Home / Berita / Memulihkan Psikososial Penyintas Bencana

Memulihkan Psikososial Penyintas Bencana

Seiring kian terpenuhinya kebutuhan dasar, kehidupan sosial penyintas bencana di Sulawesi Tengah perlu segera dipulihkan agar mereka tak mengembangkan trauma dan siap mandiri saat berbagai bantuan selesai.

Bencana gempa, tsunami dan likuefaksi di Palu dan sekitarnya, Sulawesi Tengah, sudah berlalu lebih 10 hari. Proses tanggap darurat dan pencarian korban terus berlangsung. Berbagai kebutuhan dasar penyintas bencana pun mulai tercukupi dan aktivitas ekonomi pun sudah muncul.

Masif dan mendadaknya bencana, hilangnya berbagai kepemilikan, putusnya hubungan sosial, hingga pupusnya harapan akan timbulkan syok atau keterkejutan para penyintas bencana. Mereka jadi mudah cemas, tegang berlebih, mudah tertegun, bingung dan pandangan kosong. Meski terlihat tenang, seringkali itu hanya semu.

“Kecemasan dan stres akut adalah reaksi yang wajar,” kata psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Rahmat Hidayat yang banyak membantu penanganan bencana di Indonesia, Senin (8/10/2018). Apalagi, intensitas bencananya tinggi.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO (KUM) 05-10-2018–Anak-anak korban gempa mengikuti aneka permainan yang digelar sukarelawan Pertamina Peduli di lokasi pengungsian di kawasan Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, Palu, Jumat (5/10/2018). Permainan itu bisa jadi sarana bagi anak-anak penyintas bencana untuk pulih dari syok pascabencana dan tidak mengembangkan gangguan psikologis lebih lanjut, seperti trauma.

Meninggal dan hilangnya anggota keluarga menimbulkan duka dan kehilangan mendalam. Seringkali, situasi itu memunculkan rasa bersalah pada penyintas karena mereka selamat dan tidak bisa menolong keluarga lain. Mereka juga merasa bencana yang dialami adalah mimpi meski sejatinya nyata.

“Situasi itu membuat tubuh penyintas lebih waspada hingga sulit tidur dan mimpi buruk saat tidur,” tambah psikolog di Center for Trauma Recovery Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Kuriake Kharismawan.

Akibatnya, kualitas tidur memburuk. Konsekuensinya, emosinya jadi tidak stabil dan sistem kekebalan tubuh melemah hingga memunculkan berbagai sakit fisik, seperti flu, sakit kepala, sakit punggung, lambung dan sariawan. Penyintas juga bisa mengalami perubahan siklus menstruasi, mudah berkeringat, gangguan pendengaran dan penglihatan hingga nyeri otot.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO (KUM) 04-10-2018–Warga menghabiskan malam di tenda pengungsian Desa Balaroa, Palu Barat, Kota Palu, Kamis (4/10/2018). Tinggal di tenda selama masa tanggap darurat sesudah gempa bukan merupakan trauma, tapi bentuk kewaspadaan mengantisipasi gempa susulan yang masih berpotensi terjadi.

Beberapa penyintas umumnya juga mengalami halusinasi, seperti melihat penampakan anggota keluarga yang sudah meninggal. Sedang penyintas dengan keluarga hilang akan galau karena merasa masih ada harapan terhadap keluarganya. Mereka juga jadi sensitif, gelisah, mudah marah dan protes termasuk ke pemerintah yang menangani bencana.

Stres pascabencana juga bisa berbentuk menghindari daerah atau bangunan terkait bencana. Penyintas juga mengembangkan rangsangan berlebih hingga mudah panik dengan suara keras, getaran pohon, atau soal yang mengingatkan pada gempa dan likuefaksi. Bisa juga khawatir berlebih saat muka air laut naik meski hanya pasang biasa.

“Jika gejala syok itu masih muncul pada dua bulan setelah bencana berlalu, penyintas patut diduga mengalami trauma pascabencana (PTSD),” kata Kuriake. Mereka perlu mendapat bantuan dari tenaga medis atau psikolog. Meski demikian, munculnya PTSD sangat bergantung pada riwayat kesehatan jiwa penyintas dan masifnya bencana.

Meski demikian, berubahnya syok pascabencana menjadi trauma itu bisa dicegah jika psikososial atau kehidupan sosial penyintas bencana dipulihkan sejak awal. “Penyintas bencana perlu dibantu agar berfungsi secara sosial,” kata psikolog kebencanaan dari Fakultas Psikologi UGM Fuad Hamsyah. Upaya psikososial itu akan mempermudah pemulihan dan mencegah masalah psikologis lanjut.

Bencana membuat aktivitas masyarakat berubah. Orangtua yang tiap pagi berangkat bekerja, ibu yang sibuk di dapur, atau anak-anak berangkat sekolah, mendadak semuanya terhenti. Mandeknya rutinitas sosial itulah yang bisa mengubah syok pascabencana menjadi trauma.

Kondisi itu perlu dapat perhatian lebih mengingat Sulawesi Tengah adalah provinsi dengan prevalensi gangguan mental emosional tertinggi di Indonesia, 11,6 persen atau hampir dua kali lipat prevalensi nasional yang sebesar 6 persen (Riset Kesehatan Dasar 2013). Gejala utama gangguan itu adalah depresi dan kecemasan.

Karena itu, dengan makin terpenuhinya kebutuhan dasar penyintas, baik makan, minum, kehangatan, hingga rasa aman, pemerintah perlu mulai menyiapkan pemulihan psikosial penyintas bencana.

Struktur sosial
Tsunami dan likuefaksi di Palu dan sekitarnya tak hanya menghilangkan atau memindahnya sebuah wilayah, namun juga hilangnya struktur dan jejaring sosial. Jika sebelumnya ada masyarakat yang menjadi lurah, ketua rukun tetangga, tokoh adat, tokoh agama atau tokoh masyarakat, tiba-tiba struktur itu hilang. Hubungan tetangga dan sesama warga pun terkoyak.

Situasi itu yang membedakan karakter penyintas bencana di Sulteng dengan penyintas gempa DI Yogyakarta 2006. Meski jumlah korban meninggal gempa Yogyakarta jauh lebih besar, wilayah, struktur sosial dan jejaring masyarakatnya masih ada hingga bisa langsung berfungsi dan mengorganisasikan diri setelah bencana terjadi.

Karena itu, Rahmat menilai struktur sosial yang pernah ada di masyarakat penyintas bencana Sulteng harus direorganisasi ulang. “Itu memang tak mudah, apalagi ada bagian yang hilang. Namun jauh lebih baik dibanding membuat struktur sosial yang benar-benar baru.”

Pengorganisasian ulang itu bisa dilakukan berbasis barak. Pengungsi yang berasal dari rukun tetangga yang sama dikumpulkan bersama sehingga unsur ketetanggaan dipulihkan.

Selama pembangunan dan penataan barak, warga dalam satu struktur dan jejaring sosial bisa dilibatkan. Pelibatan penyintas itu bisa jadi upaya memulihkan psikososial warga, tentu sesuai kondisi mereka. Pemberian imbalan bagi warga yang terlibat perlu dipikirkan karena itu juga akan memulihkan harga dirinya, bukan sekedar sebagai penerima bantuan.

Dalam pembangunan barak nanti, Fuad mengingatkan, perlunya menghargai privasi keluarga. Masalah privasi seringkali terbaikan dengan alasan kedaruratan. Padahal, “Privasi membantu penyintas untuk menstabilkan emosi mereka,” katanya.

Bersamaan dengan itu, kaum ibu bisa direorganisasi mengelola dapur umum bersama. Pelibatan para ibu untuk menentukan jenis, jumlah, dan waktu memasak hingga rasa makanan yang dikehendaki. Tak hanya memulihkan psikososial kaum ibu, rasa makanan yang sesuai selera bisa juga jadi pereda stres penyintas bencana.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO (WAK) 04-10-2018–Syamsul Bahri bersama istrinya, Sri Sugiatun, menyiapkan sarapan di depan tendanya di atas Bukit Lasoani, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis. (4/10/2018).

Sementara itu, sekolah darurat juga perlu dibangun di barak dengan melibatkan guru setempat. Pengembalian psikososial anak ini sering salah kaprah dengan program trauma healing. “Pemberian trauma healing yang tidak tepat justru bisa membuat anak yang sejatinya hanya syok pascabencana justru benar-benar mengalami trauma pascabencana,” kata Fuad.

Untuk membantu pemulihan psikososial penyintas itu, tenaga yang diperlukan adalah Taruna Siaga Bencana (Tagana), pekerja sosial dari Kementerian Sosial, atau petugas dari Badan Nasional Penanggulanan Bencana atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah yang terkait pengorganisasian masyarakat. Sebagian petugas juga dibekali dengan kemampuan konseling hingga mampu membantu syok yang dialami penyintas.

“Dalam fase pemulihan psikososial itu, kehadiran tokoh agama dan adat serta penyelenggaraan kegiatan keagamaan atau adat bisa membantu memulihkan syok yang dialami penyintas,” tambah Kuriake.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Warga korban gempa melaksanakan shalat Jumat di tanah lapang, yang juga menjadi tempat mereka mengungsi di Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/8/2018). Masih seringnya terjadi gempa susulan menyebabkan warga tidak berani tinggal di dalam rumah dan memilih mengungsi ke tempat terbuka.

Pemulihan psikososial penyintas itu bukan hanya untuk mencegah terjadinya trauma pascabencana, namun juga melatih penyintas agar hidup mandiri saat berbagai bantuan itu berhenti. Penanganan bencana gempa dan tsunami Aceh pada 2004 yang kurang melibatkan penyintas harus jadi pelajaran.

Dalam penanganan bencana, selalu ada fase ‘bulan madu’ yang berlangsung beberapa bulan setelah terjadi bencana. Saat itu, penyintas masih kompak, banyak aksi heroik, perhatian masyarakat di luar besar, energi relawan banyak, hingga liputan media massa masif. Namun saat fase itu berakhir, penyintas akan berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka harus mandiri bertahan hidup dan mengembangkan potensinya.

“Penanganan bencana pasti berakhir dan penyintas harus bisa mandiri saat fase ‘bulan madu’ bencana itu berakhir,” kata Fuad. Kemandirian itu hanya akan terwujud jika sejak awal mereka dilatih dan diberdayakan fungsi sosialnya. Kemandirian tidak akan terwujud jika penyintas hanya jadi penonton penanganan bencana dan hanya menunggu menerima bantuan.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 9 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: