Home / Artikel / Resesi dan Peradaban Baru

Resesi dan Peradaban Baru

Cara kita menangani krisis kesehatan dan ekonomi atau kesejahteraan sekarang ini akan menjadi penentu, apakah kita akan bangkit menjadi bangsa pemenang dalam peradaban baru nanti atau sebaliknya hanya sebagai pecundang.

Hyman Minsky, pemikir krisis yang lama terlupakan, menyatakan dengan lugas: resesi (krisis) dalam sistem ekonomi kapitalis semata-mata disebabkan perilaku spekulatif yang berlebihan.

Itulah esensi dari teori hipotesis instabilitas keuangan (financial instability hypothesis) yang dianggap memberi penjelasan sahih krisis keuangan 2008-2009. Bagaimana relevansi pemikiran Minsky dalam resesi terkini akibat pandemi Covid-19?

Pada Juni lalu, Komite Pendataan Siklus Bisnis sebagai bagian dari National Bureau of Economic Research (NBER) merilis pernyataan, perekonomian AS telah secara resmi memasuki episode resesi (Reuters, 8/6/2020). Komite menyatakan puncak siklus ekonomi AS terjadi Februari 2020, mengakhiri salah satu periode ekspansi terpanjang selama 128 bulan. Setelah itu, perekonomian AS memasuki fase resesi akibat Covid-19.

Resesi adalah fenomena alamiah yang menimpa perekonomian, ditandai dengan kontraksi aktivitas ekonomi selama beberapa bulan setelah fase ekspansi. Ditilik dari dinamika persoalannya, resesi ekonomi yang menimpa dunia belakangan ini berbeda karena dipicu oleh merebaknya penyakit yang diakibatkan virus korona (SARS-CoV-2).

Itulah mengapa Dana Moneter Internasional (IMF) menyebutnya sebagai ”a crisis like no other”. Benarkah resesi kali ini hanya disebabkan faktor pandemi, tanpa ada kontribusi faktor internal (endogen) di tiap negara/kawasan? Pemahaman ini penting untuk merekonstruksi perekonomian global di masa depan. Bagaimana peta perekonomian sepuluh tahun ke depan dan di mana kita dalam perubahan peta itu? Apa saja yang harus kita persiapkan hari ini?

”Crisis like no other”
Laporan tiga bulanan IMF edisi Juni diberi judul A Crisis Like No Other, An Uncertain Recovery. Dalam laporan ini proyeksi pertumbuhan global diturunkan dari minus 3 persen dalam proyeksi sebelumnya bulan April menjadi minus 4,9 persen dalam proyeksi Juni atau 1,9 persen lebih rendah. Jika dibandingkan pertumbuhan global 2019 sebesar 2,9 persen, terjadi kontraksi 7,8 persen. Dengan catatan, pertumbuhan 2020 masih mungkin terkoreksi kembali ke bawah.

Dalam laporan ini, Indonesia diperkirakan akan tumbuh minus 0,3 persen tahun ini. Kelompok negara maju diperkirakan tumbuh minus 8 persen, sementara kelompok negara berkembang minus 3 persen. Satu-satunya negara besar yang diproyeksikan tumbuh positif adalah China sebesar 1 persen.

Indonesia yang pada kuartal I-2020 masih tumbuh 2,97 persen diperkirakan tumbuh negatif kuartal II dan III. Dengan demikian, seperti hampir semua perekonomian dunia akan mengalami resesi.

Secara teknis, resesi adalah situasi di mana perekonomian mengalami pertumbuhan negatif selama lebih dari tiga bulan atau dua kuartal berturut-turut.

Meski masuk dalam lubang resesi, tetapi tetap menyimpan berita baik. Pertama, tekanan resesi relatif ringan dibandingkan banyak negara lain di dunia. Kedua, sebagai bagian dari kelompok negara berkembang, perekonomian kita diperkirakan akan mengalami pemulihan paling cepat setelah China.

Sementara itu, kelompok negara maju selain mengalami tekanan sangat berat juga diperkirakan pulih paling lama. Bahkan di antaranya ada yang diperkirakan tak mampu bangkit kembali. Menurut perhitungan IMF, Italia dan Spanyol akan menjadi negara paling berat mengalami resesi dengan kontraksi pertumbuhan tahun ini 12,8 persen. Disusul Perancis dengan pertumbuhan minus 12,5 persen, Inggris minus 10,2 persen, Amerika Serikat minus 8 persen, dan Jerman minus 7 persen.

Organisasi kelompok negara maju (OECD) mengeluarkan proyeksi global 2020 dalam OECD Economic Outlook Juni lalu dengan judul ”The World Economy on a Tightrope”. Perekonomian global dalam keadaan yang menegangkan, begitu kata lembaga beranggotakan 37 negara maju ini.

Laporan ini membuat proyeksi berbasis dua skenario, yaitu virus menyerang sekali (single-hit scenario) dan terjadi serangan dua kali (double-hit scenario). Dalam skenario pertama, perekonomian global akan terkontraksi 6 persen, sementara jika virus menyerang dua kali perekonomian global akan tumbuh minus 7,6 persen. Jika terjadi serangan kedua virus korona, Perancis, Italia, dan Inggris akan terkena dampak paling besar dengan proyeksi pertumbuhan minus 14 persen 2020.

Laporan ini juga memproyeksikan tekanan fiskal akibat serangan virus korona, baik jika hanya mengalami sekali maupun dua kali serangan. Jika harus mengalami gelombang kedua virus korona, kelompok negara maju (OECD) akan mengalami tambahan utang pemerintah sekitar 28 persen terhadap PDB sebagai dampak membengkaknya biaya penanganan krisis.

Spanyol akan menjadi negara dengan tambahan utang tertinggi, 34 persen, sementara Jepang, AS, dan Italia akan mengalami lonjakan utang pemerintah sebesar 32 persen.

Mengapa negara maju menjadi negara paling parah dan biaya penyelamatan ekonomi begitu besar? Situasi ini tak bisa dilepaskan dari krisis finansial global 2008-2009, di mana episentrum masalahnya ada di negara maju.

Sebelum pandemi Covid-19, kelompok negara maju termasuk paling rentan akibat tekanan fiskal yang begitu berat. Pandemi Covid-19 hadir saat mereka masih mengalami pemulihan lemah (anemic recovery). Menghadapi virus korona ini, mereka terjungkal paling dalam, bangkit paling lama dengan biaya paling mahal.

Pada poin ini Minsky benar; negara maju tak mampu menghadapi resesi kali ini akibat perilaku keuangan mereka sudah sangat eksesif sejak lama. Sementara, negara berkembang seperti kita masih relatif prudent sehingga lebih siap menghadapi pandemi. Covid-19 akan menjadi penentu siapa yang akan bertahan dalam situasi sulit ini dan siapa yang akan terlempar dari peradaban.

Disrupsi peradaban
Pandemi Covid-19 akan menjadi penanda pergeseran peradaban dunia. Pemulihan ekonomi akibat pandemi akan menciptakan konstelasi baru dalam perekonomian global. Tak hanya menghasilkan peta pertumbuhan baru, tetapi lebih jauh lagi, akan memunculkan peta peradaban baru.

Sejak 12 tahun terakhir dunia telah mengalami empat disrupsi besar. Pertama, krisis finansial global 2008-2009 di mana pada fase awalnya telah menimbulkan pemisahan (decoupling) peta pertumbuhan antara kelompok negara maju dan berkembang (khususnya China). Fase berikutnya diwarnai dengan sinkronisasi peta perekonomian di mana perbedaan mencolok kinerja perekonomian antara kelompok negara maju dan negara berkembang mereda.

Resesi dan Peradaban Baru
Kedua, krisis keuangan global telah memicu adopsi teknologi secara masif. Pada akhir 2008 muncul buku putih berjudul Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System yang ditulis oleh orang yang mengaku sebagai Satoshi Nakamoto. Artikel pendek ini semacam manifesto sistem keuangan peer-to-peer yang menegasi keberadaan pihak ketiga.

Sejak krisis keuangan global terjadi, ditandai oleh hancurnya simbol sistem keuangan modern di AS, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi keuangan sebagai lembaga intermediasi merosot drastis. Mereka cenderung memilih transaksi langsung antar-individu guna menghindari lembaga intermediasi. Itulah awal mula munculnya mata uang digital, seperti Bitcoin.

Keberadaan Bitcoin hingga kini masih menjadi kontroversi. Namun, teknologi yang digunakan Bitcoin, yaitu blockchain diakui sebagai penemuan penting yang diyakini akan mengubah banyak bisnis model, tak hanya ekonomi, tetapi juga politik dan sosial. Lebih jauh lagi, inovasi teknologi ini menandai bangkitnya revolusi industri 4.0 yang merupakan perpaduan faktor digital, fisik, dan biologi.

Revolusi kedua setelah krisis finansial global ini tampaknya akan jadi salah satu pilar penting di masa depan. Pandemi telah membuat adopsi teknologi terjadi di hampir semua lini kehidupan secara intensif. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kita bisa bekerja di rumah secara penuh berbulan-bulan atau sekolah secara daring penuh satu semester tanpa ada yang mempersoalkan. Covid-19 telah menjadi pemicu disrupsi teknologi yang sesungguhnya.

Ketiga, disrupsi politik yang ditandai bangkitnya pemimpin berhaluan ultranasionalis, seperti Donald Trump di AS, Boris Johnson di Inggris, hingga Bolsonaro di Brasil. Krisis finansial global memicu bangkitnya pemimpin berorientasi politik ke dalam, protektif, dan antiglobalisasi. Keputusan AS menarik diri dari Organisasi Kesehatan Dunia salah satu fenomena terbaru dari sikap politik antiglobalisasi yang tak mengakui keberadaan lembaga multilateral.

Peta baru peradaban
Pandemi Covid-19 diyakini tak akan menyurutkan perilaku protektif bangsa-bangsa di dunia dan bahkan ada kecenderungan sebaliknya, makin intensif. The Economist edisi 18 Juli mengambil judul ”Trade without trust: How the West should do business with China” menceritakan larangan Inggris pada jaringan 5G Huawei.

Inggris sebagai sekutu AS mengikuti garis kebijakan Trump mengeliminasi kegiatan bisnis China di pasar dunia. Perselisihan ini akan terus terjadi, bahkan ketika Trump tak terpilih lagi menjadi presiden.

Selama ini perang dagang dan perilaku protektif identik dengan Trump, tetapi tak berarti ketika Trump tak lagi berada di panggung politik dunia, situasi akan serta-merta berubah. Dengan kata lain, perang dagang dan perilaku protektif telah menjadi lanskap baru bagi perekonomian global yang akan berlanjut di masa depan.

Peradaban tengah mengalami fase transformatif dipicu berbagai disrupsi yang ditutup dengan megadisrupsi pandemi Covid-19. Forum Ekonomi Dunia memilih ”The Great Reset” sebagai tema pertemuan puncak tahunan di Davos, Januari 2021. Covid-19 momentum menata ulang format kehidupan di berbagai aspek, mulai dari kesehatan, lingkungan, hingga model bisnis baru di masa depan. Prakarsa ini perlu disambut mengingat perubahan tak hanya menyangkut peta perekonomian namun juga peradaban.

Ada dua gejala yang cukup mencolok peradaban akibat pandemi Covid-19, yaitu adopsi teknologi yang makin intensif dan solidaritas antarwarga akan meningkat. Keduanya akan menjadi fondasi dalam peradaban baru dipicu hadirnya pandemi virus korona. Pertanyaannya, di mana Indonesia dalam peradaban baru atau era great reset ini?

Meski hari-hari ini konsentrasi kita masih pada mitigasi krisis, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi, pertanyaan ini perlu direnungkan. Pertama, perekonomian kawasan Asia sangat mungkin akan menjadi kawasan paling menjanjikan sepuluh tahun mendatang. Merancang pemulihan di mana kawasan Asia sebagai arena utama menjadi agenda penting.

Kedua, sebagai kelompok negara dengan pemulihan paling cepat setelah China, kita perlu mendefinisikan sektor mana saja yang akan berkembang dan dominan. Rancangan pemulihan harus mempertimbangkan rantai pasok baru yang akan muncul di masa depan.

Meski pada kuartal kedua dan ketiga akan tumbuh negatif atau memasuki fase resesi, tak perlu berkecil hati. Resiliensi ekonomi kita termasuk baik dengan rasio utang dan besaran defisit fiskal relatif rendah dibandingkan kelompok negara maju. Ada beberapa agenda pokok yang harus dijaga.

Pertama, memastikan aliran politik ultranasional tak berkembang dalam kancah sosial politik di Tanah Air. Dengan kata lain, kita bisa keluar dari kecenderungan besar yang tengah menimpa banyak negara, khususnya beberapa negara maju.

Kedua, mampu memanfaatkan teknologi informasi sebagai modalitas untuk bangkit membangun perekonomian di era adaptasi kebiasaan baru. Ketiga, mengakselerasi solidaritas antarwarga sebagai ciri pokok peradaban baru di era Covid-19.

Dengan begitu, resesi akan menjadi peluang bagi kita untuk memperbaiki posisi tawar dalam mata rantai ekonomi dan politik global. Barangkali cara kita menangani krisis kesehatan dan krisis (ekonomi) kesejahteraan sekarang ini akan menjadi penentu, apakah kita akan bangkit menjadi bangsa pemenang dalam peradaban baru nanti atau sebaliknya hanya sebagai pecundang.

A Prasetyantoko, Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Sumber: Kompas, 27 Juli 2020

Share
x

Check Also

Tantangan Kelola Riset dan Inovasi

Inovasi selalu multipihak dan bertahapan jamak. Ia tak pernah akan bisa dipaksa, tetapi prosesnya bisa ...

%d blogger menyukai ini: