Perpustakaan Perlu Beradaptasi

- Editor

Selasa, 27 Maret 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perpustakaan Nasional Indonesia memiliki kapasitas akses data yang sangat besar. Namun, baru satu persen yang termanfaatkan. Untuk itu, semestinya perpustakaan menyesuaikan diri dan mendekati masyarakat.

Akses warga yang memanfaatkan kapasitas lebar pita (bandwidth) yang tersedia di Perpustakaan Nasional masih rendah. Saat ini, kapasitas pita lebar akses data gedung Perpusnas mencapai 100 gigabyte per detik. Sampai saat ini, rata-rata hanya terpakai 1,3 gigabyte per detik dengan sekitar 1,2 juta akses secara bersamaan.

“Artinya kita masih punya potensi sekitar 98 juta akses secara bersamaan. Kalau peserta didik kita 53 juta, kita masih bisa melayani dua kali lipat itu,” kata Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando dalam Pembukaan Rakornas Bidang Perpustakaan dan Peluncuran Perpustakaan Digital Wakil Presiden di Gedung Perpusnas, Jakarta, Senin (26/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

ARSIP BIRO PERS SETWAPRES–Wakil Presiden Jusuf Kalla meninjau fasilitas yang ada di Perpustakaan Nasional seusai membuka Rakornas Bidang Perpustakaan, Senin (26/3). Ariyo Zidni (kedua dari kiri, membungkuk) adalah salah satu pendongeng yang kerap mengisi kegiatan anak di Perpustakaan Nasional.

Hadir dalam acara tersebut Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Kebudayaan Puan Maharani, Ketua DPD Oesman Sapta Odang, dan Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat.

Dua miliar artikel
Selain memiliki koleksi 3,6 juta karya cetak maupun digital, Perpustakaan Nasional juga berlangganan penyedia jurnal internasional maupun nasional. Dengan demikian, terdapat sekitar dua miliar artikel yang bisa diakses.

“Ini potensi untuk para ilmuwan dan lainnya, tinggal dukungan semua pihak supaya bisa memanfaatkan semua potensi ini dengan baik,” tutur Syarif.

Dengan kapasitas ini, Jusuf Kalla mengingatkan supaya perpustakaan menyesuaikan diri dengan perubahan dan kecepatan teknologi informasi dan komunikasi yang ada. “Kecepatan dan ilmu tidak bisa dipisahkan lagi,” ujarnya.

Kalla mencontohkan, saat ini membeli martabak pun dilakukan dengan menggunakan aplikasi berbasis internet. Perpustakaan juga bisa mendekati masyarakat dengan bekerja sama dengan operator aplikasi, membuka gerai di mal dengan bekerja sama dengan pengusaha, atau membuka perpustakaan keliling di sekitar masjid.

“Perpustakaan harus mendekati lalu lintas orang banyak,” tambah Kalla.

Salah satu pendekatan yang sudah dilakukan adalah perpustakaan keliling. Dalam pembukaan rakornas kemarin pun diserahkan bantuan mobil perpustakaan keliling untuk tujuh kabupaten. Selain itu, ditandatangani pula nota kesepahaman kerja sama pembangunan perpustakaan desa antara Kepala Perpusnas Syarif Bando dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo.

Di sisi lain, lanjut Wapres Kalla, perpustakaan bisa juga menjawab masyarakat yang tak mungkin menjangkau perpustakaan di jam-jam kerja. Untuk itu, perpustakaan bisa beroperasi sampai malam. Di kampus-kampung di luar negeri, umumnya perpustakaan buka sampai pukul 22.00.

Sumber pengetahuan
Perpustakaan, lanjut Kalla, tetap penting sebab buku adalah sumber pengetahuan, selain berbagai data yang bisa diakses melalui internet. Ketika SMP, kata Kalla, dirinya kerap meminjam buku novel seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wick karya HAMKA dan Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Perpustakaan disebutnya sebagai sumber yang murah dan kaya akan beragam buku.

Sampai saat ini, Kalla tetap memanfaatkan perpustakaan. Ketika bertugas mengatasi konflik seperti di Poso, Ambon, maupun di Aceh, Kalla selalu meminta stafnya untuk mencari semua bahan terkait wilayah-wilayah tersebut, bahkan karya sastranya. Dari semua materi yang ada, dia memahami masalah dan akar masalah konflik. Perundingan pun dilakukan dengan dasar pengetahuan.

“Konflik Aceh, Ambon, dan Poso dikira soal agama, padahal soal keadilan ekonomi dan politik. Memang kejadiannya ada masalah agama, tetapi sebab-musababnya keadilan,” tutur Kalla.

Mengingat prioritas pembangunan ke depan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia, Menko Puan menambahkan, perpustakaan perlu mengambil peran yang tepat. Tak hanya menyediakan sumber bacaan dan ilmu pengetahuan, perpustakaan bisa memfasilitasi kegiatan pelatihan keterampilan dan mempercepat diseminasi pengetahuan.

“Gedung Perpusnas sudah sangat megah dengan 24 lantai seluas 57.000 meter persegi dan memiliki 3,6 juta buku, tapi akan lebih bangga kalau banyak anak muda yang mau datang ke tempat ini,” tutur Puan.–NINA SUSILO

Sumber: Kompas, 27 Maret 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru