Home / Berita / Tawaran Solusi dan Kemudahan dari Para Saintis Cilik

Tawaran Solusi dan Kemudahan dari Para Saintis Cilik

Indonesia Science Expo 2019 menjadi ajang bagi para saintis muda Indonesia untuk menunjukkan hasil riset dan inovasinya yang menawarkan solusi serta kemudahan.

20191024jum-indonesia_science_expo_1_1572005118-720x405KOMPAS/JUMARTO YULIANUS–Muhammad Akbar (12), siswa kelas VI SD Syafana Islamic School, Gading Serpong (berkaus merah), menjelaskan tentang alat pencuci tangan otomatis kepada pengunjung acara Indonesia Science Expo 2019 di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang, Banten, Kamis (24/10/2019).

Berbagai hasil terkini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dipamerkan dalam Indonesia Science Expo 2019, yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang, Banten, 23-26 Oktober. Pameran tersebut juga menjadi ajang para saintis muda untuk menunjukkan hasil riset dan inovasinya yang menawarkan solusi serta kemudahan.

Muhammad Akbar (12) beranjak dari kursi ketika melihat seorang pria warga negara asing datang ke stannya, Kamis (24/10/2019). Dengan menggunakan bahasa Inggris, siswa kelas VI SD Syafana Islamic School, Gading Serpong, Tangerang, itu menjelaskan secara detail tentang alat pencuci tangan otomatis yang merupakan hasil karyanya.

Pria itu menyimak penjelasan Akbar. Sesekali ia menganggukkan kepala. Ia kemudian memperhatikan alat pencuci tangan otomatis itu dengan saksama. Akbar pun mempersilakan anak perempuan yang turut bersama pria itu untuk mencobanya. Cukup dengan mengulurkan tangan ke atas wastafel, tangan langsung dibasuh dengan air, sabun, alkohol, serta dikeringkan.

Akbar mengatakan, alat pencuci tangan otomatis buatannya menerapkan teknologi digital sensor ultrasonik dalam pengoperasian. Sensor ultrasonik membantu penghematan air dan listrik. ”Dengan alat ini, mencuci tangan jadi lebih praktis dan dijamin bersih. Proses pencucian tangan juga kurang dari 2 menit,” kata siswa yang menyukai teknik dan bercita-cita menjadi pebisnis itu.

Menurut Akbar, ide membuat alat pencuci tangan otomatis muncul setelah melihat kebiasaan teman-temannya yang kurang bersih dalam mencuci tangan. Masih cukup banyak yang asal basah serta tidak menggunakan sabun dan alkohol. Apalagi, di wastafel juga kadang-kadang tidak tersedia alkohol dan pengering.

Dari situlah, Akbar akhirnya mencoba menyatukan air, sabun, alkohol, dan pengering dalam satu alat yang bekerja secara otomatis. Riset dan produksi alat pencuci tangan otomatis memakan waktu 8 bulan serta menghabiskan biaya sekitar Rp 5 juta. Dalam proses pembuatan, Akbar juga dibantu guru pendamping. ”Alat ini akan sangat memudahkan kita dalam mencuci tangan,” ujarnya.

20191024jum-indonesia_science_expo_2_1572005417-720x405.jpgKOMPAS/JUMARTO YULIANUS–Pengunjung mencoba cuci tangan menggunakan alat pencuci tangan otomatis karya Muhammad Akbar (12), siswa kelas VI SD Syafana Islamic School, Gading Serpong, yang dipamerkan dalam Indonesia Science Expo 2019 di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang, Banten, Kamis (24/10/2019).

Di tempat yang sama, Ghirta Mahataksya (11), siswa kelas VI SD Saraswati 3 Denpasar, menampilkan inovasi alat pengisian kemasan botol otomatis untuk produk jamu tradisional. Dengan alat tersebut, pengisian jamu ke dalam botol menjadi lebih praktis dan takarannya juga pas.

Menurut Ghirta, pengontrolan pengisian jamu ke dalam botol-botol bisa dilakukan dengan menggunakan telepon pintar Android yang telah terpasang aplikasi Botol UDP. Botol bisa terisi otomatis dengan bantuan limit switch, tanpa harus dituangkan secara manual.

Riset dan pembuatan alat tersebut memakan waktu 1 bulan dan menghabiskan biaya sebesar Rp 450.000. ”Alat ini bisa dimanfaatkan para pelaku UMKM yang membutuhkan pengemasan cairan secara higienis, tepat takaran, dan praktis,” kata siswa yang bercita-cita menjadi seorang programmer itu.

Akbar dan Ghirta adalah dua finalis Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) 2019 tingkat sekolah dasar. Hasil riset dan inovasi mereka turut dipamerkan dalam Indonesia Science Expo 2019 bersama ratusan karya inovasi lainnya dari berbagai negara.

04752587-1dc8-4ca7-957c-4f4f8c760877_jpg-720x480.jpgKOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Suasana pameran Ilmu Pengetahuan Indonesia (Indonesia Science Expo/ISE) 2019 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (23/10/2019). ISE 2019 bertujuan memperkenalkan hasil-hasil terkini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

Membantu petani
Di ajang KJSA 2019 tingkat sekolah menengah pertama, Else Windasari (15), siswi kelas IX SMP Negeri 1 Jetis Ponorogo, menampilkan robot orak-arik gabah berbasis microcontroller arduino nano dan telepon pintar Android. Robot itu dapat mengaduk dan meratakan gabah yang sedang dijemur.

”Dengan robot ini, saya ingin membantu petani dalam proses mengolah padi menjadi beras. Saat penjemuran padi sebelum digiling, petani tidak perlu lagi berpanas-panas dan mengorak-arik gabah menggunakan kaki,” tuturnya.

Menurut Else, robot menggunakan panel surya sebagai sumber energi listrik. Robot akan bekerja mengorak-arik gabah yang dijemur secara otomatis. Robot bisa dikendalikan dari jarak jauh dengan menggunakan telepon pintar Android dan bluetooth.

Sebagai negara agraris, Else yakin Indonesia membutuhkan teknologi pengolahan padi, khususnya dalam proses pengeringan gabah. ”Dengan robot buatan saya ini, petani bisa lebih efisien waktu, hemat tenaga, dan terhindar dari kaki gatal,” ujarnya.

Else mengatakan, riset dan pembuatan robot orak-arik gabah memakan waktu empat bulan dan menghabiskan biaya sebesar Rp 560.000. ”Hasil riset dan inovasi ini masih perlu dikembangkan dan disempurnakan supaya benar-benar bisa bermanfaat bagi petani,” kata siswi yang bercita-cita menjadi guru sekaligus peneliti supaya bisa memajukan dunia penelitian di Indonesia.

64cc785b-8675-4eeb-a1c5-45fd59dae45b_jpg-720x480.jpgKOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Mohammad Arga Ramadhan, siswa SMP Taruna Bakti, Bandung, menunjukkan purwarupa rumah tahan gempa berbasis magnet hasil karyanya dalam Pameran Ilmu Pengetahuan Indonesia (Indonesia Science Expo/ISE) 2019 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (23/10/2019).

Ramah lingkungan
Pada ajang Lomba Karya Ilmiah Remaja, Muhammad Yudi Triana (16) dan Fitrotullailas Tuti (16), siswa-siswi kelas XI SMA Negeri 1 Malingping, Lebak, Banten, menampilkan produk bioplastik ramah lingkungan dari pati biji karet (Hevea brasiliensis).

Menurut Yudi, bioplastik dapat terdekomposisi atau terurai dengan sempurna pada hari kesembilan. Itu jauh lebih cepat dibandingkan dengan plastik konvensional yang membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun untuk dapat terdekomposisi dengan sempurna.

”Kami memanfaatkan biji karet yang cukup melimpah di daerah kami untuk menciptakan plastik ramah lingkungan yang disebut bioplastik. Ini adalah inovasi untuk mengurangi dampak negatif dari sampah plastik,” kata Yudi.

Kholida Rohma Alia (18) dan Tazkiya Salsabiila Yusa (17), siswi Kelas XII Madrasah Aliyah Negeri 2 Kudus, menampilkan produk biofoam ramah lingkungan dengan memanfaatkan pati tapioka dan selulosa bambu betung (Dendrocalamus asper). Penelitian dan pembuatan produk tersebut dilakukan selama lima minggu.

b660aa3f-e950-4b8f-83ce-3f963669518b_jpg-720x405.jpgKOMPAS/JUMARTO YULIANUS–Produk biodegrable foam atau biofoam yang terbuat dari bahan alami, yaitu pati tapioka dan serat bambu betung, ditampilkan dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja pada penyelenggaraan Indonesia Science Expo (ISE) 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Tangerang, Banten, Rabu (23/10/2019).

”Biodegrable foam atau biofoam dibuat dari bahan alami, yaitu pati tapioka dan serat bambu betung. Biofoam merupakan kemasan makanan alternatif yang ramah lingkungan sebagai pengganti styrofoam,” kata Kholida.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengatakan, anak-anak Indonesia tidaklah kalah bersaing dalam riset dan inovasi. Karena itu, Indonesia Science Expo memberikan kesempatan dan peluang kepada mereka untuk bisa bersaing dalam pengembangan riset dan inovasi.

”Melalui kegiatan Indonesia Science Expo, kami juga berharap hasil riset dan inovasi itu bisa langsung dilihat dan dirasakan masyarakat. Sebab, riset itu memang diarahkan untuk lebih bisa memecahkan problem-problem yang spesifik di masyarakat,” katanya.–Oleh JUMARTO YULIANUS

Editor YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 26 Oktober 2019

 

Share
x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: