Home / Berita / Penyintas Covid-19 Mengalami Stigma

Penyintas Covid-19 Mengalami Stigma

Sebagian penyintas Covid-19, termasuk tenaga kesehatan, mengalami stigma dari masyarakat. Kondisi itu mengakibatkan penanganan pandemi penyakit yang disebabkan virus korona baru itu terhambat.

Stigma dialami sebagian penyintas Covid-19 dan keluarga mereka dalam bentuk menjadi buah bibir, dikucilkan hingga diusir dari tempat tinggal dan dberhentikan dari pekerjaan. Tidak hanya berdampak negatif terhadap psikis individu, stigmatisasi ini juga mengambat pemeriksaan spesimen dan pelacakan riwayat kontak.

Survei yang dilakukan Laporcovid19.org bersama peminatan intervensi sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) menemukan, stigmatisasi ini dialami oleh masyarakat beragam profesi, termasuk tenaga kesehatan.

”Survei ditujukan kepada mereka yang pernah dan sedang terpapar atau penyintas Covid-19. Prosesnya dilakukan secara daring dengan melibatkan 279 responden. Setelah pembersihan data, diperoleh jumlah responden akhir 181,” kata pengajar Fakultas Psikologi UI Dicky Pelupessy, mewakili tim penliti dalam diskusi daring, Kamis (27/8/2020).

Mayoritas responden ialah 55,8 persen perempuan dan 56,4 persen berprofesi sebagai tenaga kesehatan. Sebanyak 115 orang atau 63,5 persen di antaranya terkonfirmasi Covid-19.

Dari survei ini ditemukan, 55 persen mengaku digosipkan, 33 persen dijauhi atau mengalami pengucilan, 25 persen dijuluki penyebar atau pembawa virus, dan 10 persen mengalami perundungan di media sosial, 4,4 persen ditolak untuk mendapatkan layanan umum, 4,4 persen dibiarkan tidak menerima bantuan, 3,3 persen diusir dari lingkungan tempat tinggal, dan 0,5 persen diberhentikan dari tempat kerja.

”Stigmatisasi juga dialami oleh keluarga responden. Respons mendapatkan stigma sejak dalam status diduga Covid-19, saat terkonfirmasi, bahkan juga terjadi setelah sembuh,” kata Dicky.

Dalam survei ini juga ditemukan sebagian besar yang paling mendapat stigma berjenis kelamin perempuan. Penyebab stigma, menurut 43 persen responden, ialah masyarakat kurang mendapat informasi atau mendapat informasi yang keliru. Sebagian lain, yaitu 42 persen, beranggapan karena masyarakat takut.

Sebagai dampak dari stigma ini, sebanyak 66,3 persen responden mengalami depresi kategori rendah dan 33,7 persen menderita depresi kategori tinggi. Sebanyak 78,4 persen mengalami gangguan kecemasan kategori rendah dan 21,5 mengalami kecemasan skala tinggi.

Melihat besarnya dampak terhadap individu, Dicky merekomendasikan, pemerintah lebih serius menangani problem stigma. Selain itu, komunikasi kepada publik harus didasarkan pada fakta, informasi akurat, dan tidak membingungkan, terutama terkait penularan Covid-19. ”Koreksi segera rumor, gosip, atau hoaks, sehingga warga mendapat informasi yang benar,” tuturnya.

Sejumlah penyintas Covid-19 mengisahkan pengalaman mereka saat menjalani perawatan dan mengalami stigma. Mariana Kristin, penyintas Covid-19 dari Trenggalek, Jawa Timur, menceritakan, selain menghadapi kecemasan dari penyakinya, dia juga mengalami banyak tekanan dari tetangga.

”Selain saya, anak, dan orangtua juga positif. Kami menjalani isolasi mandiri. Tidak bisa ke mana-mana. Berjemur di belakang rumah saja, begitu ada yang melihat langsung diperingatkan,” ujarnya.

Bahkan, menurut Kristin, keluarganya sempat dipaksa agar diisolasi di tempat lain. ”Untung Pak RT dan RW berjuang membantu kami, dan mereka yang akhirnya membuat kami mendapat dukungan warga lainnya, selain dukungan dari keluarga,” katanya.

Mengganggu penanganan
Koordinator Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Akmal Taher mengapresiasi survei ini karena selama ini pemerintah tidak memiliki cukup data persepsi masyarakat terkait Covid-19. ”Selama ini kita tidak memiliki strategi khsusus mengatasi stigma ini. Awalnya, kami mengira seiring banyaknya kasus akan hilang sendiri. Tetapi, melihat hasil survei ini, saya kira sudah saatnya lebih serius mengatasinya,” ujarnya.

Stigma juga menghambat penanganan Covid-19. ”Dari sisi pasien ini pasti berat. Tetapi, petugas yang melakukan tracing (penelusuran riwayat kontak) juga mengalami stigma,” kata Akmal.

Banyak orang yang takut dengan stigma akhirnya menolak atau bersembunyi saat hendak dites. Hal ini membuat upaya pelacakan dan tes yang menjadi kunci dalam memutus penularan Covid-19 di komunitas menjadi tidak optimal.

Akmal juga mendukung upaya Laporcovid19.org untuk membentuk komunitas penyintas Covid-19 yang saling memberikan dukungan sesama warga. Dukungan ini, menurut Tri Maharani, dokter yang juga penyintas Covid-19, menjadi salah satu kekuatannya untuk pulih dari sakit.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 28 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: