Home / Artikel / Tantangan Pendidikan Tinggi Ekonomi

Tantangan Pendidikan Tinggi Ekonomi

Beberapa waktu lalu Kompas memuat kolom yang sangat menarik dan menantang “Menuju Pendidikan Asembling” tulisan Prof Sudaryono, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Saya menggunakan tulisan tersebut sebagai salah satu referensi pada waktu berbicara di depan civitas academica Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) dalam acara “Sosialisasi Pemilihan Dekan” baru-baru ini, membahas tantangan masa depan pendidikan ekonomi di lingkungan UI.

Dalam tulisan itu ditunjukkan, pendidikan perguruan tinggi dewasa ini menghadapi tantangan akan menjadi tidak relevan, bahkan mati. Di Amerika Serikat (AS), Jim Clifton mengulasnya dalam tulisan “Universities: Disruption is Coming” (2016) dan di Inggris Terry Eagleton “The Death of University” (2015).

Perkembangan baru teknologi dapat membuat pendidikan universitas tak banyak artinya dalam mempersiapkan tenaga kerja industri masa depan. Debat muncul setelah adanya iklan Google dan Ernst & Young yang bersedia menggaji siapa pun yang mau bekerja buat mereka tanpa harus memiliki ijazah apa pun, termasuk ijazah perguruan tinggi.

Pendidikan tinggi ekonomi
Selama beberapa tahun terakhir setiap kali saya diminta berbicara mengenai tantangan dan peluang perekonomian nasional di berbagai fora, saya mulai dengan menyajikan peta risiko dunia yang tahun 2011 lalu digambarkan World Economic Forum menghadapi banyak risiko yang dapat digolongkan dalam lima kelompok: ekonomi, sosial, geopolitik, perubahan iklim, dan teknologi.

Mengamati dinamisme perkembangan di dunia beberapa tahun terakhir jelas tak susah bagi siapa pun menyebut contoh dari risiko yang berkembang di masing-masing kelompok itu.

Risiko tersebut, apakah di bidang ekonomi, seperti fluktuasi harga komoditas, atau sosial, seperti ketimpangan pendapatan yang meningkat, atau geopolitik, seperti pertikaian di berbagai kawasan dan kompetisi pengaruh antarnegara adikuasa, maupun bencana alam karena perubahan iklim, terorisme, dan kejahatan siber (cybercrimes), semuanya merupakan risiko yang harus dihadapi setiap perekonomian. Dan, masih ada lagi ketidakpastian yang berada di luar risiko, bahkan yang sangat jarang terjadi: tail risks atau black swans.

Ketidakpastian adalah sesuatu yang manusia-dengan bantuan ilmu pengetahuan apa pun-tidak tahu. Dalam ilmu ekonomi, Keynes yang selain bapak ekonomi makro juga ahli statistik probabilitas, menekankan bahwa dalam hal ketidakpastian kita tidak tahu, titik. Hanya mereka yang takabur (hubris) berpendapat bahwa semua itu adalah risiko yang dapat diperhitungkan dan dikelola dan tak mengakui adanya ketidakpastian atau bahwa ketakpastian itu dapat dikelola.

Krisis keuangan yang setiap kali melanda perekonomian, apakah krisis ekonomi-keuangan Asia tahun 1997/1998, krisis pinjaman hipotek bawah standar (subprime mortgage loans crisis) 2006, krisis keuangan dunia (global financial crisis) 2007/2008, krisis utang Eropa 2010-2012 maupun resesi berkepanjangan dunia (the great recession), bahkan krisis-krisis sebelumnya, pada dasarnya merupakan akibat ketidakberhasilan negara-negara melaksanakan pengelolaan risiko dan ketidakpastian.

Di bidang keuangan-perbankan akhir-akhir ini orang bahkan tidak hanya berbicara tentang risiko, tetapi ditambah berbagai komplikasi lain dikenal sebagai VUCA; volatility, uncertainty, complexity and ambiguity. Jadi, lengkaplah masalah-masalah yang menjadi tantangan setiap negara dalam pengelolaan ekonomi nasionalnya.

Semua masalah dan tantangan ataupun peluang ini akhirnya terpulang kepada para pemangku kepentingan (stakeholders): otoritas penentu kebijakan, pelaku pasar maupun masyarakat luas sebagai konsumen dan produsen. Namun, ujungnya sampai kepada ilmu ekonomi yang mendasari konsep dengan analisis, pendekatan dan teori dengan para ekonom yang menganutnya dalam menjalankan kegiatan ekonomi mereka. Dan, akhirnya kepada pendidikan ekonomi yang mencetak para pelaku ekonomi tersebut sebagai homo economicus dan sebagai ekonom.

Prof Paul Krugman tahun 2009 menulis di New York Times, mengkritik terjadinya krisis pinjaman hipotek bawah standar AS yang berkembang menjadi krisis keuangan dunia. Kritiknya ditujukan kepada pendekatan ekonomi yang menjadi dasar kebijakan dan ekonom yang menganutnya. Judul tulisan Krugman jelas menggambarkan kritik tersebut, “How Did Economists Get It So Wrong?”

Akan tetapi, banyak kritik lain yang senada dengan tulisan tersebut dan menilai krisis keuangan dunia itu merupakan akibat dari kepercayaan yang tidak rasional terhadap bekerjanya mekanisme pasar dalam apa yang dikenal sebagai effective market hypothesis (EMH).

Mekanisme pasar yang dibiarkan berjalan tanpa intervensi akan selalu menghasilkan solusi, ekuilibrium yang stabil, inilah adagium yang dirumuskan oleh Profesor Eugene Fama dari University of Chicago. Teori ini cukup lama diterima sebagai mantra penyelenggaraan perekonomian di banyak negara di dunia. Karena itu, George Soros menyebutkannya sebagai fundamentalisme pasar (market fundamentalism).

Hipotesis dan teori dipercaya, bukan lagi sebagai alat untuk analisis, tetapi menjadi semacam kepercayaan (faith). Di Indonesia, 20 tahun setelah krisis 1997/1998 masih ada yang mengritik kebijakan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) untuk mengatasi krisis perbankan sebagai salah, tanpa menggunakan analisis yang jelas apalagi menunjukkan alternatifnya.

Akan tetapi, sebetulnya ilmu ekonomi tidak pernah lepas dari perubahan, kritik, dan penyesuaian. Apa yang dirumuskan Keynes dalam buku General Theory disebutkan sebagai Keynesian Revolution terhadap teori yang ada waktu itu. Teori Ekonomi Klasik waktu itu tidak mampu menjelaskan apa dan mengapa terjadi depresi dalam perekonomian dengan tingkat pengangguran yang sangat tinggi, karena menurut teori yang ada tingkat pengangguran sedemikian tidak dimungkinkan.

Kalau menjelaskan yang terjadi saja tidak mampu, bagaimana mungkin memberi jalan penyelesaian masalah yang dihadapi? Karena itu, Teori Ekonomi Klasik kemudian diganti dengan Teori Ekonomi Keynes.

Akan tetapi, proses demikian terus terjadi, suatu teori atau pendekatan yang mampu menjadi alat analisis dan arah kebijakan kalau berjalan cukup lama dapat berubah menjadi conventional wisdom. Teori tersebut menjadi ortodoks, diterima semua tanpa mengkritisi, seperti suatu kepercayaan. Padahal, teori tersebut menjadi tumpul, tak dapat membaca paradigma yang berubah. Karena itu, timbul teori dan pendekatan baru, menggantikan yang lama sampai terjadi siklus baru.

Ekonom teknisi dan ekonom ilmuwan
Profesor Gregory Mankiw dari Harvard University pada 2006 membuat tulisan yang relevan untuk kita gunakan sebagai acuan guna menjawab tantangan pendidikan tinggi ekonomi dewasa ini. Tulisan “Macroeconomist as Technician and Scientist” itu menekankan bahwa pendidikan ekonomi diselenggarakan untuk mencetak engineering economist, ekonom teknisi yang orientasinya kepada menyelesaikan masalah dan scientist economist, ekonom ilmuwan yang mengembangkan peralatan analisis dan menyusun prinsip teori untuk menjelaskan masalah (what is). Jadi, pendidikan tinggi ekonomi juga punya tugas ganda sebagaimana Profesor Sudaryono menekankan.

Pendidikan ekonomi harus memperhatikan dinamisme unsur-unsur yang menjadi tantangan dan peluang ekonomi agar ekonom yang dihasilkan, baik teknisi atau perakit maupun ilmuwan. Ekonom teknisi harus mampu membuat solusi masalah yang terkait dengan VUCA, fenomena yang harus dihadapi dewasa ini. Ekonom ilmuwan harus dapat menjelaskan, menganalisis dengan teori dan peranti analisis yang tepat, mengubah tantangan menjadi peluang.

Baik ekonom sebagai teknisi atau perakit, apalagi sebagai ilmuwan, harus mampu menghadapi dinamisme luar biasa dari perkembangan teknologi yang berkembang, yakni apa yang dikenal sebagai revolusi industri keempat-kemajuan teknologi informasi (IT), kecerdasan artifisial/artificial intelligence (AI), gene editing, autonomous vehicles-setelah revolusi industri pertama (tenaga uap), kedua (listrik), dan ketiga (elektronik).

Dalam bidang keuangan-perbankan dan perdagangan, semua menyaksikan kian meluasnya transaksi yang tidak menggunakan uang (cash-less) karena Alipay dan sejenisnya, transaksi online yang menjadikan bisnis eceran dan shopping mall kurang relevan-dan perkembangan serupa akan mengurangi kesempatan kerja di bidang-bidang tersebut.

Berbagai perkiraan menyebutkan dalam 50 tahun kebanyakan pekerjaan yang dewasa ini dilakukan manusia akan diganti dengan robot atau komputer. Jadi, bahkan untuk mencetak sarjana perakit akan terjadi tantangan baru karena menyurutnya permintaan terhadap mereka maupun timbulnya permintaan terhadap perakit atau teknisi baru yang berbeda dari sebelumnya.

Apakah pendidikan tinggi ekonomi akan menjadi tak relevan lagi? Betapapun berat dan besar tantangan itu, buat orang seperti saya yang tak pernah meninggalkan keterlibatan dalam pendidikan tinggi ekonomi sampai sekarang-meskipun banyak berkelana dalam pekerjaan-jawabannya tak bisa lain, dengan konsisten memegang misi pendidikan tinggi ekonomi menghasilkan ekonom teknisi dan ekonom ilmuwan. Pendidikan tinggi ekonomi akan tetap relevan.

J Soedradjad Djiwandono, Guru Besar Emeritus Ekonomi UI dan ProfesorEkonomi Internasional, RSIS, Nanyang Technological University Singapore

Sumber: Kompas, 3 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: