Home / Artikel / Pendidikan Manusia Vs Kecerdasan Buatan

Pendidikan Manusia Vs Kecerdasan Buatan

Ketika merumuskan tujuan pendidikan untuk melahirkan warga-warga negara yang baik, biasanya kita membahasnya dari sudut tujuannya untuk membekali pelakunya dengan kemampuan mencapai kesejahteraan material secara individual maupun secara kolektif. Namun, tetap saja, bicara pendidikan adalah bicara tentang kajian tentang manusia, bahkan jikapun pendidikan dipahami secara materialistik seperti itu.

Apalagi jika ia dipandang sebagai upaya pengembangan manusia seutuhnya. Namun, bahkan dalam kerangka materialistik seperti itu, tak ada masa yang di dalamnya wacana tentang pendidikan tak terkait erat dengan kajian atau filsafat manusia. Di masa sekarang, yakni ketika banyak di antara potensi atau kemampuan manusia berada dalam tantangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), kajian tentang kemampuan-kemampuan dan daya-daya manusia menjadi kian penting.

Seperti diungkapkan Jack Ma, sebagian besar lapangan pekerjaan manusia akan direbut oleh AI. Bukan saja AI akan bisa menguasai keahlian manusia di berbagai bidang itu, dalam banyak hal AI bahkan akan menunjukkan kinerja yang lebih baik daripada manusia karena kebebasannya dari kelemahan-kelemahan manusiawi, termasuk dalam hal gangguan emosi, bias-bias kognitif, dan kelambatan berpikir. Bahkan, mendiang Stephen Hawking meramalkan akan terjadinya kiamat kemanusiaan dengan dominasi AI di masa yang akan datang.

Untuk merespons hal ini, kita perlu mulai dengan mengkaji batas-batas kemampuan manusia dan batas-batas kemampuan AI. Apakah manusia saat ini sudah mencapai batas akhir kemampuannya? Atau sesungguhnya manusia masih memiliki kemampuan yang jauh lebih besar daripada yang telah tereksplorasi sampai sejauh ini? Atau jangan-jangan masih banyak kemampuan manusia yang begitu luhur sehingga secanggih apa pun perkembangan AI nantinya, tetap saja tak bisa digantikan sepenuhnya olehnya.

Saya ingin mengatakan bahwa kehadiran AI jangan-jangan malah menandai awal dari tercuatkannya kemampuan manusia sesungguhnya, yang jauh lebih dahsyat daripada yang telah ditunjukkannya sejauh ini. Jangan-jangan kemampuan yang telah ditunjukkan ras manusia selama ini bukanlah benar-benar kemampuan manusiawi, melainkan kemampuan hewani dan mesinal. Dengan kata lain, sebaliknya dari akan menjadi kiamat bagi manusia, kehadiran AI justru membuka jalan bagi kelahiran baru ras manusia, kelahiran manusia sejati dalam hal tercuatnya kemampuan-kemampuan luhurnya, yang selama ini belum tereksplorasi. Mari kita lihat.

Meski selama beberapa dekade di masa modern ini mazhab tunggal metode saintifik sudah mendapatkan tantangan dari berbagai mazhab lain dalam bidang pemikiran filsafat sains, ada kecenderungan dunia ilmiah untuk mengandalkan kemampuan manusia pada dua prosedur ilmiah saja: rasional dan empiris. Bahkan, sesungguhnya keduanya adalah dua sisi dari satu mata uang logam yang sama. Prosedur empirik tak pernah bisa dilepaskan dari prosedur rasional. Dan kenyataannya, (hanya) dalam prosedur rasional inilah AI tampil sebagai penantang berat, bahkan boleh jadi tak terkalahkan, bagi manusia.

Baiklah, kita asumsikan bahwa manusia akan kalah dalam hal prosedur rasional ini. Namun, apakah hanya ini andalan manusia dalam hal kemampuannya mencapai tujuan-tujuannya sebagai manusia di Bumi ini? Tidak demikian halnya. Namun, untuk menjawab itu, saya tak hendak masuk ke dalam diskusi spekulatif tentang kemampuan spiritual manusia. Cukuplah saya sudah menyampaikan case saya dengan mengemukakan kemampuan intuitif, imajinatif, dan daya moral manusia sebagai calon keungulannya atas AI. Nah, sebelum ada yang membantah saya dengan menyatakan bahwa pada saatnya AI juga akan memiliki kemampuan intuitif, imajinatif, dan daya moral—yang bahkan bisa melebihi manusia—marilah kita bahas terlebih dulu apa yang saya maksud dengan kemampuan intuitif, imajinatif, dan moral tersebut.

Bukan sumber bencana
Sejak zaman Yunani, bahkan sebelum Plato, intuisi (noesis) dibedakan dari prosedur rasional-logis (dianoia). Aristoteles mendefinisikan (salah satu) aspek (terendah) intuisi ini sebagai kemampuan menghasilkan terma tengah (middle term) dalam silogisme, tanpa perlu menyusun premis mayor dan premis minor. Kita bisa segera mengatakan bahwa AI akan bisa melakukan ini, bahkan dengan lebih baik, karena ini adalah persoalan kecepatan memproses algoritma.

Namun, bukan intuisi itu yang saya maksud, melainkan apa yang biasa disebut pengetahuan a prori atau bersifat swa-bukti (self-evident). Berkenaan dengan ini Aristotle menyatakan, tanpa adanya pengetahuan (terintuisi) ini, akan terjadi infinite regress, karena kita tak akan bisa menyusun premis pertama—jika semua premis harus bisa dibuktikan. CS Lewis menyatakan: ”Jika tidak ada sesuatu yang bersifat swa-bukti, tak ada yang bisa dibuktikan.”

Ini mungkin mirip dengan apa yang oleh Michael Polanyi disebut tacit knowledge. Sebagian ahli menyebutnya sebagai irrational intuition. Mengenai dari mana asalnya pengetahuan jenis ini, hal ini berada di luar pembahasan kita (agama atau spiritualisme akan merujukkannya kepada ilham ketuhanan, ilham spiritual, atau setidaknya ilham dari alam antara, sebagaimana akan disinggung di bawah).

Sekarang soal imajinasi. Yang saya maksud di sini bukanlah khayalan dalam konotasi absennya realitas (kenyataan), apalagi delusi atau halusinasi. Sebagian ahli melihat imajinasi jenis ini sebagai bersifat imajinal, untuk membedakannya dengan yang bersifat imajiner (khayalan nirrealitas). Bukan juga ini imajinasi yang bisa terbentuk oleh pengalaman sehari-hari, sesuatu yang masih akan bisa dilakukan oleh AI, dengan meng-entry ke dalamnya masukan-masukan dari pengalaman dalam suatu algoritma yang canggih.

Namun, yang dimaksud di sini adalah apa yang tak terkait dengan realitas sehari-hari, melainkan terkait dengan alam antara (intermediate world). Maslow menyebutnya transpersonal, sementara Rudolph Steiner—pemikir sekaligus pendidik—menyebutnya ”pengalaman spiritual yang selalu lebih menukik” (ever deeper spiritual experience).

Sebagai contoh dalam sejarah sains adalah peristiwa ditemukannya struktur cincin benzene oleh Kekule (lewat semacam mimpi melihat ular terbang yang menggigit ekornya sendiri), atau ditemukannya hukum Archimedes (yang membayangkan diri sebagai seonggok air), bahkan teori relativitas Einstein (ketika Einstein membayangkan dirinya sebagai foton yang berada di horizon kecepatan-kecepatan).

Terakhir, daya moral. Penetapan beberapa moralitas dasar universal—yang bukan hanya bermanfaat bagi persoalan perumusan nilai-nilai, melainkan sebagai sumber dorongan kehidupan—juga bersifat intuitif-irasional. GJ Warnock menyebutnya ”fakta-fakta moral telanjang” (plain moral facts), sedangkan filsuf Henry Sidgwick menyebutnya ”moral common sense”.

Jika pandangan ini bisa diterima, maka bukan saja kehadiran AI—secanggih apa pun—tak akan menjadi sumber bencana. Selain AI punya manfaatnya sendiri bagi kemanusiaan, diambil alihnya pekerjaan manusia yang hanya menggunakan daya-daya ”rendah”-nya oleh AI justru akan mendorong tercuatkannya daya-daya manusia yang lebih luhur, yakni daya-daya intuitif, imajinatif, dan moralnya. Maka, manusia justru akan bisa meningkatkan kemampuannya dalam memproduksi pengetahuan (knowledge production), memanfaatkan daya-daya luhurnya itu. Jika demikian, kehadiran AI justru membuka ruang bagi lahirnya manusia-manusia sejati, dengan segala kedahsyatannya.

Haidar Bagir Pendiri Compassiate Action Indonesia; Pengajar Filsafat dan Mistisisme Islam di ICAS-Paramadina

Sumber: Kompas, 15 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: