Home / Artikel / Riwayat Korporasi, GE, dari Temuan Thomas Alva Edison hingga Pemudaran AS

Riwayat Korporasi, GE, dari Temuan Thomas Alva Edison hingga Pemudaran AS

GENERAL Electric adalah korporasi raksasa AS yang berjaya selama 125 tahun. GE adalah satu-satunya korporasi yang masih tersisa saat ini dari 12 korporasi yang menyusun indeks saham Dow Jones Industrial Average atau DJIA pertama kali pada 1896. Inovasi demi inovasi tidak saja membuat GE melejit, tetapi juga membuat dua karyawannya menerima Hadiah Nobel.

Hadiah Nobel Bidang Kimia dan Fisika diterima Irving Langmuir pada 1932 dan Ivar Giaever untuk Fisika pada 1973. Ini melanjutkan reputasi Thomas Alva Edison, salah satu penemu terbesar AS yang memegang 1.093 hak paten di AS saja.

Temuan-temuan Edison, penemu terkenal AS yang berbakat bisnis, menjadi salah satu cikal bakal pembentukan perusahaan General Electic. Produk kelistrikan, mesin-mesin, turbin, telegraf, telah mendongkrak perekonomian dunia dan menjadi salah satu faktor yang membuat AS menjadi negara adidaya terbesar sepanjang sejarah.

GE tidak saja berjaya di AS, tetapi juga melakukan ekspansi bisnis ke berbagai penjuru dunia.

Inovasi berkelanjutan dipadu booming perekonomian AS membuat GE semakin kaya dari keuntungan bisnis. Industrialisasi hingga pengarahan kekuatan transportasi, perkapalan, dan persenjataan di masa Perang Dunia (PD) I dan PD II turut membuat GE berkembang seakan memiliki kejayaan yang tiada akhir.

Korporasi tersebut mendominasi daftar perusahaan-perusahaan terbesar, paling untung, paling melejit harga sahamnya selama bertahun-tahun di majalah Forbes.

Ekspansi bisnis merambah ke berbagai bidang, seperti minyak dan gas, peralatan kesehatan, lembaga keuangan, pembuatan mesin pesawat terbang, hingga ke GE Capital yang bergerak di bidang pembiayaan konsumen. Generasi baby boomers AS semakin melejitkan bisnis GE yang memasuki pembuatan peralatan rumah tangga, seperti mesin cuci otomatis dan kulkas.

GE tidak saja berjaya di AS, tetapi juga melakukan ekspansi bisnis ke berbagai penjuru dunia. Aset perusahaan terus melejit hingga mencapai 200 miliar dollar AS bahkan lebih. Jika para ekonom meragukan rentang kendali bisnis yang begitu besar dan begitu luas serta merambah ke mana-mana, GE pernah memudarkan postulat ini. Bahwa bisnis bisa besar, memasuki segala lini usaha, GE pernah membuktikannya.

Namun, entah karena apa, memang tidak ada atau jarang sebuah perusahaan bertahan selama lebih dari satu abad, apalagi jika lengah melanjutkan inovasi. Alasan lain adalah hal biasa dan empiris jika sebuah perusahaan besar terlalu pongah atau merasa terlalu besar untuk dikalahkan para pesaing. Ini penyakit perusahaan kategori ”gold medalist”, julukan bagi korporasi yang berjaya sekian lama. GE terjebak pada dua hal ini.

Bukan hanya itu, GE telah sering salah langkah dalam bisnis. GE memasuki bisnis migas saat harga minyak melejit ke angka 145 dollar AS per barrel, yang kemudian anjlok hingga ke level 30 dollar AS per barrel. Ini telah turut memberi masalah besar pada keuangan perusahaan. GE bahkan memasuki bidang perdagangan saham, mirip hedge fund, julukan bagi aksi jual-beli saham di bursa yang sarat aksi spekulasi menjelang krisis ekonomi AS 2008.

GE, yang memasuki bisnis keuangan lewat GE Capital, terjebak akibat krisis ekonomi AS pada 2008 yang dimulai dari kekacauan industri keuangan AS, seperti dituliskan di majalah Forbes edisi 10 Oktober 2017. Banyak unit bisnis GE yang mirip sebagai beban ketimbang penambang keuntungan.

Lengah
Masa kejayaan tampaknya memuncak hanya di era Jack Welch, yang kemudian digantikan Jeffrey Immelt pada 2000. Menyadari gejala pemunahan bisnis, Immelt telah lama mencoba merampingkan bisnis. ”Tetapi tidak cukup jauh mewujudkan perampingan dan restrukturisasi,” demikian dituliskan Bloomberg edisi 29 Oktober 2017.

Bisnis menurun, keuntungan terus menurun. Harga saham GE anjlok hingga level 20 dollar AS per lembar. Celakanya, manajamen di bawah Immelt tidak diberi kesempatan melakukan manuver. Jurnal Harvard Business Review edisi 30 Oktober 2017 menuliskan investor aktivis telah mempercepat kejatuhan Immelt, yang dianggap tidak mampu mengatasi pemudaran perusahaan.

Nelson Peltz dari Trian Fund Management LP, salah satu pemegang saham utama, tergolong sebagai investor aktivis. Pada 2015, Trian sudah menuliskan bahwa di tahun 2017 harga saham GE akan anjlok dan Immelt akan digantikan orang baru.

AP PHOTO/RICHARD DREW–Dalam foto bertanggal 12 Juni 2017 ini, terlihat logo General Electric di salah satu sudut lantai bursa New York Stock Exchange. GE kini menghadapi masa-masa sulit di bawah CEO John Flannery.

Dan benar, Immelt (61) mundur sebagai pimpinan utama pada 1 Agustus lalu dan digantikan John Flannery. Pimpinan baru ini kemudian mengakui bahwa GE telah terlambat melakukan inovasi bisnis. ”Tidak lagi cukup menghasilkan mesin-mesin bagus, tetapi kini mesin-mesin harus memiliki sentuhan digital,” kata Flannery. GE lengah soal ini.

Dalam pembuatan mesin-mesin, GE tidak cukup tanggap menghasilkan produk yang tersambungkan ke internet, yang memberi masukan tentang data dari mesin untuk dianalisis konsumen. Ini terjadi di tengah inovasi teknologi digitalisasi yang sudah dilakukan lebih dulu oleh para pesaing GE.

Akibatnya, perusahaan kini semakin terjerat masalah penurunan lama yang menurunkan harga saham. Perusahaan juga mengalami peningkatan utang, yakni 136 miliar dollar AS atau hampir 75 persen total kapitalisasi pasar.

Dividen yang dibagikan terus anjlok. Sebagian investor kelembagaan yang merupakan pembeli utama saham-saham GE telah meninggalkan GE. Dalam sepekan di bulan Oktober, GE mengalami penurunan nilai perusahaan sebesar 23 miliar dollar AS akibat kejatuhan saham.

GE mencoba melakukan rekayasa keuangan dengan membagi dividen bukan dari hasil keuntungan, melainkan dari unit bisnis lain, yakni GE Capital. Investor pun paham bahwa ini tampaknya sebuah rekayasa.

Sejarah juga membuktikan banyak korporasi gagal melakukan perubahan arah.

Bagaimana selanjutnya? Flannery tampaknya memerlukan waktu untuk restrukturisasi, perampingan, dan penghilangan unit bisnis yang merugi. Pertanyaannya, mampukah Flannery melakukan perombakan besar-besaran?

Dengan para pesaing yang sudah duluan melakukan antisipasi, ditambah konsumen AS yang terus melemah, sangat berat bagi GE melalukan perombakan.

Sejarah juga membuktikan banyak korporasi gagal melakukan perubahan arah. GE yang menciptakan produk hebat dan berkualitas sedang diuji oleh waktu, apakah akan seperti perusahaan lain yang sudah hilang ataukah akan terus melanjutkan sejarah panjang reputasi dalam bisnis.

Kasus GE menarik untuk diamati ke depan. Hanya saja, pelajaran penting adalah perambahan ke banyak lini bisnis tidak akan mudah bagi manajemen untuk mengelola. Ada keterbatasan manajemen soal rentang kendali. Hal lain, penyesuaian cara berbisnis seiring dengan berjalannya waktu, ditambah inovasi yang tidak boleh lengah dilakukan, adalah keharusan demi kelanggengan sebuah perusahaan.

Sayang, manajemen GE justru pernah sibuk menaikkan gaji para eksekutif puncak dan memakai jet pribadi yang tidak terlalu mendesak di tengah beban keuangan yang semakin menyulitkan. (REUTERS/AP/AFP)

Simon Saragih, Wartawan Senior Kompas.

Sumber: Kompas, 3 November 2017

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ketimpangan Risiko

CATATAN IPTEK Risiko setiap orang dalam menghadapi wabah Covid-19 berbeda-beda. Hal itu tergantung dari daya ...

%d blogger menyukai ini: