Home / Artikel / Risiko dan Peluang Era Normal Baru

Risiko dan Peluang Era Normal Baru

Jika para pelaku ekonomi, terutama UMKM, dapat merespons dan melakukan penyesuaian yang baik dengan melakukan digitalisasi bisnisnya, era kenormalan baru merupakan peluang baru agar lolos dari jebakan risiko pandemi.

Pandemi Covid-19 memberikan dampak sangat besar terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2020 meluncur sampai 2,97 persen. Padahal, Covid-19 di Indonesia baru dimulai awal Maret. Ini membuktikan pandemi Covid-19 telah menimbulkan guncangan ekonomi sangat luas, mulai dari sisi penawaran hingga sisi permintaan.

Stimulus fiskal yang dikeluarkan pemerintah dan stimulus moneter yang dikeluarkan BI sepertinya belum mampu meredam efek negatif pandemi. Selama tiga bulan masa pandemi, kinerja sektor industri dan perdagangan turun tajam dan memaksa pelaku di kedua sektor melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk lewat pemutusan hubungan kerja (PHK) dan merumahkan pekerja. Menurut Kadin Indonesia, setidaknya enam juta tenaga kerja telah di-PHK dan dirumahkan selama pandemi.

PHK dan langkah merumahkan pekerja ini diyakini akan berdampak pada potensi munculnya stagflasi. PHK dan perumahan tenaga kerja akan mendorong penurunan daya beli masyarakat dan menurunkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Bahkan, menurut proyeksi beberapa lembaga, termasuk Kementerian Keuangan dan BI, dengan menggunakan skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menyentuh angka negatif lebih dari 2,0 persen.

Menurunnya kinerja perekonomian nasional dan meningkatnya potensi krisis ekonomi akibat pandemi mendorong pemerintah memberlakukan pola perilaku hidup yang baru, new normal. Menurut teori ilmu ekonomi, era kenormalan baru ini mendorong terciptanya titik keseimbangan baru dengan kondisi dan karakteristik yang tentunya juga baru, di mana risiko dan peluang ekonomi juga bermetamorfosis ke dalam bentuk baru.

Risiko ekonomi
Pemberlakuan era kenormalan baru ini bentuk adaptasi terhadap kondisi lingkungan baru, di mana kita harus hidup berdampingan dengan virus yang telah menjadi pandemi selama empat bulan terakhir ini. Istilah ilmu manajemennya ”sleeping with the enemy”.

Kondisi ini tentu memunculkan risiko-risiko baru, terutama risiko-risiko ekonomi yang membayangi kondisi perekonomian masyarakat secara keseluruhan. Dari sisi ekonomi, era kenormalan baru ibarat dua mata pisau.

Apabila pemerintah, pelaku ekonomi, dan masyarakat dapat memberikan respons yang tepat, era kenormalan baru akan menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru yang bisa dijadikan driven factor untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Sebaliknya, jika mereka tak mampu memberikan respons yang tepat, maka era kenormalan baru ini bisa menjadi awal cerita buruk bagi perekonomian Indonesia.

Salah satu tantangan dan risiko terbesar dalam sistem perekonomian Indonesia di era kenormalan baru adalah meningkatnya biaya input produksi dan biaya logistik, yang bisa menjebak Indonesia pada kondisi ekonomi biaya tinggi yang sangat merugikan perekonomian secara keseluruhan.

Pembatasan sosial (social distancing) dan pembatasan interaksi fisik (physical distancing) dapat berdampak signifikan pada proses produksi yang mengakibatkan pasokan barang dan jasa berkurang signifikan. Menurunnya suplai produk barang dan jasa akan mengerek harga ke tingkat lebih tinggi sehingga menurunkan daya beli masyarakat secara agregat dan menurunkan daya saing produk industri secara keseluruhan.

Kenaikan biaya juga bisa terjadi di sektor transportasi dan logistik. Pembatasan kapasitas angkutan dalam upaya menghentikan penyebaran pandemi mendorong biaya transportasi dan logistik naik tajam. Hal ini akan berdampak pada meningkatnya harga pokok produksi (HPP) barang dan jasa yang akhirnya akan menaikkan harga jual di tingkat konsumen.

Tantangan lain yang dihadapi pelaku ekonomi di era kenormalan baru adalah penggunaan teknologi informasi yang masif. Pembatasan sosial dan interaksi fisik telah mendorong penggunaan e-dagang dan e-dompet secara masif. Bagi UMKM, yang belum terbiasa menggunakannya, ini jadi tantangan tak mudah. Di sebagian daerah pinggiran dan pedalaman, infrastruktur pendukung e-dagang dan e-dompet juga belum tersedia dengan baik.

Peluang ekonomi
Selain risiko ekonomi, era kenormalan baru juga menciptakan peluang ekonomi baru. Selama pandemi beberapa sektor industri meningkat cukup signifikan seperti industri rumah sakit dan jasa kesehatan, industri produk makanan dan penunjang kesehatan, industri telekomunikasi dan informasi, industri ritel berbasis daring, jasa logistik. Ini karena pandemi telah meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pola perilaku hidup sehat.

Sebagian besar masyarakat mulai sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan dan minuman sehat, mengonsumsi suplemen, serta olahraga teratur. Masyarakat juga mulai membatasi diri berinteraksi dengan yang lain dan hal ini mengakibatkan perdagangan di dunia maya kian meningkat.

Sektor keuangan juga berkembang pesat. Bahkan, di sektor ini, perubahan platform bisnis yang mengedepankan penggunaan dunia maya telah berkembang sebelum pandemi. Pada 2019, teknologi finansial (tekfin) berkembang sangat pesat, baik tekfin peer to peer lending/crowdfunding maupun payment. Hal ini seiring perubahan pola perilaku masyarakat dalam konsumsi, tabungan, maupun transaksi. Era normal baru akan mendorong perubahan ini terjadi kian cepat.

Di era kenormalan baru, masyarakat Indonesia tak akan terikat lagi pada keberadaan kantor dan orang. Dalam industri keuangan, pola konsumsi dan tabungan masyarakat akan bergeser ke platform digital yang menuntut semua transaksi dilakukan secara mobile, cepat, dan tetap aman.

Pelaku industri dan perdagangan yang menggunakan platform bisnis digital dengan e-dagang dan e-dompet pada transaksinya akan memperoleh ceruk pasar yang sangat besar di era kenormalan baru. Bagi mereka, era kenormalan baru hanya suatu pergeseran semata. Era kenormalan baru lebih pada perubahan pola perilaku masyarakat yang berubah dari cara-cara konvensional dan tradisional menjadi digital yang dilakukan di dunia maya.

Jika para pelaku ekonomi, terutama UMKM, dapat merespons dan melakukan penyesuaian yang baik dengan melakukan digitalisasi bisnisnya, era kenormalan baru ini merupakan peluang baru yang menawarkan potensi kenaikan keuntungan sehingga usaha mereka dapat terus eksis, berkembang, dan lolos dari jebakan risiko pandemi Covid-19.

AGUS HERTA SUMARTO, Dosen FEB UMB dan Ekonom Indef.

Sumber: Kompas, 30 Juni 2020

Share
x

Check Also

Rasionalisasi Penerapan Kriteria ”Sembuh” dari Covid-19

Berkaca dari penerapan normal baru di sejumlah daerah di Indonesia, normal baru yang diterapkan dianggap ...

%d blogger menyukai ini: