt dengan bantuan kecepatan angin 2,9 meter per detik. Tebal bambu 1 sentimeter menghasilkan 14 volt dengan kecepatan angin 4,1 meter per detik. ”Ini baru contoh, aplikasinya dengan bambu besar,” kata Daffa. (FRANSISKUS WISNU WARDHANA DHANY)–YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 3 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

SpaceX Ukir, Perusahaan Penerbangan Luar Angkasa, Ukir Sejarah Baru

SpaceX, perusahaan asal Amerika Serikat, menjadi perusahaan swasta pertama yang berhasil mengirimkan manusia ke Stasiun ...

%d blogger menyukai ini: