Home / Berita / CeBit 2015, Selamat Datang Era D!conomy

CeBit 2015, Selamat Datang Era D!conomy

Pameran paling bergengsi di bidang teknologi informasi dan bisnis digital di bawah naungan CeBit 2015 di Jerman telah digelar sejak 16 Maret lalu hingga 20 Maret 2015. Di arena inilah potret masa depan teknologi informasi dan bisnis digital masa depan tecermin.
Wartawan harian Kompas, Prasetyo Eko P, dari arena CeBit 2015, Hannover, Jerman, melaporkan, pemanfaatan seluruh aspek teknologi dunia digital dengan kehidupan nyata semakin dekat dan erat. Bahkan, digital dan ekonomi telah selaras, menciptakan peluang baru yang tak terbatas.

Pada abad ke-19, penemuan mesin uap mendorong revolusi yang mendorong dunia menuju sebuah masyarakat industri. Kini, sekitar 200 tahun kemudian, dunia kembali mengalami sebuah transformasi super cepat, yang didorong perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Dunia mengalami transformasi digital di seluruh aspek kehidupan ketika teknologi informasi menjadi penggerak utamanya. Dalam gelaran CeBit 2015 di Hanover, transformasi digital ini menjadi tema utama. Revolusi digital itu mereka sebut “d!conomy”, sebuah istilah yang diciptakan dari gabungan digitalisasi dan ekonomi.

CeBit singkatan dari Centrum für Büroautomation, Informationstechnologie und Telekommunikation dalam bahasa Jerman. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, CeBit menjadi Center for Office Automation, Information Technology and Telecommunication. Gelaran ini berlangsung 16-20 Maret 2015 di Hanover Fairground, sebuah lokasi pameran serupa Jakarta International Expo di Kemayoran, hanya saja dalam ukuran yang jauh lebih besar.

a32a9bf380df49109998c7e4f0e5a2daKompas menghadiri gelaran pameran teknologi terbesar di dunia itu atas undangan Rittal, sebuah perusahaan asal Jerman yang salah satunya bergerak dalam infrastruktur data center, yang terkait erat dengan fenomena d!conomy: big data, mobilitas, keamanan, internet of things, dan media sosial. Tren besar itu berperan besar dalam kehidupan bisnis serta sosial dunia.

Sekitar 3.300 perusahaan dari 70 negara, termasuk 12 perusahaan teknologi informasi Indonesia, ikut menyemarakkan gelaran CeBit 2015 di Hanover pada 16-20 Maret. Pameran teknologi informasi terbesar dunia ini menampilkan nama-nama besar, termasuk HP, Tesla, IBM, Intel, dan Samsung.

Tambang baru
Data dipandang sebagai “tambang baru” pada era sekarang. Makin lama makin banyak bisnis yang menambang harta karun digital tersebut.

Siapa pun yang mampu mengubah data itu menjadi pengetahuan dan menggunakannya akan memperoleh keuntungan. Dalam pameran kali ini, perusahaan-perusahaan seperti Rittal menampilkan produk mereka yang terkait dengan infrastruktur pusat data, energi, sistem pendinginannya, dan juga pengamanannya.

Soal keamanan pusat data, sejak sang whistleblower terbesar dunia, Edward Snowden, mengungkapkan berbagai rahasianya, keamanan data menjadi salah satu perhatian utama. Pemerintahan, perusahaan, hingga individu bisa menjadi sasaran lembaga atau siapa pun yang berniat melakukan peretasan ataupun penyadapan.

Berbagai perusahaan menampilkan produknya untuk menghadapi ancaman keamanan digital tersebut. Blakcberry bersama IBM dan Samsung, misalnya, mengenalkan Secutablet, sebuah tablet yang diklaim anti penyadapan dan peretasan.

Perusahaan Indonesia pun tak kalah dalam bidang teknologi keamanan. Berpameran di sebuah stan di Hall 6 yang dikhususkan untuk teknologi keamanan, Indoguardika Cipta Kreasi (ICK) di antaranya memamerkan aplikasi anti sadap untuk telepon seluler dan komunikasi radio.

Dahniar Wisnu Paramita, Marketing and Managing Director ICK, ditemui di lokasi pameran mengatakan, ancaman keamanan di dunia teknologi informasi itu sudah sangat mengkhawatirkan. “Di dunia saat ini, data adalah komoditas yang sangat berharga dan sangat berbahaya apabila sampai jatuh ke tangan yang salah,” katanya.

Di bidang internet of things, berbagai perusahaan juga menampilkan produknya. Sebanyak 55 miliar barang diperkirakan bakal terkoneksi ke jaringan pada 2020 dan potensi pasarnya mencapai 19 triliun dollar AS. Berbagai sektor, seperti kesehatan, industri, otomotif, hingga smart city (kota pintar), menjadi fokus.

Uni Eropa mendefinisikan smart city adalah sebuah tempat ketika jaringan tradisional dan layanan publik dibuat menjadi lebih efisien dengan penggunaan teknologi digital dan telekomunikasi untuk keuntungan usaha dan penghuninya. Dalam soal smart city, berbagai perusahaan menampilkan konsep dan aplikasinya mengenai kota pintar masa depan.

Satu hall, yakni Hall 7, dikhususkan untuk permasalahan publik, seperti e-government, solusi untuk perusahaan jaminan kesehatan dan solusi untuk urban aglomerasi.

Dunia digital dan ekonomi telah berlari sedemikian cepatnya. Inilah saatnya menghargai, memanfaatkan, menyimpan, dan mengamankan data layaknya seperti mata uang. Selamat datang era d!conomy, siap-siaplah untuk bergerak bersama atau diam saja untuk terlempar dari arena.

Prasetyo Eko P
Sumber: Kompas Siang | 18 Maret 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: