Home / Berita / Pengetahuan Lokal Penyelamat Hayat

Pengetahuan Lokal Penyelamat Hayat

Pengetahuan lokal tentang smong terbukti menyelamatkan penduduk Pulau Simeulue saat tsunami terjadi di Samudra Hindia pada 2004. Di Teluk Palu, Sulawesi Tengah, pengetahuan lokal yang tidak terwariskan menyebabkan tingginya korban jiwa dalam bencana pada 28 September lalu.

Tak lama setelah gempa berkekuatan M 9,2 terjadi di bawah Samudra Hindia, Minggu (26/12/2004) pagi, pantai di Pulau Simuelue surut. Orang-orang segera berlari menjauhi pantai ke perbukitan. Mereka meyakini gelombang laut tinggi yang mereka sebut smong segera datang.

Benar saja, tsunami melanda Simeulue. Ribuan rumah hancur, tetapi nyawa mereka selamat. Tak lebih dari tiga orang meninggal di pulau itu. Angka ini jauh lebih kecil daripada sekitar 150.000 warga di pesisir Aceh yang tewas saat bencana tsunami.

Berbeda dengan di Pulau Simeulue, warga di Banda Aceh pesisir Sumatera lainnya justru banyak yang ke laut dan mencari ikan begitu melihat gelombang surut menjauh dari pantai setelah gempa terjadi. Padahal, tsunami sampai ke Banda Aceh 30 menit setelah gempa, lebih lama sekitar 20 menit dibandingkan sampainya gelombang tsunami di Simeulue.

Kisah tentang smong di Pulau Simeulue itu menjadi bukti pentingnya pengetahuan lokal (indigenous knowledge) dalam mitigasi bencana. Penelitian Alfi Rahman dari Tsunami and Disaster Mitigation Research Center Universitas Syiah Kuala dan tim menyebutkan, narasi smong muncul setelah gempa dan tsunami melanda Simeulue pada 4 Januari 1907.

Lebih dari separuh penduduk di pulau seluas 2.051 kilometer persegi ini tewas saat itu. Mereka yang selamat lalu menuturkan tragedi smong 1907 itu dalam berbagai cara, mulai dari nyanyian hingga dongeng menjelang tidur. Selain mengisahkan tragedi, mereka juga mewariskan cara menyelamatkan diri.

”Kisah smong menunjukkan, sumber daya berupa indigenous knowledge bisa jadi perlindungan terhadap ancaman tsunami di masa depan,” kata Alfi dan tim dalam jurnal Disaster Risk Reduction (2018).

Tak hanya di Simeulue, masyarakat tradisional di banyak daerah di Indonesia memiliki istilah dan kisah tentang tsunami. Di Pulau Ambon, misalnya, mereka menyebutnya air turun naik, di Singkil disebut galoro. Bahkan, di Aceh setelah 2004, sejumlah warga mulai mengingat kembali istilah ie beuna yang dulu kerap dikisahkan leluhur mereka tentang banjir besar dari laut.

Sementara warga Kaili di Palu menyebut bombatalu untuk tsunami yang datang hingga tiga kali. Orang Kaili dan Mandar di Donggala menyebutnya lembotalu.

Tak hanya dalam bahasa lokal, beberapa daerah yang secara geologi dipetakan rawan tsunami juga memiliki narasi yang amat mungkin terkait bencana di masa lalu. Contohnya, di Barus, Sumatera Utara, terdapat kisah penghancuran gergasi (raksasa) dari laut, kisah ”hilangnya negeri Elpa Putih”, ”telaga tenggelam”, dan ”bahaya seram” di Pulau Seram. Di Ende, Flores, ada kisah hilangnya negeri Nuaria ke dalam laut. Di selatan Jawa dikenal narasi tentang Ratu Kidul.

Sejarawan Anthony Reid dari Australian National University (2012) meyakini, narasi Ratu Kidul terkait tsunami. Reid mendasarkan hipotesisnya setelah mengkaji tembang dandanggula dari Babad ing Sangkala yang ditulis pada 1738. ”Babad ing Sangkala menguatkan kemungkinan tsunami besar pernah melanda pantai selatan Jawa Tengah (Mataram)”, tulis Reid.

Hasil kajian Kepala Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) Eko Yulianto dan peneliti paleostunami LIPI, Purna S Putra, membuktikan adanya sejumlah endapan tsunami tua atau paleotsunami di sepanjang pantai selatan Jawa.

Pendekatan teknokratik
Berbeda dengan di Pulau Simeulue, narasi-narasi lokal itu rata-rata memudar dan kehilangan daya untuk mitigasi bencana. Apalagi, kebijakan pengurangan risiko bencana didominasi pendekatan teknokratik. Sistem peringatan dini tsunami, misalnya, mengandalkan pemodelan komputer yang dikeluarkan lima menit setelah gempa dengan asumsi sumber ancamannya seperti di Aceh 2004.

Padahal, dalam kasus Teluk Palu, sumber tsunaminya amat dekat dan tiba di pesisir hanya empat menit setelah gempa. Menurut peneliti tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Widjo Kongko, untuk daerah seperti pesisir Teluk Palu, yang harus diajarkan kepada warga adalah segera menjauh dari pesisir begitu gempa kuat. Dalam hal ini, pengetahuan lokal amat penting.

Selain memiliki istilah lokal tsunami, masyarakat Palu punya nama lokal untuk likuefaksi, yaitu nalodo, dan gempa sebagai linu. Mereka bahkan merekam berbagai ancaman bencana di masa lalu dalam bentuk toponimi kampung.

Arkeolog yang juga Wakil Kepala Museum Daerah Sulawesi Tengah, Iksam, mengatakan, area-area terdampak bencana dulu dihindari warga lokal. Contohnya, Perumnas Balaroa yang kena likuefaksi dulu bernama Tagari Lonjo atau terbenam di lumpur pekat. Petobo sampai 1978 masuk Biromaru, artinya adalah rumput di rawa membusuk.

Nyatanya, dalam pembangunan kembali Sulawesi Tengah setelah bencana, pengetahuan lokal ini pun tak mendapat tempat. ”Misalnya, sejumlah korban bencana di Palu direncanakan direlokasi ke Tondo dan Duyu. Padahal, Tondo dulu namanya Kaombona, artinya runtuh, sedangkan Duyu artinya longsor,” kata Iksam.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 29 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: