Home / Berita / Penangkapan Lobster dan Kepiting Dibatasi

Penangkapan Lobster dan Kepiting Dibatasi

Penerapan Dibayangi Pengawasan Lemah dan Nelayan Merugi
Kementerian Kelautan dan Perikanan membatasi penangkapan lobster, kepiting, dan rajungan. Bahan sajian makanan laut favorit di warung hingga restoran tersebut dilarang ditangkap dalam kondisi bertelur dan dibatasi ukurannya. Itu demi keberlanjutan stok dan populasinya di alam.


Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penangkapan Lobster (Panulirus spp), Kepiting (Scylla spp), dan Rajungan (Portunus pelagicus spp) ditandatangani Menteri Susi Pudjiastuti tanggal 6 Januari 2015. Peraturan tersebut hanya membolehkan penangkapan lobster panjang karapas di atas 8 sentimeter, kepiting lebar karapas di atas 15 sentimeter, dan rajungan lebar karapas di atas 10 sentimeter.

”Tekanan pada jenis-jenis ini terus meningkat. Harus dijaga sebelum terlambat,” kata Gellwynn Jusuf, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Senin (19/1), di Jakarta, saat mengumumkan penerbitan peraturan menteri itu. Ia didampingi Kepala Badan Litbang KKP Ahmad Poernomo; Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Narmoko Prasmadji; dan Direktur Kawasan Konservasi dan Jenis Ikan Agus Dermawan.

Poernomo mengatakan, kecenderungan di sejumlah daerah, ukuran hasil tangkap ketiga spesies itu dari alam kian menurun. Individu yang ditangkap masih berusia remaja atau muda.

[media-credit id=1 align=”alignleft” width=”300″]92e981dd7bda4623a331147a91d57db2[/media-credit]

Penangkapan biota laut dalam usia remaja tak memberi kesempatan spesies berkembang biak. Jika dibiarkan, akan mengancam keberlanjutan stoknya di alam.

Lobster matang gonad (usia reproduksi) umur 7-8 bulan dengan masa hidup 8 tahun. Kepiting matang gonad 6 bulan bermasa hidup 2-3 tahun, sedangkan rajungan matang gonad 3-4 bulan bermasa hidup 2-3 tahun.

Penangkapan berlebih
Berdasarkan peta sumber daya ikan, Poernomo menunjukkan penangkapan lobster telah berlebih di Laut Hindia barat, Laut Natuna, Laut Tiongkok Selatan, Laut Pasifik (utara Papua), Laut Arafura, Laut Jawa, dan Laut Hindia bagian timur. ”Di tempat lain masih memungkinkan, tetapi demi kehati-hatian, kami samakan posisinya (penangkapan dibatasi),” katanya.

Implementasi peraturan menteri itu memang tak mudah. Namun, harus dimulai. Saat konferensi pers, KKP pun belum menentukan solusi bagi hasil tangkapan yang telanjur menyalahi peraturan menteri.

Direktur Sumber Daya Ikan KKP Toni Ruchimat memaparkan, potensi lobster 7.790 ton per tahun. Penangkapan tahun 2013 mencapai 16.709 ton per tahun. ”Artinya ’tabungan ikan’ sudah diambil,” katanya.

Untuk kepiting, ditangkap 33.227 ton per tahun. Produksinya turun 2 persen, potensi belum diketahui. Adapun produksi rajungan 52.399 ton per tahun.

Menurut Agus Dermawan, ketiga spesies itu tak masuk kategori satwa endemik terancam punah. Namun, keberlanjutan di alam kian tertekan. Untuk itu, pengelolaannya butuh pendekatan pengaturan penangkapan.

Secara terpisah, Ketua Persatuan Nelayan Kecil Kota Tarakan, Rustan, menyambut baik kebijakan KKP menjaga keberlangsungan sumber daya ikan. Namun, regulasi disusun tertutup, tak ada masukan dari nelayan.

Pembatasan ukuran tak mungkin dilakukan. ”Potensi kelautan sekarang beda, ukurannya kecil-kecil. Jika ukuran dibatasi, kami mau kerja apa?” katanya.

Ia khawatir, pengawasan lemah membuat pemberlakuan kebijakan tak merata dan menimbulkan kecemburuan di antara nelayan. (ICH/NAD)

Sumber: Kompas, 19 Januari 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: