Home / Berita / Revolusi Cahaya yang Memudahkan Manusia

Revolusi Cahaya yang Memudahkan Manusia

Pada masa lalu, produk pencahayaan, seperti lampu, hanya berfungsi memberi penerangan. Namun, berkat kemajuan teknologi, produk pencahayaan kini bisa menjalankan banyak fungsi, misalnya mengumpulkan data, memancarkan koneksi internet, bahkan ”mengantar” mahasiswa menuju ruang kuliah. Inilah revolusi cahaya yang telah dan terjadi.

Perkembangan terkini dari teknologi pencahayaan itulah yang dihadirkan perusahaan Philips Lighting dalam pameran Light + Building 2018 di Kota Frankfut, Jerman, yang berlangsung pada 18-23 Maret 2018. Light + Building merupakan pameran yang menampilkan beragam produk teknologi pencahayaan, peralatan elektronik, serta aneka ragam teknologi terkait rumah dan bangunan.

Tahun ini, pameran itu diikuti 2.714 perusahaan dari 55 negara serta dihadiri sekitar 220.000 pengunjung dari 177 negara. Atas undangan Philips Lighting Indonesia, Kompas beserta sejumlah media lain dari Indonesia mendapat kesempatan menghadiri Light + Building 2018 sekaligus melihat dari dekat beragam produk inovasi teknologi yang dipamerkan di sana.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS–Pengunjung melihat sejumlah produk terbaru dari perusahaan Philips Lighting dalam pameran Light + Building di Kota Frankfurt, Jerman, Senin (19/3/2018) siang waktu setempat. Light + Building 2018, yang diikuti sekitar 2.700 perusahaan dari 55 negara, menampilkan beragam produk dari perusahaan teknologi pencahayaan, peralatan elektronik, serta aneka ragam teknologi terkait rumah dan bangunan.

Salah satu produk inovatif yang diperkenalkan Philips Lighting dalam pameran Light + Building 2018 adalah light fidelity (Li-Fi). Kehadiran Li-Fi cukup mengejutkan karena produk ini merupakan lampu dioda pemancar cahaya (LED) yang sekaligus menjadi pemancar koneksi internet berbasis gelombang cahaya.

”Li-Fi memiliki kapasitas sebagai broadband melalui gelombang cahaya,” kata Chief Executive Officer (CEO) Philips Lighting Eric Rondolat dalam konferensi pers di sela-sela pameran Light + Building 2018, Senin (19/3) siang waktu setempat.

Untuk memahami Li-Fi, kita bisa membandingkannya dengan teknologi Wi-Fi yang sudah lebih dulu dikenal. Sama seperti Wi-Fi, Li-Fi merupakan teknologi yang menghadirkan akses internet nirkabel. Namun, berbeda dengan Wi-Fi yang menggunakan gelombang radio untuk menghantarkan koneksi internet, Li-Fi menyalurkan akses internet melalui gelombang cahaya.

Eric mengatakan, Li-Fi bisa memancarkan koneksi internet dengan kecepatan sampai 30 megabits per second (Mbps). Dengan kecepatan itu, pengguna Li-Fi diklaim bisa menonton video streaming kualitas tinggi sekaligus melakukan panggilan video dalam waktu bersamaan. Saat memancarkan akses internet kecepatan tinggi itu, Li-Fi juga disebut tetap bisa memberi penerangan dengan kualitas pencahayaan yang bagus.

Eric juga menyebut, Li-Fi memiliki tingkat keamanan yang lebih baik daripada Wi-Fi. Kunci keamanan itu terletak pada penggunaan gelombang cahaya yang aksesnya sangat terbatas karena gelombang cahaya tidak bisa menembus dinding tebal. Oleh karena itu, jaringan internet Li-Fi tidak akan bisa diakses orang yang tidak menerima pancaran sinar atau cahaya yang dikeluarkan oleh perangkat tersebut.

Dengan keamanan yang lebih baik itu, Li-Fi diklaim cocok dipakai di tempat-tempat yang membutuhkan tingkat keamanan tinggi, misalnya kantor lembaga pemerintah atau perusahaan internasional yang ingin menjaga kerahasiaan datanya.

Di sisi lain, Li-Fi juga diklaim cocok digunakan di tempat-tempat yang sulit dijangkau gelombang radio, seperti ruangan bawah tanah atau di tempat khusus, seperti rumah sakit, tempat gelombang radio kerap terganggu peralatan lain.

Lalu, bagaimana cara kerja Li-Fi? Ternyata, pada tiap perangkat Li-Fi, terdapat modem yang berfungsi untuk memodulasi cahaya dalam kecepatan yang tidak bisa dilihat mata manusia. Untuk mendeteksi cahaya tersebut dan mengubahnya menjadi koneksi internet, dibutuhkan perangkat Li-Fi USB yang dihubungkan ke laptop, tablet, dan ponsel cerdas. Di sisi lain, perangkat Li-Fi USB itu juga akan mengirimkan data balik ke perangkat Li-Fi yang terpasang di ruangan.

Dalam konferensi pers di sela-sela pameran Light + Building 2018, seorang wartawan berkomentar bahwa Li-Fi terdengar seperti produk science fiction (fiksi sains). Namun, Eric menjawab komentar itu dengan tegas: ”Ini bukan science fiction, ini produk riil. Produk ini juga sudah mulai dikomersialkan.”

Menurut rencana, Li-Fi akan diterapkan pertama kali di kantor Icade, perusahaan real estat asal Perancis, yang berlokasi di La Defense, Paris.

”Interact”
Saat pameran Light + Building 2018, Philips Lighting juga memperkenalkan platform bernama Interact yang bisa memaksimalkan fungsi dari teknologi pencahayaan. Produk-produk pencahayaan yang terkoneksi dengan Interact akan mampu menjalankan fungsi penerangan secara otomatis, sekaligus menjalankan fungsi lain, semisal mengumpulkan dan menganalisis data.

Platform Interact terbagi ke dalam beberapa jenis, misalnya Interact City untuk diterapkan di sebuah kota, Interact Office untuk kantor, Interact Retail untuk toko ritel, Interact Sports untuk stadion arena olahraga, serta Interact Landmark untuk bangunan monumen, tugu, ataupun jembatan.

Ketika diterapkan di suatu kantor, misalnya, produk pencahayaan yang terkoneksi dengan Interact bisa mengumpulkan dan menganalisis data pemakaian ruangan di kantor tersebut sehingga akan tampak mana ruangan yang paling sering dipakai dan mana yang tidak. Data itu bisa dipakai manajemen perusahaan dalam menata dan mengefisienkan ruangan di kantornya.

CEO Business Group Professional Philips Lighting Harsh Chitale memberi contoh menarik ihwal penerapan Interact di Hamdan bin Mohammed Smart University di Dubai, Uni Emirat Arab. Di universitas tersebut, platform Interact telah diintegrasikan dengan sistem manajemen bangunan sehingga platform itu terkoneksi dengan beragam perangkat, seperti pendingin ruangan dan ventilasi.

Dengan koneksi itu, platform Interact di Hamdan bin Mohammed Smart University bisa melaksanakan beragam fungsi secara otomatis, misalnya menghidupkan dan mematikan lampu, mengatur intensitas cahaya, serta mengatur pendingin ruangan. ”Saat sebuah kelas penuh dengan mahasiswa, teknologi ini bisa mendeteksinya dan mengirimkan data ke sistem manajemen bangunan sehingga alat pendingin ruangan bisa diatur agar membuat mahasiswa nyaman,” kata Harsh.

Ia mengatakan, platform Interact juga dikoneksikan dengan aplikasi universitas milik Hamdan bin Mohammed Smart University sehingga teknologi itu bisa melakukan sesuatu yang mengejutkan, yakni ”mengantar” mahasiswa ke ruang kelas mereka. Hal itu bisa dilakukan karena Interact mampu mengetahui identitas seorang mahasiswa beserta jadwal kuliahnya sehingga teknologi tersebut bisa memberi petunjuk arah ke ruang kelas.

”Saat mahasiswa masuk ke dalam bangunan kampus, teknologi ini akan mengenali identitas dan jadwal kuliah mereka, lalu memandu mereka ke lokasi kelas yang tepat,” ungkap Harsh.–HARIS FIRDAUS

Sumber: Kompas, 4 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Berdamai dengan Matematika

Matematika sudah bergenerasi memiliki predikat ”momok” bagi siswa. Saatnya memutus stigma tersebut yang bisa dimulai ...

%d blogger menyukai ini: