Home / Berita / produk kemasan; Pikir Dahulu Sebelum Membuang Sampah

produk kemasan; Pikir Dahulu Sebelum Membuang Sampah

Indonesia sangat bergantung pada produk impor. Buktinya, jangankan produk hasil pertanian, produk kemasan makanan dan minuman pun negeri ini masih menggantungkan pasokan dari luar negeri. Sebutlah ”carton pack”, pembungkus minuman kemasan, Teh Kotak yang diproduksi PT Ultrajaya diimpor dari Thailand.

Sayangnya, karena gaya hidup masyarakat yang tak ramah lingkungan, nyaris semua bekas wadah minuman atau makanan itu dibuang percuma. Jadi sampah, yang kemudian menimbulkan persoalan lingkungan. Di kota besar seperti Jakarta, diperkirakan 6.000 ton sampah setiap hari diproduksi oleh warganya. Bank Dunia mencatat produksi sampah perkotaan di Indonesia sekitar 10 juta ton setahun.

Mengajak seluruh masyarakat dan kalangan bisnis agar lingkungan menjadi lebih bersih dan sehat, sekaligus mengurangi pemanasan global, adalah misi yang diusung Swiss Industrial Group (SIG) Combibloc dan PT Ultrajaya, yang bersama wartawan dari Indonesia, mengunjungi pabrik pengolahan limbah kertas karton UHT (ultra high temperature/temperatur sangat tinggi), Fiber Pattana di Bang Sao Thong, sekitar 10 kilometer dari Bangkok, ibu kota Thailand, dan pabrik produksi karton kemasan UHT minuman-makanan di kawasan industri Rayong, sekitar 160 km dari Bangkok.

Limbah Plastik dan Karton BekasMenurut Ronny Hendrawan, Regional Account Manager SIG Combibloc, perusahaan multinasional itu memproduksi 6 miliar pieces kemasan aseptik setahun, dipasarkan di kawasan Asia dan Pasifik. Adapun untuk kebutuhan pasar global, SIG Combibloc memproduksi 2,3 miliar pieces sebulan. SIG Combibloc dan Tetra memasok kebutuhan kemasan aseptik di Indonesia sebesar 4 miliar pieces.

PT Ultrajaya mendapat 400 juta pieces kemasan aseptik buatan SIG Combibloc untuk beberapa wadah produknya, di antaranya Teh Kotak. Hanya desain kemasan dan minuman teh yang bahan baku dan proses pengolahannya merupakan ”muatan lokal”. Karena memerlukan biaya relatif besar, agaknya menjadi alasan PT Ultrajaya untuk tidak membuat kemasan sendiri di dalam negeri.

Terlebih lagi dengan produk 8 juta liter sebulan, Teh Kotak punya segmen pasar tersendiri di Tanah Air. Teh itu juga dipasarkan di Arab Saudi, Malaysia, dan Afrika, yang keberadaannya bukan diekspor langsung, melainkan pengusaha luar negeri yang datang membeli ke Indonesia dalam jumlah fluktuatif. Demikian penjelasan Adi Mulyawan Barnas, Brand Manager PT Ultrajaya.

Komitmen lingkungan
Selain memburu keuntungan, kedua perusahaan itu juga membangun komitmen menyeimbangkan dengan tata kelola lingkungan. Alamlah yang memberi sumbangan bagi kelangsungan bisnis. Karena itu, pada kemasan Teh Kotak ada tulisan ”thanks to nature” dan FSC (Forest Stewardship Council), lembaga akreditasi bagi perusahaan dalam mengelola hutan dan hasil hutan dengan memperhatikan aset sosial, ekonomi, dan lingkungan. Di sejumlah kota juga dibangun kerja sama dengan sejumlah komunitas yang memiliki kesamaan tujuan, pikiran, dan tekad seperti Komunitas Indonesia Berkebun dan Yayasan Bali Spirit.

Menurut Joachim Ernst, Head Operation Plant Rayong SIG Combibloc, kertas kemasan produknya menggunakan bahan baku yang terbarukan: 75 persen kayu (pohon pinus), berasal dari kawasan hutan yang dikelola secara legal penanaman dan penebangannya. Kayu yang digunakan untuk membuat karton dipilih karena dalam proses produksinya, energi yang tersedot lebih sedikit dibandingkan menggunakan plastik dan kaca.

Misalnya, kemasan minuman produk perusahaan itu bisa dilipat, dan bentuknya empat persegi, yang dalam proses pengirimannya (dari pelabuhan laut ke lokasi pabrik misalnya) cukup menggunakan satu truk sehingga lebih irit tempat dan energi. ”Jika satu pabrik minuman membutuhkan 1 juta kemasan berbahan baku kaca dan plastik, diperlukan beberapa angkutan truk yang membawanya dari pelabuhan ke lokasi pabrik,” kata Hartono Prabowo, Representative FSC Indonesia.

SIG Combibloc juga memberikan dukungan kepada Fiber Pattana di Thailand, perusahaan swasta yang mengolah limbah kertas, plastik, dan aluminium menjadi barang jadi. Produknya berupa bahan bangunan papan (sejenis teks blok), genteng, dan bahan mebelair ataupun kertas. Fiber Pattana memiliki mesin berkapasitas produksi 50 ton, dan bahan bakunya dipasok dari kelompok pemulung.

Dengan sistem bagi hasil penjualan, kelompok pemulung mendapatkan bagian bila memasarkan produk barang jadi itu. Dari beragam produk itu, hanya produk kertas yang pemasarannya relatif lancar, sedangkan untuk yang lain perusahaan itu masih bergantung pada pesanan. Toh, Trivichak Yibyintham, Managing Director Fiber Pattana, mengatakan, dari total kapasitas mesin baru 50 persen bahan baku yang terpenuhi. Artinya, mesin itu masih ”lapar sampah”. (KHAERUL ANWAR)

Sumber: Kompas, 6 Desember 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: