Home / Berita / Resistensi Antibiotik Bisa Jadi Pembunuh Nomor Satu

Resistensi Antibiotik Bisa Jadi Pembunuh Nomor Satu

Resistensi kuman terhadap obat antibiotik dinilai mengancam kesehatan warga dunia. Jika tidak ada upaya global yang efektif dan tepat waktu, resistensi antimikroba bisa menjadi ”mesin pembunuh” nomor satu di dunia pada 2050.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita pada konferensi pers penyelenggaraan ”Pekan Kesadaran Antibiotik” di kantor Kementerian Pertanian di Jakarta, Rabu (8/11), menyatakan, berdasarkan perkiraan para ahli, resistensi antimikroba (AMR) akan menjadi penyebab kematian nomor satu pada 2050. Tingkat kematian akibat AMR bisa mencapai 10 juta jiwa pada 2050 jika tidak ada upaya global yang efektif dan tepat waktu.

Resistensi kuman terhadap obat antimikroba (antibiotik), baik pada manusia maupun hewan, dinilai terus meningkat beberapa dekade terakhir. Kondisi itu dipicu oleh pemakaian antibiotik yang berlebihan dan tidak sesuai.

KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN–Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian

Kerugian ekonomi akibat AMR diperkirakan mencapai 1,5 miliar euro per tahun, antara lain karena biaya perawatan naik dan produktivitas yang turun.

Pemerintah telah melarang penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan ternak.

Ketut menambahkan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Kementerian Pertahanan menyusun rencana aksi nasional penanggulangan AMR.

Khusus di peternakan, pemerintah telah melarang penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (growth promoter) ternak.

”Kementerian Pertanian juga memulai pengawasan AMR di Jawa Barat, Banten, dan Jabodetabek serta survei pemakaian antimikroba di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan pada 360 peternak ayam pedaging,” kata Ketut.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian bersama FAO ECTAD (Food and Agriculture Organization Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases), lembaga ReAct (Action on Antibiotic Resistance), Center for Indonesian Veterinary Analytical Study (CIVAS), Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dan Pinsar Petelur Nasional menggelar sejumlah kegiatan pada pekan kesadaran antibiotik. Tahun ini kegiatan diselenggarakan di fakultas kedokteran hewan sejumlah perguruan tinggi, antara lain di Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Hasanuddin.

Pendiri YOP, Purnamawati Sujud, menambahkan, pemakaian antibiotik pada manusia dan pangan masih sangat tinggi. Ironisnya, banyak warga belum tahu bahwa antibiotik tidak bisa membunuh virus.

Semua pihak terkait diajak untuk meningkatkan komunikasi dan kolaborasi dalam mengendalikan pemakaian antibiotik di semua sektor.

Dia mengutip sebuah survei yang menemukan bahwa hanya 43 persen responden di Eropa yang tahu bahwa antibiotik tidak bisa membunuh virus dan 56 persen yang tahu bahwa antibiotik tidak efektif untuk batuk dan pilek.

Purnamawati mengajak semua pihak terkait meningkatkan komunikasi dan kolaborasi dalam mengendalikan pemakaian antibiotik di semua sektor.

Harapannya, dunia tidak lagi kembali ke era sebelum antibiotik ditemukan, yakni era ketika infeksi bakteri dan penyakit ringan tidak bisa ditangani dan dapat berujung kematian.–MUKHAMAD KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 8 November 2017
—————–

Resistensi Antimikroba Ancam Ketahanan Pangan

Sosialisasi kepada Peternak Digalakkan
Resistensi antimikroba mengancam kesehatan manusia dan ketahanan pangan di masa depan, khususnya sektor peternakan dan kesehatan hewan. Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menyasar usaha peternakan terkait pemakaian antibiotik.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menyatakan hal itu pada jumpa pers penyelenggaraan “Pekan Kesadaran Antibiotik”, Rabu (8/11), di Kementerian Pertanian, Jakarta.

Jika tak ada upaya global, para ahli memperkirakan resistensi antimikroba (AMR) akan menjadi mesin pembunuh nomor satu di dunia dengan angka kematian 10 juta jiwa pada 2050. Asia dan Afrika memiliki risiko tertinggi daripada kawasan lain.

Resistensi kuman pada obat antimikroba (antibiotik) pada manusia atau hewan terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Itu dipicu pemakaian antibiotik berlebihan dan tak sesuai. Kerugian ekonomi akibat AMR diperkirakan 1,5 miliar euro per tahun, antara lain karena biaya perawatan naik dan produktivitas turun.

Tanpa intervensi efektif dan tepat waktu, laju AMR diperkirakan naik 40 persen, sedangkan kematian manusia secara global bisa melonjak dari 700.000 kasus pada 2014 menjadi 10 juta kasus pada 2050. Dari jumlah itu, sebagian besar kasus diperkirakan terjadi di Asia dan Afrika.

Ketua Tim Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD) pada Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) James Mc Grane menyatakan, saat mikroba jadi kebal terhadap satu atau beberapa jenis antibiotik, infeksi yang dihasilkan mikroba sulit disembuhkan dan bisa mematikan. Mikroba yang kebal bisa menyebar ke lingkungan sekitar, rantai makanan, dan manusia.

Rencana aksi
Oleh karena itu, pemakaian antimikroba pada ternak sebaiknya dihindari jika tak perlu. Salah satu cara mengendalikan pemakaian antibiotik di sektor peternakan ialah menerapkan biosekuriti tiga zona, yakni area kotor, area persiapan, dan area produksi. Faktor risiko yang dikendalikan berasal dari orang, benda, dan hewan untuk mencegah virus, bakteri, dan parasit masuk serta menginfeksi ternak.

Terkait itu, menurut Ketut, pemerintah melalui Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Pertahanan menyusun rencana aksi nasional penanggulangan AMR. Khusus di peternakan, pemerintah melarang penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (growth promoter) ternak.

“Kementerian Pertanian juga mulai mengawasi AMR di Jawa Barat, Banten, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, serta survei pemakaian antimikroba di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan pada 360 peternak ayam pedaging,” ucap Ketut.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menggelar kegiatan pekan kesadaran antibiotik. Itu dilakukan bersama FAO ECTAD, Lembaga ReAct (Action on Antibiotic Resistance), Center for Indonesian Veterinary Analytical Study (CIVAS), Yayasan Orangtua Peduli (YOP), dan Pinsar Petelur Nasional. Tahun ini, kegiatan diadakan di fakultas kedokteran hewan sejumlah perguruan tinggi, antara lain Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Hasanuddin.

Perubahan perilaku
Ketua ReAct Asia Pasifik Sujith Chandy menambahkan, pengendalian laju AMR perlu ditempuh lewat komunikasi dan pelatihan yang efektif. Upaya mengubah perilaku berbasis keilmuan melibatkan pelaku lintas sektor, mencakup pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil.

Pendiri YOP, Purnamawati Sujud, menambahkan, pemakaian antibiotik pada manusia dan pangan tinggi. Namun, banyak warga tak tahu antibiotik tak bisa membunuh virus. Menurut survei, hanya 43 persen responden di Eropa mengetahui antibiotik tak bisa membunuh virus dan 56 persen yang tahu antibiotik tak efektif untuk batuk dan pilek.

Terkait hal itu, semua pihak terkait didorong agar meningkatkan komunikasi dan kolaborasi dalam mengendalikan pemakaian antibiotik di semua sektor. Harapannya, dunia tak lagi kembali ke era sebelum antibiotik ditemukan, yakni saat infeksi bakteri dan penyakit ringan tak bisa ditangani dan berujung kematian. (CAS/MKN/DD04)

Sumber: Kompas, 9 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: