Prodi Seni Tari dan Karawitan ISI Surakarta Paling Diminati

- Editor

Minggu, 16 Juni 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Institut Seni Indonesia Surakarta menyiapkan kuota 1.000 kursi bagi mahasiswa baru untuk Tahun Akademik 2019/2020. Dibanding Program Studi lain, Seni Tari dan Seni Karawitan program studi yang paling diminati calon mahasiswa baru.

KOMPAS/ERWIN EDHI PRASETYA–Penari 24 jam Darmasti bersama para penari dari ISI Surakarta menarikan tari Sang Srikandi saat pembukaan 24 Jam Menari di halaman Rektorat Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Senin (29/4/2019). Perhelatan 24 Jam Menari ini digelar ISI Surakarta untuk merayakan Hari Tari Dunia 2019.

“Pendaftar Program Studi Seni Tari dan Seni Karawitan itu rasionya 1 berbanding 2. Program ini paling tinggi peminatnya,” kata Wakil Rektor I Bidang, Akademik Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta I Nyoman Sukerna di Solo, Jawa Tengah, Jumat (14/62019).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sukerna mengatakan, daya tampung total mahasiswa baru ISI Surakarta tahun akademik 2019/2020 sama dengan 2018/2019, yakni 1.000 kursi. Pihaknya berharap daya tampung tersebut dapat terisi penuh. Saat penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2018/2019, jumlah mahasiwa baru yang diterima hanya 914 orang.

KOMPAS/ERWIN EDHI PRASETYA–Mahasiswa Institut Seni Indonesia Surakarta berlatih gamelan Bali di kampus ISI Surakarta di Solo, Jawa Tengah, Jumat (14/6/2019). Program Studi Seni Karawitan dan Seni Tari paling diminati calon mahasiswa baru yang mendaftar di ISI Surakarta.

Sukerna mencontohkan, Prodi Keris dan Senjata Tradisional dari kuota yang disediakan sebanyak 25, jumlah mahasiswa baru yang diterima hanya 12 orang. Selain itu, Prodi Seni Pedalangan dari kuota sebanyak 50, jumlah mahasiswa yang lolos seleksi dan diterima sejumlah 38 orang.

ISI Surakarta memiliki total 13 prodi pada dua fakultas, yaitu Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD).

Berdasarkan data ISI Surakarta yang diunggah pada laman isi-ska.ac.id, kuota mahasiswa baru untuk FSP sebanyak 445, sedangkan FSRD 555. FSP memiliki lima prodi, yakni Seni Karawitan, Seni Tari, Seni Pedalangan, Seni Teater, dan Etnomusikologi.

Adapun FSRD memiliki delapan prodi, yaitu Kriya Seni, Seni Rupa Murni, Desain Interior, Desain Komunikasi Visual, Televisi dan Film, Fotografi, Batik (D4), serta Prodi Keris dan Senjata Tradisional (D4). Prodi dengan daya tampung terbanyak ialah Seni Tari dengan kuota 130 dan Seni Karawitan 110.

Menurut Sukerna, banyaknya peminat pada Prodi Seni Tari dan Seni Karawitan menunjukkan tetap tingginya minat generasi muda terhadap seni tari dan karawitan. Berbagai kegiatan seni tari maupun gemelan yang digelar di berbagai daerah, misalnya perhelatan menari massal di Solo serta Bali turut menumbuhkan minat pelajar untuk mendalami seni tari dan karawitan di perguruan tinggi.

KOMPAS/ERWIN EDHI PRASETYA–Pelajar SMP dan SD di Solo menarikan tari Jaranan dalam perhelatan “Menari Jaranan 5.000 Penari”di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Senin (29/4/2019). Kegiatan ini digelar dalam rangka merayakan Hari Tari Sedunia 2019.

Sukerna mengatakan, calon mahasiswa yang mendaftar Prodi Seni Tari dan Karawitan sebagian merupakan lulusan SMKN 8 Solo, yang memiliki program keahlian Seni Tari dan Karawitan. Bahkan peminatnya tidak hanya pelajar di dalam negeri, tetapi juga diminati oleh mahasiswa asing untuk belajar di ISI melalui program Darmasiswa, dan beasiswa nongelar dengan masa studi satu tahun dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kepala Pusat Urusan Internasional, ISI Surakarta Wasi Bantolo mengatakan, peserta program Darmasiswa berasal dari berbagai negara. Tahun 2019/2020, ISI Surakarta direncanakan menerima 28 mahasiswa peserta program Darmasiswa, meningkat dari tahun sebelumnya 15 mahasiswa.–ERWIN EDHI PRASETYA

Editor BANU ASTONO

Sumber: Kompas, 14 Juni 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 39 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru